Jurnal Pemikiran Sosial Ekonomi

Dongeng Pipit

Sapardi Joko Darmono

Hanya ada satu aksara yang membedakan berita dari cerita, yakni “b” dan “c” di awal kata. Entah kenapa kemudian kita memastikan bahwa berita itu fakta dan cerita fiksi. Dalam kenyataannya, keduanya sama saja seperti apa yang kita baca di media cetak dan yang kita baca dalam buku yang kita baptis menjadi karya sastra. Segala sesuatu yang kita tulis adalah dongeng, dan sebenarnya yang kita lisankan termasuk kategori yang sama. Kalau ada suatu peristiwa yang kita anggap fakta, yang kemudian ditulis oleh be­berapa orang yang berbeda dalam media yang berbeda, tulisannya tentu berbeda-beda pula. Semua itu fiksi adanya.

Untuk menjelaskan konsep itu kita hanya memiliki istilah dongeng dalam bahasa Jawa dan Indonesia, istilah-istilah seperti mitos, legenda, folklor, dan sebagainya adalah dongeng belaka. Kita tahu, dongeng tidak memilah-milah fakta dan fiksi—dua konsep yang sebelumnya tidak kita kenal. Kitab-kitab klasik di negeri kita ini sama sekali tidak mengikuti konsep yang me­milah-milah itu. Dalam kitab-kitab klasik seperti babad, sureq, dan tambo konsep pemilahan itu sama sekali tidak ada. Dalam Babad Tanah Jawi, misalnya, apa yang biasanya kita anggap sebagai fiksi dan fakta diaduk begitu saja, dan hasilnya adalah sebuah dongeng panjang yang mencakup cerita dan tokoh wayang, Jaka Tarub, dan perang antara bangsa-bangsa Belanda, Jawa, dan Cina. Itulah babad: sebuah wahana yang mewadahi segala macam teks lain yang konon ada kaitannya dengan sejarah dan sama sekali merupakan hasil angan-angan pengarang. Se­gala rupa teks itu berkerumun dalam teks baru yang boleh saja kita sebut interteks. Kerumunan teks itu sodok-menyodok dan tindih-menindih untuk menciptakan makna.

Dalam dua buku yang ditulis oleh Pipit Rochijat Kartawidjaja ini, saya menemukan do­ngeng tentang negeri kita yang sama me­narik­nya dengan Babad Tanah Jawi, Sureq I La Galigo, dan Tambo Minangkabau. Yang menjadi pegangan utama dua buku itu adalah Maha­bharata, tetapi tokoh dan alur dalam kitab klasik India itu dipelintir sedemikan rupa agar sesuai dengan keadaan negeri kita masa kini. Selan­jutnya, kedua kitab yang sudah kita pelintir sebelumnya dalam berbagai wahana seperti wayang kulit, komik, dan novel oleh Pipit diaduk-aduk lagi menjadi tulisan-tulisan ringkas yang boleh saja kita sebut esai—konsep yang ber­mula dari kebudayaan Perancis, essai. Esai adalah tanggapan terhadap segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita, di masa kini atau sebe­lumnya. Oleh Pipit, tokoh wayang yang diplin­tirnya itu ditata lagi dalam teks-teks lain yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan Maha­bharata. Wuku, shio, dan zodiak dimanfaatkan­nya untuk memasukkan teks-teks wayang itu lebih dalam lagi ke masa kini. Membaca tulisan Pipit saya merasa seperti masuk ke sekaten di Solo, perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau yang dikenal sebagai Maulid Nabi. Dalam upacara atau perayaan itu kita menda­pat­kan kerumunan berbagai jenis benda, mainan, suara, tingkah laku, dan tontonan yang sodok-menyodok untuk menciptakan suasana dan makna—meskipun konon sekaten mula-mula erat kaitannya dengan penyebaran agama Islam di Solo. Pengetahuan dan pengalaman kita dituntut agar bisa dengan baik masuk ke dalam perayaaan itu.

Itu yang kira-kira terjadi ketika saya mem­baca dua kumpulan esai Pipit. Dia menciptakan kelir masa kini untuk boneka-boneka wayangnya agar bisa dimainkan. Dalam Wayang Sableng kelir berupa situasi dan suasana masa Orde Baru, sedangkan dalam Kolom Sableng kelir itu berupa situasi politik setelah Orde Baru. Tidak hanya tokoh dan alur yang berbenturan tetapi juga konsep yang sama sekali tidak ada kait-mengaitnya dengan tokoh dan alur wayang yang dimanfaatkannya. De­ngan cerdik Pipit menyusupkan dunia wayang ke dunia yang kita huni sekarang ini—atau sebaliknya boleh saja: memasukkan dunia nyata kita ini ke dunia wayang. Hasilnya adalah dongeng yang diracik sedemikian rupa supaya enak dibaca. Perlu juga ditambahkan: pembaca harus memiliki kha­zanah acuan yang luas yang berasal dari ber­bagai sumber.

Buru-buru saya kutip saja beberapa kalimat berikut ini, dari “SBY dan Anas Urbaningrum” dalam Kolom Sableng: Wuku, Shio, Zodiak dalam Politik Indonesia (halaman 209).

 

Anas Urbaningrum, kelahiran 15/07/1969, Se­lasa Wage, berwuku Galungan, berwatak ogah nganggur. Maka didirikanlah Perhim­punan Pergerakan (PPI) sehabis digantung oleh Mo­nas (Monsignore Cikeas). Kala itu, Sang Monsignore, kelahiran 09/09/1949, Jumat Kliwon, terkesankan sebagai monster, gara-gara pelindungnya, Bethari Durga yang sangat menakutkan itu, terterawang mengendalikan­nya. Bahkan perseruan antara PPI dan Demo­krat tak terhindarkan, bak kerajaan Lodaya dengan kerajaan Wengker.

 

Tidak perlu dijelaskan kerumitan acuan, yakni teks-teks, dalam kutipan itu. Anas, Wage, Galungan, Monsignore, monster, Bethari Dur­ga, Lodaya. Semua itu menghasilkan se­buah inter­teks (atau Teks) yang merupakan arena tempat semua teks dalam kutipan itu sodok-menyodok untuk menyampaikan pesan atau amanat penu­lis. Dalam bahasa Jawa ada istilah glenyengan, ucapan yang main-main, lucu, dan seenaknya—yang bisa juga cerdas. Meng­hadapi glenyengan, kita biasanya tidak marah, meskipun jelas dile­dek, tetapi malah merasa menghadapi ucapan yang menggeli­kan. Na­mun, glenyengan juga bisa dianggap sebagai omongan ngawur—dan dalam tradisi keba­hasaan itu keduanya dianggap enteng saja.

Tidak diperlukan contoh dari buku yang lain, keduanya menggunakan strategi dan akal-akalan yang sama dalam menyampaikan dan sekaligus menilai masalah. Pipit melihat de­ngan cermat apa saja yang terjadi di sekitarnya selama zaman Orde Baru dan sesudahnya, dan kemudian meracik sejumlah tulisan yang akal-akalannya (istilah seriusnya: literary devices) menyebabkan saya menilainya sama dengan yang biasa dikategorikan sebagai karya sastra. Tulisan Pipit ini bisa disebut sebagai esai, jenis tulisan yang di beberapa negara “maju”, seperti Inggris, dianggap sebagai bagian sah dari kesu­sas­traan. Genre ini tidak baru, tentu saja, tetapi karya Pipit perlu dicatat karena kayanya acuan atau teks yang dimainkannya. Barangkali saja tokoh yang disebut-sebut, dihina, atau dile­deknya juga tidak marah, tetapi malah me­ngangg­ap Pipit juru hibur yang memiliki po­tensi mengendurkan kete­gangan politik yang terjadi di negeri ini. Siapa tahu. Dan akal-akalannya itu­lah yang menye­babkan tulisan Pipit bergeser labelnya dari berita menjadi cerita: berita cepat basi, cerita bisa me­lam­paui waktu dan tempat. Kita tidak mau membeli koran kemarin karena sudah basi, teta­pi meng­hayati tulisan Ronggowarsito yang diracik ratusan tahun lampau.

Masih ada satu hal lagi yang perlu disebut berkaitan dengan kedua buku Pipit, yakni ba­nyaknya gambar atau lukisan yang hampir se­mua berdasarkan tokoh-tokoh wayang. Ada tulisan, ada gambar—keduanya disandingkan seperti buku pelajaran sekolah yang ada sejak entah kapan. Maksud yang melandasi buku pelajaran yang ada gambarnya itu adalah untuk men­jelaskan konsep atau benda atau cerita yang disampaikan lewat kata-kata. Nah, tetapi apa pula fungsi gambar-gambar yang tidak jarang mengganggu pembacaan kita itu tersebar di hampir tiap halaman? Aksara itu pada haki­katnya juga gambar, tetapi kalau ada gambar beneran yang menyertainya muncul masalah baru. Apabila ada dua hal atau species yang berbeda asal-usulnya disatukan, bisa saja ta­naman atau karangan jenis baru yang disebut hibrida. Saya anggap buku ini memuat tulisan hibrida, menyatukan gambar dan aksara. Jadi, kita boleh memilih tafsir: gambarnya menjelas­kan aksara, atau sebaliknya. Saya sendiri me­milih tafsir begini, seandainya gambar-gambar itu dihapus karena sering menghambat pem­bacaan, aksara-aksara yang membentuk kata sudah cukup untuk menjadikan buku ini kum­pulan tulisan glenyengan. Berbagai hal yang kalau muncul di media massa disebut berita, dalam buku ini menjelma oleh Pipit ditata menjadi cerita. Namun, lagi-lagi namun, tanpa gambar kedua buku ini tidak bisa disebut kumpulan karya hibrida, cukup sebagai karya sastra saja•