Jurnal Pemikiran Sosial Ekonomi

Setelah Van Gogh: Akar Kemarahan Anti-Muslim*

Martin van Bruinessen

“Agama sipil” mengisi celah yang ditinggalkan sistem “sokoguru” di Negeri Belanda. Islam memainkan peran dalam konsep kebangsaan yang menjadi objek kultus ini; tiga orang (Fortuyn, Hazes, Van Gogh) dikultuskan dengan penuh emosi, bermakna, dan terpadu. Ketiga “santo” tersebut berhasil melampaui batasan kelas dan (sub)budaya dengan membebaskan emosi bersama. Pergeseran dari kelas (pekerja tamu) atau ras (kulit hitam, orang Turki) menjadi budaya (muslim) membuat xenofobia diterima secara sosial oleh segmen kelas menengah yang semula menolak godaan rasisme. Pergeseran ini memungkinkan koalisi lebih luas di antara pemuja kebangsaan dan budaya Belanda sekaligus memunculkan integrasi muslim sebagai sebuah persoalan besar.

 

Kata Kunci : None