Jurnal Pemikiran Sosial Ekonomi

Andi Alifian Mallarangeng: Ciptakan Zona Partisipasi untuk Semua

Andi Alifian Mallarangeng

 

Ketika seseorang mengingat tentang gerakan pemuda hampir dapat dipastikan perhatiannya tertuju pada semua rentetan peristiwa menuju atau sejak 28 Oktober 1928. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun agaknya kurang lengkap bila gerakan pemuda semata-mata difokuskan pada sumpah pemuda. Semua tahu bahwa bukan itu awal dari semua gerakan yang diprakarsai pemuda. Orang akan menyebut Boedi Oetomo yang berdiri pada 1908 sebagai cikal bakal dari semua gerakan pemuda. Namun, sebagian kalangan menyebut gerakan ini bersifat etnis atau dalam kosa-kata umum disebut ethno-nationalism. Serikat Islam berdiri pada 1912, namun warna agama terasa sangat kental. Begitu pula masa ketika Indische Partij dibentuk oleh Douwes Dekker dan kawan-kawan pada 1911, yang berjalan lintas-suku, lintasagama, dan lintas-rasial. Akan tetapi, kehadiran tokoh-tokoh Belanda selalu menjadi ganjalan untuk menyebutnya sebagai sebuah gerakan nasional (pemuda).

Namun demikian, gerakan etnonasionalisme sesudahnya sungguh menjadi dasar menuju suatu kesatuan ke depan. Tanpa itu sulit membayangkan adanya gerak besar nasionalis. Dalam hubungan itu, dua kongres pemuda, terutama Kongres Pemuda tahun 1926, menyatukan yang etnik menjadi nasional. Kongres pemuda pertama tahun 1926 dan kongres pemuda kedua tahun 1928 memberikan dasar bagi kualitas, format, cita-cita, dan organisasi bukan saja pemuda, tetapi juga bangsa Indonesia secara keseluruhan. Pada 2011, Indonesia merayakan ulang tahun ke-85 gerakan pemuda, sebuah dimensi baru yang diharapkan bisa dibuka dengan mengangkat kembali sesuatu yang terjadi pada 1926: mengapa tahun itu penting, dan mengapa tahun itu tidak pernah menjadi perhatian masyarakat politik Indonesia. Ketika kenangan tahun 1926 disanding dengan persoalan abad ke-21, apa yang muncul menjadi soal modern abad ini?

Salah satu upaya untuk mengangkat kembali peristiwa historik tersebut adalah dengan menerbitkan nomor khusus Prisma dengan mengambil berbagai dimensi gerakan pemuda Indonesia. Untuk kepentingan itu, Prisma mengadakan wawancara dengan orang pertama yang mengurus soal dan masa depan kaum muda di Indonesia, Andi Alifian Mallarangeng. Berikut petikan dialog Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia itu dengan Daniel Dhakidae dan Suhardi Suryadi di ruang kerjanya.

Prisma: Bagaimana pandangan Anda tentang semangat luar biasa pada 1926 atau 1928 bagi pemuda Indonesia menyongsong abad ke-21 yang bukan sekadar kilas balik, tetapi bagaimana menempatkan pemuda Indonesia dengan semangat yang sama menuju masa depan?

Andi Alifian Mallarangeng: Terkadang kita sebagai bangsa hanya melihat puncak suatu peristiwa saja. Pada tahun 1928, misalnya, di situ ada titik kulminasi tertentu dalam puncaknya. Dulu kita bicara soal kebudayaan dan sering mengatakan puncak-puncak kebudayaan daerah. Kita selalu melihat urusan puncak, tetapi tidak melihat ada proses yang barangkali juga menyejarah sebelum puncak-puncak itu tercapai. Gambar itu menjadi tidak lengkap bila kita hanya melihat puncaknya saja. Kita memang perlu memandang ke belakang sekaligus harus melihat ke depan. Sambil berefleksi ke belakang kita juga perlu melihat apa dan bagaimana proyeksi kepemudaan Indonesia di masa depan. Kita tidak bisa terlalu banyak bernostalgia dengan hanya melihat sejarah Indonesia dan terpaku pada puncak kesejarahan dan masa-masa keemasan zaman dulu saja, tetapi tidak berpikir apa yang harus dilakukan ke depan.

Kalau bicara soal kegiatan kepemudaan, mari kita lihat pemuda ke depan bukan hanya ke belakang; kita bisa lebih siap dan mempersiapkan diri ke depan. Bagi saya, anak muda atau pemuda Indonesia harus berpikir bagaimana menempatkan diri di masa depan Indonesia dan dunia yang sudah mengglobal. Dalam konteks masyarakat dunia, ASEAN Community telah disepakati akan dimulai pada tahun 2015. Saya selalu mengingatkan pemuda Indonesia agar benar-benar menyiapkan diri memasuki ASEAN Community. Artinya, saat ASEAN Community dimulai pada 2015, ada berbagai macam aturan yang memudahkan arus pertukaran barang, jasa, dan manusia. Arus globalisasi ini sudah menjadi kesepakatan bersama. Mungkin tidak akan seperti European Community, apalagi sampai menghasilkan mata uang tunggal. Namun yang jelas di situ ada semacam proses integrasi kewilayahan di ASEAN sejalan dengan tuntutan globalisasi.

Kita harus mulai mempersiapkan orang muda, bukan untuk mengelu-elukan atau menolak kedatangan globalisasi. Kita justru harus siap menghadapi globalisasi dan memenangkannya. Bersungut-sungut tentu tidak akan banyak membantu. Sama seperti datangnya musim dingin di Amerika, tidak ada gunanya bersungutsungut, winter is coming. Hal yang harus dipersiapkan dan dilakukan adalah bagaimana menghadapi winter yang akan datang; bagaimana menjadi pemenang dari datangnya globalisasi. Pada tahun 2015 itu anak-anak muda Indonesia tidak hanya berkompetisi dengan 240 juta anak Indonesia saja, tetapi juga dengan 500 juta anak muda di kawasan Asia Tenggara. Pergerakan jasa, barang, dan manusia, semakin mudah akibat kemajuan di bidang teknologi. Saya membayangkan, dokter asal Indonesia bisa bekerja di Malaysia atau orang Malaysia bekerja di Singapura, orang Filipina bekerja di Indonesia. Lapangan kerja, tempat tinggal, dan kebangsaan, tidak terlalu ketat dibatasi oleh tapal batas suatu negara. Orang Indonesia, misalnya, bekerja dan tinggal di Singapura, tetapi paspornya tetap Indonesia. Ini merupakan tantangan ke depan yang harus mulai dipikirkan oleh generasi di bawah kita.

Sejarah keluarga saya dapat diambil sebagai contoh proses alamiah kebangsaan Indonesia. Kakek saya berasal dari Kerajaan Bone. Dia pergi mencari ilmu dan bersekolah di Makassar untuk menjadi ambtenaar. Bagi dia, ke Makassar itu sama dengan merantau karena sudah melintas tapal batas kerajaan. Kota Makassar itu berada di Kerajaan Gowa. Generasi berikutnya bapak saya. Dia pergi kuliah ke Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dengan menumpang kapal laut. Bagi dia, berangkat dan sekolah di Yogyakarta pada tahun 1950-an itu sama dengan pergi ke negeri orang. Saya sendiri kuliah di Universitas Gadjah Mada dan kemudian melanjutkan studi di Amerika. Waktu ke Yogyakarta, saya tidak menganggap pergi merantau. Istri saya orang Yogyakarta. Kota Yogyakarta sudah seperti rumah sendiri. Sekarang, kalau orang Bone pergi ke Makassar sudah bukan lagi merantau. Begitu pula jarak dari Makassar ke Yogyakarta yang bisa ditempuh selama satu jam dengan menumpang pesawat terbang.

Jadi, ada semacam proses. Kita yang sekarang tinggal di Jakarta atau Makassar tidak lagi merasa pergi merantau. Kelak, generasi berikutnya yang mencari ilmu, bekerja, dan menetap di Singapura atau Malaysia akan menganggap diri bukan merantau. Konsep merantau sudah berubah karena pemikiran kita tentang rumah, milieu (lingkungan), geographical milieu, social milieu kita juga telah berubah. Inilah salah satu tantangan orang muda Indonesia di masa depan. Bagi saya, ASEAN telah menjadi rumah kita. Saya orang Makassar, tetapi punya “rumah” di Bone, Makassar, Yogyakarta, Jakarta, dan lain-lain. Namun generasi berikutnya mungkin akan merasa ASEAN adalah rumah mereka. Bagaimana dengan keberadaan orang muda Indonesia di ASEAN Community? Selain dapat “mewarnai”, kita juga harus bisa memenangi kompetisi di tingkat Asia Tenggara melawan 500 juta orang muda ASEAN. Karena itu, misalnya, saingan mahasiswa Universitas Indonesia bukan lagi mahasiswa Universitas Gadjah Mada, tetapi Universiti Kebangsaan Malaysia, University of the Philippines, Nanyang Technological University, dan lain-lain. Mereka harus bersaing dengan mahasiswa universitas-universitas itu.

Prisma: Untuk sampai ke sana diperlukan beberapa persyaratan antara lain bahasa, keterampilan, dan pengetahuan. Bagaimana kita mempersiapkan kemampuan itu?

AAM: Menurut saya, anak-anak Indonesia sekarang setidaknya harus menguasai tiga bahasa. Pertama, bahasa nasional dan bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Ini sebuah keharusan agar identitas nasional kita tetap terjaga di mana pun dia tinggal, bekerja, dan sebagainya. Kedua, harus menguasai setidaknya satu bahasa internasional seperti bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Arab, Mandarin, Spanyol, Portugal, dan lain-lain. Ketiga, anak Indonesia juga harus bisa berbahasa daerah, supaya dia tidak kehilangan akar kedaerahan. Saya melihat bahasa nasional Indonesia semakin kuat. Sementara yang perlu diperkuat adalah penguasaan bahasa asing. Kita akan sulit berkompetisi bila tidak memiliki bekal kemampuan bahasa asing yang memadai. Belakangan ini banyak penutur bahasa daerah beralih menjadi penutur bahasa nasional atau bahasa asing. Menurut saya, bahasa daerah sebaiknya perlu diperkuat agar kita tidak kehilangan akar-akar budaya ketika kita memasuki dunia yang semakin mengglobal. Orang Melayu punya pepatah “Tak Melayu Hilang di Dunia”, yang berarti orang-orang Melayu bisa keliling dunia tetapi tidak kehilangan identitas. Bila pepatah itu diganti dengan kata “Indonesia”, maka orang Indonesia bisa berlanglang buana tanpa harus kehilangan identitas.

Tentu saja, selain penguasaan dan keterampilan berbahasa, kita juga harus mempersiapkan dan menyelesaikan semua pekerjaan rumah kita dalam konteks kebangsaan. Karena itu, konflik komunal, konflik horizontal, radikalisme agama, diskriminasi, dan semua persoalan yang selama ini menjauh dari Pancasila, harus diselesaikan lebih dahulu sebelum kita keluar mengglobal. Kita memang harus bekerja keras menyelesaikan semua persoalan itu agar kita tidak kehilangan kesatuan kebangsaan ketika bersaing di tingkat global. Kementerian Pemuda dan Olahraga sendiri memiliki banyak program terkait dengan ketahanan nasional, empat pilar kebangsaan, Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika. Kami juga menjalin kerja sama dengan beberapa organisasi kepemudaan untuk menangkal radikalisme yang mencoba masuk di kalangan anak muda atau kampus. Kita pun membuat zona atau ruang-ruang terbuka publik dengan mendorong pemerintah daerah untuk membangun sejumlah fasilitas tempat orang bermain seperti lapangan olahraga. Hal ini sangat penting. Contohnya Makassar. Hampir setiap kelurahan di kota itu memiliki lapangan atau tanah kosong tempat anak-anak muda dari pelbagai lorong, jalan, kampung dapat bertemu, bermain, berolahraga, dan segala macam aktivitas. Kita saling berkenalan dan main sepak bola bersama. Begitu lapangan sepak bola berubah menjadi gedung, mal, ruko, atau perkantoran, tidak ada lagi ruang terbuka. Begitu ruang terbuka tidak ada, anakmuda di kampung A atau di lorong B hanya bisa berkumpul di kampung dan lorong masingmasing. Mereka tidak bisa mengenali lagi anak-anak dari kampung atau lorong lain. “Primata” ini hanya mengenal teritorial saja. Gang, lorong, jalan, atau kampungnya itu adalah teritorinya. Setiap orang yang melintasi teritori mereka harus minta izin. Ini yang menimbulkan gesekan. Belum lagi kalau mereka tidak pernah bertemu dan bermain bersama.

Kita harus mulai menuangkan gagasangagasan besar itu menjadi hal sederhana yang langsung bisa dilaksanakan, seperti membuka sebanyak mungkin ruang-ruang terbuka publik. Idealnya, ruang terbuka publik 30 persen dari luas wilayah kota. Namun, gagasan seperti itu mungkin terlalu jauh. Hal penting sekarang ini adalah kita akan terus mendorong pihak-pihak yang mau membuka ruang terbuka publik itu. Kami mencoba membangun sebanyak mungkin gelanggang-gelanggang pemuda (youth center) tempat beraktivitas pemuda di kota-kota. Harapan saya, upaya itu bisa diikuti oleh berbagai pemerintah daerah, setidaknya di kota-kota provinsi atau kota besar lain. Bang Ali Sadikin dulu pernah membangun sejumlah youth center di DKI Jakarta, seperti di Bulungan, Rawamangun, dan Senen, termasuk sarana olahraga, teater, sanggar, dan segala macam pusat kegiatan anak muda pada zamannya. Sayangnya, tidak ada satu pun pemerintah daerah yang mengikuti jejak Bang Ali. Gelanggang-gelanggang remaja yang dibangun Bang Ali adalah yang pertama dan terakhir. Padahal, kebutuhan akan tempat beraktivitas kaum muda semakin mendesak karena hampir semua ruang terbuka publik yang ada telah berubah bentuk. Sudah saatnya kita mendorong pemerintah-pemerintah daerah untuk juga membangun gelangganggelanggang remaja seperti yang pernah dibangun Bang Ali itu.

Kami coba memelopori supaya bisa menjadi contoh dalam konteks modern, seperti adanya sarana olahraga, sarana kebudayaan, juga sarana teknologi informasi (IT) yang memang sangat penting. Kita harus memikirkan bagaimana mengintegrasikan anak-anak muda yang gemar dengan IT. Ada satu jenis orang muda yang memang luar biasa cepat memahami atau mengikuti proses teknologi baru internet dan social media. Kita mendukung peran social media dan demokrasi. Social media memang bagus dan penting. Anak-anak muda dapat mengekspresikan diri secara bebas dengan sarana komunikasi itu. Tidak perlu ada regulasi dari pemerintah. Mereka bisa berekspresi dengan gaya sendiri. Persoalannya, mereka yang sangat intens bergelut di social media terkadang menjadi sangat sosial di dunia maya, tetapi cenderung asosial di dunia nyata. Mereka bisa duduk sekian jam di depan komputer bercakap dengan ribuan teman yang tersebar di seluruh dunia, tetapi dia tidak kenal orang di sekelilingnya. Dia jarang atau bahkan tidak mau bergaul dengan teman di sekolah, tetapi memiliki banyak teman di dunia maya yang menjadi satusatunya tempat untuk berinteraksi. Menurut saya, dan ini dapat diperdebatkan, interaksi di dunia virtual saja tidak cukup. Ini harus juga diikuti dengan interaksi tatap-muka. Social media tidak bisa menggantikan interaksi tatap-muka. Kalaupun dia punya gagasan-gagasan besar di dunia maya, harus ditindaklanjuti di dunia nyata.

Prisma: Anda telah menyebut tiga tantangan: bahasa, masalah dalam negeri, dan IT. Kembali ke soal bahasa. Ini sangat menarik karena reformasi pada dasarnya membawa kembali semua persoalan ke daerah dalam suasana global, otonomi daerah. Bahasa daerah mulai dikembangkan, namun yang terjadi adalah situasi konflik bagaimana menyelesaikan dari segi bahasa. Gejala yang terjadi di berbagai sekolah adalah bahasa asing, terutama Inggris, lebih diutamakan daripada bahasa Indonesia. Hal demikian tidak membahayakan tetapi merepotkan…

AAM: Saya melihatnya dalam konteks ideal. Bayangan saya, orang-orang muda Indonesia kelak akan menguasai bahasa Indonesia, bahasa Inggris (mungkin juga bahasa Mandarin), dan bahasa daerah. Sebagai manusia Indonesia kita pasti akan selalu terlibat dengan tiga komunitas. Ada komunitas bersifat keluarga, primordial, orang sekampung, tempat kita berbahasa daerah. Kita juga akan berjumpa dengan komunitas berbagai suku bangsa, misalnya, dalam forum-forum resmi atau sekolah. Di situ kita menggunakan bahasa nasional. Kita juga masuk dalam komunitas global seperti ASEAN yang menuntut kita berbahasa internasional.

Hal yang menarik adalah ketika kita menggunakan sekaligus ketiga bahasa dalam ruang dan waktu bersamaan. Misalnya, kita sedang mengadakan rapat dengan menggunakan bahasa Indonesia. Mendadak seorang teman menelepon dari Singapura. Saya perlu minta maaf karena saya berbicara dalam bahasa Inggris. Tiba-tiba pula muncul istri atau seorang kerabat, dan saya menyapa mereka dengan bahasa Jawa. Ini menjadi sesuatu interchangeable. Bahasa nasional tetap sebagai inti, namun di sisi lain kita tidak ingin kehilangan akar dan kehilangan akses ke dunia internasional. Pertanyaannya bagaimana menuju ketiga tipe ideal itu. Saya tidak melihatnya sebagai benturan antara lokalitas dan globalitas, karena bagi saya semua itu saling mengisi. Ketika zaman orde baru, semua bersifat sentralistik. Ketika zaman reformasi, semua lokalitas mendapat tempat dengan adanya otonomi daerah. Kita juga mengharapkan bahasa daerah bisa semakin menguat. Dulu hampir tidak ada koran daerah yang bisa muncul sedangkan sekarang sudah muncul di berbagai daerah.

Memang ada persoalan di kota-kota besar seperti Jakarta ketika arus globalisasi memasuki negeri ini. Bagi keluarga yang telah menyiapkan anak-anaknya dengan bekal bahasa asing, terutama Inggris, mungkin isu globalisasi tidak menjadi persoalan serius. Berbeda dengan keluarga yang menyekolahkan anak-anaknya di sekolah dengan bahasa pengantar bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Bahasa Indonesia, apalagi bahasa daerah, perlahanlahan “ditelantarkan” demi menyambut arus globalisasi. Bahkan, anak-anak yang telah lama tinggal dan menetap di Jakarta semakin sulit diajak berbicara dengan bahasa daerah orang tua mereka. Mereka mungkin memahami bahasa daerah masing-masing, tetapi semakin sulit mengutarakannya secara lisan, karena komunitasnya memang tidak mendukung. Ini adalah tantangan. Karena itu, kita perlu bicara dengan ahli bahasa atau ahli kebudayaan.

Prisma: Pada zaman penjajahan Belanda, mereka yang bisa dan mampu berbahasa Belanda biasanya memperoleh kedudukan tinggi dan berpangkat. Apakah bahasa Inggris sekarang ini juga bisa menjadi penentu posisi sosial seseorang?

AAM: Menurut saya ada situasi yang berbeda karena kehadiran internet. Seperti tesisnya Thomas Freidman, internet membuat the world is flat. Dengan internet, peluang atau kesempatan setiap orang akan menjadi sama. Tidak ada lagi orang yang mendapat privilege (hak istimewa). Dengan adanya internet, seseorang yang tinggal di pedalaman Sulawesi Tengah, misalnya, bisa terhubung dengan semua kejadian dan proses produksi dunia. Meski tinggal di daerah pedalaman, selama dia punya kreativitas dan mampu membuat program komputer yang bagus, dia bisa mengirimkannya ke berbagai macam industri perangkat lunak dunia melalui internet. Seperti yang dilakukan oleh kaum profesional di sebuah biara terpencil di Arizona. Di biara itu mereka merancang dan membuat berbagai macam program komputer untuk perdamaian dunia. Hasilnya berupa lagu dan program pendidikan yang disebar ke seluruh dunia melalui internet. Mereka tinggal di biara dan menghasilkan produk yang mendunia. Artinya, tempat tinggal secara geografis tidak terlalu berpengaruh, sepanjang terhubung dengan internet.

Prisma: Bukankah di sana akan muncul persoalan karena adanya perbedaan sarana informasi?

AAM: Itu yang dinamakan digital divide. Bagaimana menyediakan konektivitas atau akses yang baik memang menjadi tantangan kita bersama. Sekarang ini kita sedang merintis proyek Palapa Ring (proyek pembangunan jaringan serat optik nasional yang akan menjangkau 33 provinsi, 440 kota/kabupaten se- Indonesia, Red.). Bila proyek ini rampung, akses internet di seluruh Indonesia akan sama cepat. Semua “café” kampung — bukan café ala restoran lazimnya — di Banda Aceh, misalnya, akan menggratiskan fasilitas wifi mereka. Orang bisa minum kopi di warung-warung dengan memanfaatkan fasilitas internet gratis. Anak-anak Aceh pun dapat langsung terhubung dengan dunia. Konektivitas adalah satu hal, kreativitas adalah hal lain. Kita sekarang sedang mempersiapkan semua anak-anak Indonesia yang kreatif dapat terhubung ke internet. Hanya dengan cara itu kita bisa berkompetisi di tingkat global. Karena itu, proyek Palapa Ring menjadi sangat penting.

Sekarang bagaimana dengan pendidikan di sekolah-sekolah. Menurut kami, pendidikan secara umum bukan hanya berlangsung di ruang kelas saja, tetapi juga di luar ruang kelas. Kemenpora memang lebih banyak memfasilitasi kegiatan anak-anak muda di luar sekolah, apakah olahraga, pramuka, atau berbagai macam organisasi. Konektivitas memang penting, tetapi kita juga harus menumbuhkan dan meningkatkan kreativitas yang sebenarnya datang dari interaksi manusia dengan manusia. Di situ kita tidak hanya belajar secara kreatif, tetapi juga memupuk kemandirian serta kepemimpinan dan berbagai macam hal penting dalam perjalanan hidup mereka nantinya. Saya selalu mengatakan bagaimana pemikiran besar itu bisa diturunkan ke tingkat praksis. Memang tidak mudah, tetapi lebih baik kita mengetahui lebih dahulu gambaran besar yang dihadapi orang muda kemudian mencari apa yang diperlukan untuk mendorong ke arah tipe ideal; mendorong pekerjaan-pekerjaan besar dalam hal kebangsaan.

Kembali ke Sumpah Pemuda satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Bagaimana kita tetap punya akar dan semangat kebangsaan sembari mempersiapkan anak-anak muda menghadapi globalisasi? Di Bone, sekitar 180 kilometer dari Kota Makassar, ada sebuah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri. Saya katakan kepada mahasiswa sekolah tinggi itu agar jangan berpikir karena tinggal di Bone maka harus berpikir tentang Bone saja. Selama Anda tersambung dengan internet semuanya serba mungkin, tetapi jangan melupakan interaksi sosial. Harapan saya dengan adanya internet adalah terbukanya kesempatan lebih luas bagi anak-anak di daerah, tidak hanya anak-anak kota besar, untuk bisa bersaing secara internasional. Dinding sekolah menengah saya dulu di Yogyakarta berupa gedek, anyaman bambu, tetapi saya bisa sekolah sampai Illinois, Amerika Serikat. Anak-anak Indonesia yang sekarang menimba ilmu di sekolah bertaraf internasional dengan fasilitas lebih bagus tentu hasilnya mesti luar biasa. Semua tergantung pada temanteman di daerah, apakah pemerintah daerah, guru, dan lain-lain, dalam mengarahkan anak-anak muda kita untuk bisa memanfaatkan fasilitas atau sumber daya yang tersedia sehingga kita bisa mendapatkan bibit-bibit unggul dari semua daerah. Bahkan, anak-anak Papua yang tak pernah kita bayangkan, tiba-tiba muncul menjadi “next to nobel prize”.

Saya optimistis anak-anak daerah mampu bersaing, kendati tidak berasal dari sekolah internasional segala macam. Banyak sekali mutiara-mutiara di daerah yang cemerlang kalau kita gali. Bagaimana kita memberikan akses bagi mereka untuk tampil. Sama seperti atlet olahraga. Cukup banyak pemain sepak bola umur belasan tahun di seluruh Indonesia. Persoalannya, apakah kita punya sistem pembinaan dan perekrutan yang baik sehingga anak-anak itu bisa menjadi yang terbaik dan masuk dalam tim nasional. Kita perlu sistem seperti itu, dan ini menjadi salah satu pekerjaan rumah kita. Tidak boleh ada politik di bidang olahraga. Begitu kita mendiskriminasi dan tidak membolehkan anak Indonesia masuk tim nasional karena dia berbeda klub, agama, atau suku, di situlah awal kekalahan kita karena kita tidak dapat mengambil yang terbaik dari anak-anak kita. Sama halnya dengan bagaimana caranya kita membuat sebuah sistem supaya anak-anak muda datang dari seluruh daerah kemudian bersaing dengan fair dan didayagunakan serta diberi kesempatan menunjukkan prestasi dengan leluasa tanpa dibebani persoalan-persoalan itu.

Prisma: Kecenderungan pengguna internet lebih populer daripada interaksi sosial dibuktikan oleh hasil survei kita bahwa 40 persen interaksi menggunakan akses internet. Salah satu faktor adalah karena interaksi sosial tidak menemukan lagi momentum untuk kepentingan diri sendiir, misalnya, tidak ada lagi figur yang dapat dijadikan panutan/mentor tempat dia harus berkiblat. Kegiatan sosial di tingkat RT atau Karang Taruna cenderung tidak mereka ikuti, misalnya. Mereka merasa lebih baik menyendiri dengan akses internet yang bisa mengekspresikan apa pun keinginan mereka. Masalahnya, tidak ada pemimpin muda yang bisa menjadi panutan untuk mengembangkan sumber daya anak-anak muda itu. Bagaimana pemimpin-pemimpin muda menghadapi tantangan ini?

AAM: Itu tantangan kita bersama. Walaupun belum mendominasi, pengguna internet semakin banyak dan jumlah waktu yang dihabiskan semakin besar. Dulu yang menjadi persoalan adalah terlalu banyaknya waktu yang dihabiskan anak-anak di depan pesawat televisi. Mereka “sulit” bergerak dan cenderung enggan berinteraksi. Kemudian muncul era video game. Para pendidik bereaksi dengan mengatakan terlalu banyak waktu mereka dihabiskan untuk video game. Sekarang muncul fenomena baru. Waktu setiap anak sekolah di depan internet semakin panjang. Ada anak bisa sampai 5 jam menatap layar komputer dan berhenti kalau mau makan, kemudian lanjut lagi. Di sekolah tidak punya teman, tetapi di internet banyak sekali. Perbedaannya, internet bisa mencerdaskan dan memperluas wawasan seorang anak ketimbang TV atau video game. Dia bisa membangun jaringan atau gagasan-gagasan penting. Namun, dia punya potensi untuk menjadi anak yang tidak bisa bergaul. Dia canggung bergaul di dunia nyata. Namun di dunia maya dia punya avatar atau identitas lain. Saya melihat anak-anak ini juga punya potensi. Kita harus mencoba membangun ruang-ruang baru tempat mereka bisa berpartisipasi di dunia nyata.

Apakah kegiatan atau organisasi-organisasi sosial primordial, ketetanggaan atau organisasi sosial sekunder di sekolah telah kehilangan daya tarik atau fungsi? Kita sempat mengikuti kegiatan Pramuka dan sekarang orang kehilangan daya tarik dengan Pramuka, karena tidak mengembangkan kegiatan-kegiatan yang dianggap menarik oleh anak muda sekarang. Pilihan bagi anak muda sekarang banyak yang positif dan juga negatif. Bagaimana Pramuka bisa bertahan untuk menjadi salah satu pilihan bagi orang muda, itu merupakan tantangan kita. Apakah itu modul, aktivitas, atau kemasannya. Bagaimana pula kita dapat menciptakan organisasi atau mengembangkan kegiatan sosial di tingkat primer (dengan tetangga) dan sekunder (di sekolah, universitas, organisasi kepemudaan). Itulah sebabnya kami berpikir untuk membangun gelanggang-gelanggang remaja itu. Di sana ada tempat berolahraga, teater, kine club, dan sebagainya. Jadi, anak-anak “aneh” yang terbiasa dengan dunia maya itu bisa kita bawa ke situ untuk berinteraksi dengan mereka. Dia bisa berinteraksi dan bermain dengan anak-anak pemain bola basket, teater, bola kaki, dan lain-lain. Ada anak-anak muda seniman yang sama sekali tidak suka atau tidak kenal dunia olahraga, maka kita kenalkan dengan olahraga. Sebaliknya anak-anak yang suka olahraga atau tidak pernah bermain teater, IT, kita kenalkan kepada mereka. Kita menciptakan semacam neutral zone, zona-zona partisipasi untuk semua kalangan atau kelompok.

Intinya adalah bagaimana menciptakan zona netral tempat semua pihak bisa ikut berpartisipasi. Contohnya kerusuhan di Ambon dulu. Di setiap perbatasan antara masing-masing kelompok yang bertikai ada pasar yang menjadi zona netral tempat semua orang bertemu dan bertegur sapa. Kantor-kantor pemerintah juga harus jadi zona netral. Begitu pula universitas. Perlahan-lahan tapal batas yang memisahkan kelompok-kelompok bertikai itu hilang, sehingga sekarang setiap orang dapat leluasa tanpa rasa takut naik angkutan umum dari satu ujung jalan ke ujung jalan lain. Tidak ada lagi zona-zona khusus. Dalam dunia kepemudaan juga semestinya seperti itu. Kita harus membangun zona-zona partisipasi untuk semua (common zones), sehingga anak muda punya ruang publik bersama. Bentuknya bisa beragam mulai dari gedung gelanggang remaja, lapangan terbuka, taman kota, sampai pantai terbuka untuk umum. Di tempat-tempat seperti itu setiap orang bisa bermain, berekreasi, berolahraga, atau berinteraksi tatap muka — yang tak tergantikan oleh internet.

Kita memang tengah menuju globalisasi, namun kita tidak boleh serta-merta melupakan akar-akar atau menghilangkan pijakan kita begitu saja. Kita memang bisa mengadakan sebuah pertemuan atau rapat dengan menggunakan salah satu program komunikasi seperti Skype yang membuat kita tidak perlu bertatap muka langsung. Sudah banyak rapat atau pertemuan memanfaatkan sarana internet seperti itu, tetapi tetap tidak bisa menggantikan ruang sosial riil. Bila kita berpendapat bahwa ruang dunia maya bisa menggantikan ruang sosial tatap muka langsung, maka kita hanya akan mendapatkan sebuah komunitas yang ramai di dunia virtual tapi hampa dalam konteks dunia nyata. Bagaimana pun juga, kebangsaan itu tetap harus didefinisikan sebagai komunikasi tatap muka.

Prisma: Ini terkait dengan pembentukan karakter. Kenapa anak-anak muda lebih nyaman di depan komputer mungkin karena mereka merasa tidak aman berinteraksi dengan orang lain di dunia nyata, tidak punya idola, atau menganggap keberadaannya tidak bermakna. Bila kita refleksi ke tahun 1926, mereka punya semangat gigih demi kepentingan bangsa. Sementara pemuda sekarang bila hendak terjun ke dunia politik akan menengok DPR dengan kepentingan sempitnya atau ke dunia bisnis dengan segala tipu-menipu dan korupsinya. Apa karakter yang dapat dibangun bangsa ini untuk anak muda?

AAM: Kita harus merespons dengan berbagai macam interaksi yang membuat mereka merasa nyaman, bermakna, dan berguna bagi masyarakat. Kami di Kementerian Pemuda dan Olahraga sedang menyusun beberapa hal tentang voluntarism. Umpamanya, kami membangun proyek pilot voluntarism bekerja sama dengan civil society di satu kota. Kita menyiapkan sistemnya. Seorang anak muda, misalnya, datang ke suatu tempat atau kantor pendaftaran untuk mendaftar sebagai relawan. Kantor tersebut akan menyalurkan anak muda ini ke tempat yang bisa mengaktualisasikan keterampilannya di setiap hari Minggu atau Sabtu pagi. Mereka yang bisa main bola bisa memilih menjadi pelatih sepak bola SLB. Sementara mereka yang terampil mengajar bisa saja menjadi guru bagi anak-anak jalanan, mengajarkan internet, mengajar ngaji, melatih menyanyi, dan lain-lain. Akan tetapi, bukan hanya kerja sosial saja. Kita juga sedang memikirkan adanya semacam “big brothers big sisters”. Ada anak-anak yang meluangkan waktu membantu anak lebih kecil untuk beradaptasi dengan dunia nyata. Kalau ikut kegiatan sosial seperti donor darah, mereka akan mendapat satu atau dua poin. Bila sudah mendapat 500 poin, misalnya, kami akan memberi penghargaan. Itu satu hal yang dapat membuat mereka merasa dihargai dan memiliki makna. Kita sendiri punya tugas menyesuaikan seberapa besar kemampuan yang mereka miliki. Masih banyak anak muda yang idealis. Sarjana Penggerak Pembangunan di Pedesaan atau SP3 adalah contoh lain. Mereka yang ingin turun ke desa selama dua tahun dapat mengikuti program SP3, ke desa membangun. Kita memberi bantuan dana untuk biaya hidup, kemudian mereka bisa mengembangkan ide-ide yang dimiliki.

Ada banyak lagi program-program yang bisa dilakukan agar anak-anak muda merasa berarti. Kita pun mengharapkan pemerintah kota atau pemerintah kabupaten dapat menyusun dan membuat sejumlah program yang berarti bagi anak muda. Sebagai masyarakat secara keseluruhan, kita mungkin perlu berpikir jauh bagaimana membuat anak-anak muda ini punya arti. Contoh terbaru adalah internet. Fenomena ini belum mencapai puncak keemasan, namun pengaruhnya sunguh luar biasa. Sepuluh tahun dari sekarang ketika pita lebar (broadband) semakin berkembang pesat, orang bisa menonton film di rumah dan tidak perlu pergi ke bioskop. Menonton film, menelepon seseorang, menggelar diskusi, mengajar, bahkan kuliah, sudah bisa langsung di tempat. Tantangan kita adalah menciptakan berbagai ruang publik bukan lagi dalam konteks geografis, tetapi ruang publik di dunia nyata yang punya arti untuk berinteraksi.•