Jurnal Pemikiran Sosial Ekonomi

Artikulasi Identitas Kultural Melalui Penembangan Naskah Kuno

Lilis Shofiyanti

 

Artikel ini merupakan ringkasan dari penelitian magister tentang artikulasi identitas kultural masyarakat dengan membahas dan menganalisis living manuscript, yaitu naskah kuno yang ber­ada pada lokus budaya masyarakatnya, dalam konteks masyarakat adat Osing di Banyuwangi, Jawa Timur. Analisis dalam penelitian ini tidak hanya mengenai teks dan konteks masyarakatnya saja, tetapi juga menyoal aspek wacana dan strategi pelestarian sebuah warisan budaya, khususnya tradisi masa lampau yang masih eksis dan diwariskan turun-temurun hingga kini. Dengan menggunakan telaah kritis cultural studies, penelitian ini mampu menangkap dan meng­ungkap bagaimana living manuscript yang terbentuk melalui mocoan (pembacaan tembang) dijadikan sebagai sarana artikulasi identitas kultural dan sekaligus mengukuhkan bahasa Osing sebagai bahasa yang hidup (living language) dalam masyarakat adat Osing.

 

Kata Kunci: artikulasi, identitas kultural, living manuskrip, masyarakat Osing, mocoan

 

Dalam satu dekade terakhir, perbincangan mengenai living manuscript[1]  marak bergaung dalam diskusi-diskusi di kalangan para pengkaji maupun pegiat literasi berbasis naskah kuno. Di Indonesia sendiri upaya penyelamatan atau konservasi naskah kuno dilakukan dengan sangat gencar, termasuk juga aspek tradisinya. Pemerintah Indonesia pun turut mencanangkan agenda-agenda pelestarian tersebut, salah satunya termaktub dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Peraturan perundangan tersebut menegaskan bahwa naskah kuno dan tradisi lisan sebagai objek kebudayaan tidak sekadar disimpan dan dilestarikan, melainkan perlu dikaji dan disebarluaskan ke masyarakat luas.[2]

Dalam menelisik naskah kuno dan tradisi­nya yang hidup di tengah masyarakat, diperlukan perspektif kritis filologis untuk melakukan kontekstualisasi dengan memahami aspek historis, sosial, dan politik suatu waris­an budaya serta melihat bagaimana eksistensi­nya dalam kehidupan masyarakat pengemban­nya.[3]  Selain itu, perspektif kritis lainnya adalah de­ngan melihat konteks wacananya secara lebih spesifik disertai pemaham­an historis secara detail sehingga dapat diungkap relevansi­nya dengan kondisi saat ini.[4] Oleh sebab itu, upaya intertekstualitas dalam kajian naskah kuno dengan mengaitkan teks dan konteks masyarakatnya sudah semestinya dilakukan secara lebih komprehensif untuk memahami berbagai kompleksitas yang ada dalam realitas sehari-hari masyarakat bersangkutan.

Salah satu contoh kontekstualisasi naskah kuno dengan perspektif kritis filologis adalah kajian ulang tentang teks kuno Manyóshú, yakni antologi puisi tertua di Jepang sejak paruh kedua abad ke-7 Masehi hingga paruh kedua abad ke-8 Masehi. Kajian dan pemaknaan syair dalam buku yang terdiri dari 20 volu­me tersebut diterbitkan ulang oleh Yi Yong-hui pada 1989 dan digunakan untuk membuat narasi “Jepang Multikultural.” Selain itu, teks kuno Manyóshú juga disederhanakan dengan tetap melihat konteks historisnya agar dapat diakses oleh masyarakat modern.[5]

Berbeda dengan Jepang, kontekstualisasi naskah kuno dan tradisinya di Indonesia praktis sudah tertanam dalam berbagai aktivitas kultural, seperti pembacaan barzanji dan nga­ji sorogan di kalangan masyarakat Polewali, Mandar, Sulawesi[6], bahkan dalam aktivitas ziarah di Pamijahan, Jawa Barat. Sementara itu, di Sumatera Barat, dilakukan kajian naskah-naskah Islam Minangkabau yang berpotensi menjadi landasan bagi pengembangan industri kreatif sebagai pendukung wisata religi.[7] Demikian pula dengan masyarakat Osing di Banyuwangi, Jawa Timur. Di sana ada tradisi penembangan naskah kuno—dalam bahasa setempat disebut mocoan–yang diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi dan hingga kini dipraktikkan oleh sebuah komunitas bernama “Mocoan Lontar Yusup Milenial.” Hal tersebut kemudian berkembang menjadi upaya untuk melestarikan budaya masyarakat Osing Banyuwangi. Tampak jelas keberadaan naskah kuno senantiasa diupaya­kan kontekstualisasi dan relevansinya yang berkait erat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat bersangkutan.

Komunitas Mocoan Lontar Yusup Milenial

Analisis wacana mengenai tradisi mocoan diawali dengan mengkaji konteks hibrid masyarakat Osing (dibaca: Using) Banyuwangi,[8] khususnya di Desa Kemiren dengan penduduk yang sangat kental menganut adat isti­adat dan budaya sebagai satu suku. Mocoan adalah kesenian tradisional masyarakat Osing yang agraris, yang menjadi penyangga tradisi dan “kearifan lokal”.[9] Masyarakat Osing berbeda dibanding komunitas lain yang ada di Pulau Jawa. Secara geografis, masyarakat Osing mendiami daerah dalam Kabupaten Banyuwangi di ujung timur Jawa yang pada masa silam kerap diperebutkan oleh kerajaan-kerajaan Blambangan, Demak, Mataram, dan Buleleng. Kerajaan Blambangan dianggap memiliki pengaruh cukup besar dalam membentuk bahasa dan budaya masyarakat Osing.[10] 

Hal itu kemudian membuat bahasa Jawa turut berkontestasi dengan masyarakat adat Osing, sebab migrasi besar-besaran orang Jawa pada tahun 1870-an ke Banyuwangi tidak serta-merta menjadikan wilayah ini mapan dengan bahasa Jawa. Kepribadian, bahasa, dan adat orang Osing yang sangat berbeda dengan orang Jawa, terutama di lingkungan perdesaan, berujung pada lahirnya kekhasan wilayah tersebut.[11] Masyarakat Osing, khususnya di Desa Kemiren yang dikenal sebagai desa adat, cenderung melakukan pembaruan dengan mengupayakan percampuran budaya dalam praktik tradisi mereka. Sebagai contoh, selain menggelar selametan, mereka juga tetap melakukan pemujaan pada dewa-dewi.[12]  Masuknya tradisi Islam di Banyuwangi tidak lantas menghilangkan budaya masyarakat adat. Salah satu tradisi yang merupakan hasil percampuran budaya tersebut adalah mocoan, yang hingga hari ini masih dipraktikkan masyarakat Osing.[13] Tradisi mocoan menjadi bagian hidup yang melekat dengan realitas kehidupan masyarakat Osing di Banyuwangi.

Hal itu perlu dilakukan untuk memahami bagaimana tradisi mocoan memperoleh perhatian khusus dan dukungan dari para penem­bangnya, terlebih mengapa tradisi ini patut dilestarikan oleh keluarga pemilik naskah. Bagaimana strategi naratif atas Lontar Yusup dapat terus hidup dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Osing melalui proses penyalinan teks dan pewarisan tembang yang diajarkan di keluarga penembang naskah kuno itu? Hal lain yang juga penting untuk diungkap adalah bagaimana pewarisan tembang dasar dilakukan oleh keluarga pemilik naskah, yang merupakan penembang sekaligus pelatih utama (maestro) tembang dasar pakem Osing (khas logat Osing). Osing hanya diajarkan dalam keluarga penembang yang notabene pemilik naskah Lontar Yusup. Pada awalnya, tembang dasar pakem Osing hanya diajarkan di dalam keluarga pemilik naskah saja. Namun, pada tahun 1980-an berdiri sebuah kelompok bernama Persatuan Penembang yang tergabung dalam kelompok Reboan (beranggotakan penembang berusia di atas 50 tahun) dan kelompok Kamisan (beranggotakan penembang di bawah usia 50 tahun) sebagai upaya untuk melestarikan mocoan.[14]

 

Analisis mengenai mocoan[15] sebagai living manuscript dalam masyarakat Osing mene­mukan bahwa naskah kuno Lontar Yusup yang menjadi basis penembangan mocoan, memang bukan merupakan naskah yang memuat informasi terkait sejarah masyarakat Osing, melainkan naskah yang berisi dan menjelaskan tentang rangkaian kisah hidup Nabi Yusuf yang dimaknai secara khusus sebagai ekspresi religiositas (kesalehan) di kalangan masyarakat Osing Banyuwangi. Lontar Yusup menjadi basis tembang mocoan karena tembangnya masih ada dan dipraktik­kan hingga kini. Selain Lontar Yusup, di Desa Kemiren ditemukan beberapa naskah kuno lainnya, seperti Lontar Sri Tanjung dan Lontar Ahmad. Namun, syair-syair kedua naskah tersebut sudah tidak didendangkan lagi. Hanya Lontar Yusup yang masih eksis dan terjaga dalam setiap acara pelatihan tembang maupun ritual.[16] Naskah Lontar Yusup masih berada dan hidup di tengah-tengah masyarakat Osing yang sa­ngat menghargai eksistensi naskah kuno sebagai salah satu warisan leluhur.

 

Konstruksi identitas masyarakat Osing sebagai sebuah masyarakat “adat” tidak bisa  disangkal begitu saja. Persoalan identitas masyarakat memang perlu diperhatikan secara khusus mengingat di era global ini sebagian besar kalangan cenderung menciptakan dikotomi antara “masyarakat adat” dan “bukan masyarakat adat”.[17] Sebagaimana diketahui, perjalanan kolonialisme di negeri ini sangat banyak memengaruhi aspek kehidupan masyarakat, baik pada tataran budaya, pemikir­an, dan cara hidup, maupun penggunaan istilah “adat” atau “pribumi” yang sesungguh­nya memberi kesan memandang rendah dan arogansi. Tak pelak, masyarakat yang dicap sebagai “masyarakat adat” cenderung memiliki ruang gerak relatif terbatas, apalagi ditambah  dengan sebutan “primitif” dari sisi  budaya dan tradisi, sehingga mereka pun kian terdesak dan terpinggirkan dari tata kehidupan masyarakat modern dan global. Begitu pula halnya dengan tradisi mocoan.

Kehadiran komunitas penembangan naskah berbasis anak muda memberi warna baru pada tradisi mocoan di Desa Kemiren. Sebe­lum­nya, hanya ada dua kelompok penembang­an mocoan, yaitu Reboan yang melakukan pelatihan tembang mocoan setiap hari Selasa malam dan Kamisan yang berlatih tembang mocoan setiap hari Rabu Malam. Peserta kedua kelompok itu hanya para se­sepuh atau orang tua saja. Komunitas mocoan anak-anak muda membuka peluang bagi adanya ruang dialog antargenerasi di kalangan masyarakat adat Osing, terutama pada saat prosesi pertunjukan. Keberadaan komunitas Mocoan Lontar Yusup Milenial (MLYM) jelas merupakan isyarat dan membuktikan bahwa upaya pelestarian yang dilakukan anak-anak muda ini  m  itikberatkan pada pemahaman dan kesadaran atas budaya mereka sendiri, khususnya tradisi mocoan masyarakat Osing Banyuwangi

Sebelum adanya komunitas MLYM, meski tidak ada aturan yang melarang perempuan untuk ikut serta, mocoan hanya ditembangkan oleh laki-laki saja. Salah satu motivasi terbentuknya MLYM adalah untuk mengikutsertakan perempuan dalam kegiatan penembangan. Keterlibatan kaum perempuan dalam ritual itu tidak terlepas dari kuasa penembang sekaligus si pemilik naskah. Sebelumnya, tidak ada perempuan yang terlibat dalam acara penembangan itu karena hampir tidak ada perempuan yang dapat menembang de­ngan baik sesuai pakem mocoan masyarakat Osing dan kentalnya anggapan bahwa perempuan terlalu sibuk dengan kegiatan-kegiatan domestik. Semenjak berdirinya komunitas MLYM,  dan melalui serangkaian pelatihan, muncul perempuan-perempuan yang bisa menembang dengan baik dan lancar. Mereka diperbolehkan ikut serta dalam kegiatan mocoan asalkan tidak dalam kondisi berhalang­an.[18]

Sebagaimana diketahui, Lontar Yusup secara berkala masih dibacakan atau didendang­kan di hadapan khalayak ramai, baik dalam ritual tradisi slametan daur hidup manusia—kelahiran, sunatan, dan perkawinan—maupun ritual tahunan bersih desa. Dalam hal-hal tertentu, ia juga bisa diselenggarakan untuk acara kaul seseorang. Beberapa kelompok pembaca Lontar Yusup juga secara periodik masih menggelar acara pembacaan naskah kuno ini secara bergiliran di rumah masing-masing anggota mocoan, tetapi bukan pembacaan secara lengkap.[19] Mocoan Lontar Yusup secara lengkap biasanya didendangkan sekitar pukul 19.00 hingga usai sekitar pukul 03.00 WIB. Dalam acara itu, para pembaca Lontar Yusup duduk bersila, berjajar sete­ngah me­lingkar beralaskan tikar, dan bergiliran mendendangkan larik-larik Lontar Yusup dalam ragam tembang Osing. Naskah Lontar Yusup yang dibaca diletakkan di atas sebuah bantal dan secara bergantian dikelilingkan di antara para penembang. Sesi mocoan Lontar Yusup sebagai sebuah laku ritual juga memiliki tata cara dan perangkat ritual khusus.

 

Komunitas MLYM diinisiasi oleh seorang akademisi Osing asal Desa Cungking, Banyuwangi bernama Wiwin Indiarti. Sejak tahun 2017, melalui program pengabdian masyarakat dan didukung dengan gairah untuk melestarikan budaya dan tradisi masyarakat Osing, dosen di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas PGRI Banyuwangi ini berusaha menyelamatkan isi naskah tertua dan rawan rusak Lontar Yusup yang ditulis pada 1890. Pada 2018, penerima hibah pengabdian untuk preservasi dan revitalisasi Mocoan Lontar Yusuf Banyuwangi ini, mengajak Purwadi, salah seorang pemilik naskah tertua Lontar Yusup, untuk melakukan kolaborasi dalam melatih anak-anak muda belajar menembang sebagai upaya untuk melestarikan tradisi mocoan dengan mendirikan komunitas MLYM. Di antara pemilik naskah-naskah kuno yang ada di Banyuwangi, Purwadi merupakan satu-satu­nya orang yang bisa menembang mocoan/tembang dasar pakem Osing. Selain itu, Purwadi dianggap dapat menjalin dan menjembatani komunikasi secara efektif di antara para sese­puh (orang tua) dan anak-anak muda Osing.

Komunitas MLYM merupakan gabungan kelompok Kamisan dan anak-anak muda “milenial.” Mereka memiliki dua program utama, yaitu berlatih tembang dasar pakem Osing yang diampu oleh Purwadi dan berlatih menulis aksara pegon. Hal yang membedakan komunitas MLYM dengan kelompok Reboan dan Kamisan adalah dari komposisi usia anggotanya. Selain latihan rutin, berdasarkan pengamatan di  lapangan pada Desember 2020, komunitas MLYM juga mengam­­panyekan tradisi melalui pelbagai media sosial, seperti Facebook, Instagram, dan lain-lain. Komunitas itu sendiri sangat me­narik ditinjau dari segi semiotis. Penggunaan istilah “milenial” memang sengaja diarahkan pada target kelompok usia tertentu sejak kali pertama dibentuk pada tahun 2018. Saat itu, Wiwin dan Purwadi membuka kelas pelatihan untuk anak-anak muda dan kalangan umum. Syaratnya adalah bersedia dan mau belajar menembang.[20] Kelompok usia milenial menjadi target karena mereka tidak hanya identik dengan usia produktif saja, melainkan juga aspek literasi teknologis. Kelompok-kelompok usia tua dan muda itu menjadikan komunitas sebagai ruang dialog antara generasi tua dan generasi muda di kalangan masyarakat Osing Banyuwangi.

Hal yang juga sangat penting adalah analisis strategi pelestarian tradisi mocoan melalui komunitas MLYM, yang berbeda dengan strategi pelestarian pada umumnya. Transformasi praktik mocoan memang tidak terjadi secara besar-besaran. Barangkali hanya ada improvisasi yang sangat sederhana dan tidak terlalu rumit yang membedakan dari praktik sebelumnya, mengingat bahwa tradisi itu memang sudah menjadi kenyataan hidup sehari-hari masyarakat Osing. Namun, dalam konteks masyarakat Osing, khususnya bagi orang yang dianggap sebagai pemilik naskah, upaya untuk mempertahankan dan meneruskan tradisi mocoan agar tetap berlanjut di zaman yang semakin canggih dan berkembang seperti sekarang menjadi perlu dan berarti.

 

Adanya komunitas MLYM yang dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran di kalang­an anak-anak muda Osing tidak terlepas dari peran akademisi yang bertindak sebagai inisiator dan pemilik naskah yang berlaku sebagai ko-inisiator. Keduanya berkolaborasi dengan melakukan intervensi atas tradisi yang selama ini menjadi habitus mereka. Intervensi yang dilakukan oleh akademisi adalah dengan membuka akses pada “pengetahuan” dengan membuat sebuah luaran/terbitan berupa alih-aksara dan alih-bahasa dari teks asli Lontar Yusup yang diterbitkan dalam bentuk buku dan dijadikan bahan ajar aksara pegon dan pelatihan tembang dasar dalam komunitas MLYM. Di satu sisi, modal pengetahuan yang dimiliki akademisi (inisiator) menjadi pemantik kesadaran di kalangan masyarakatnya, terutama pemilik naskah, untuk lebih mengenal tradisi yang selama ini hanya diwariskan dalam keluarga bisa tersebar luas ke generasi berikutnya. Di sisi lain, pemilik naskah yang berkesadaran itu kini memiliki posisi sangat strategis karena bisa menegosiasi struktur ri­tual tradisi mocoan dengan melibatkan kaum perempuan dalam kegiatan ini.

Contoh Teks Lontar Yusup (Pupuh IV—Pangkur) berbahasa Osing dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia.[21]

 

 

 

Selain menjadi ruang dialog antargenerasi dan ruang negosiasi para aktor, komunitas MLYM juga menjadi situs reproduksi wacana mocoan yang disesuaikan dengan kondisi dan situasi dalam bentuk “kekinian” dan lebih “modern” karena turut mengupayakan adanya literasi digital melalui pembuatan akun media sosial dan dokumentasi digital. Sekalipun tidak terlalu masif dalam memanfaatkan akun-akun media sosial, dalam arti tidak serta-merta diikuti oleh ribuan pengikut (follower), setidaknya upaya yang dilakukan anggota komunitas MLYM membuat tradisi mocoan Lontar Yusup bisa diketahui, dikenal, dan dirasakan oleh khalayak lebih luas. Relasi yang berkait kelindan cukup kompleks dalam komunitas tersebut, baik inisiator dan ko-ini­siator   maupun anggota MLYM, menunjukkan munculnya beragam mocoan melalui praksis berbahasa Osing. Selain memiliki posi­si penting dalam artikulasi identitas kultural Osing, pembacaan Lontar Yusup yang terdiri dari 12 pupuh, 593 bait, dan 4.366 larik, bisa dilakukan dalam beberapa tembang atau lagu.

Penelitian tentang artikulasi identitas kultural masyarakat Osing ini menunjukkan bahwa  pelestarian tradisi mocoan melalui komunitas MLYM berlangsung dalam praktik diskursif mocoan sebagai living manuscript dengan strategi naratifnya masih harus terus diwujudkan dalam aktualisasi penembangan naskah kuno serta hubungan atau relasi para aktor/penembang terutama pada prosesi pertunjukan mocoan dalam praktik komunitas. Komunitas memiliki program pengelolaan melalui aktivitas pelatihan tembang dasar dan aksara pegon, sekaligus menjadi medan bagi para aktor untuk menggelar strategi melalui wacana mocoan. Pada saat yang sama, komunitas menjadi agensi yang turut mereproduksi wacana tentang tradisi mocoan dalam konteks yang lebih “modern.” Selain itu, komunitas juga membuka ruang bagi beragam artikulasi identitas masyarakat Osing. Dalam praktik penembangan muncul keragaman linguistik dalam bahasa lisan Osing. Wujud dialek se­suai dengan identitas kultural masing-masing anggota komunitas. Praksis berbahasa Osing dalam praktik penembangan pun memunculkan beragam mocoan lain. Misalnya,  “Mocoan Cungking”, salah satu bentuk artikulasi dalam praktik penembangan yang dilakukan oleh komunitas MLYM, menggunakan logat/dialek Cungking (sebuah nama desa di Kabupaten Banyuwangi). Mocoan Cungking ber­anggotakan anak-anak muda Cungking yang berlatih dan memperlancar tembang setelah mereka berlatih dalam komunitas MLYM.

Penutup

Mocoan bagi masyarakat Osing tidak hanya diupayakan untuk dirawat dan dilestarikan. Mocoan Lontar Yusup yang merupakan tradisi penembangan naskah yang bercerita tentang kisah Nabi Yusuf bukan sekadar ekspresi keberaksaraan dan keberlisanan dalam kenyataan hidup masyarakat Osing hingga kini, melainkan juga menjadi living manuscript yang terus dihidupi dan menjadi bagian dari kehidupan nyata masyarakat Osing. Mocoan tidak sekadar hadir dalam masyarakat Osing sebagai narasi teks dan konteksnya, melainkan juga sebagai sebuah medan budaya tempat bahasa Osing dihidupkan dan diartikulasikan. Bahasa Osing dihidupi oleh masyarakat pengembannya melalui ragam dialeknya yang terjaga dalam penembangan, sehingga dapat terus berlangsung dan tetap terjaga di masa kini dalam bentuk tembang mocoan.

Komunitas Mocoan Lontar Yusup Milenial menjadi ruang lintasgenerasi yang meretas kebekuan akan kesadaran masyarakat Osing terhadap tradisi mereka selama ini. Eksistensinya bisa saja terputus, namun karena adanya kesadaran yang bertumbuh dalam masyarakatnya, mocoan tetap hidup dengan segala daya karena masyarakat “pengemban”-nya tidak pasif terhadap tradisi yang selama ini mereka jalankan. Dalam kenyataan hidup sehari-hari masyarakat Osing, naskah Lontar Yusup tetap melekat dengan aktivitas mereka. Begitu pula dengan mocoan yang menjadi bagian yang terus bergerak mengisi ruang-ruang kecil dan sunyi dengan meletakkan kesenian tanpa terpasung oleh iming-iming sebagai komoditas industri. Ia terus mengada dalam kenyataan hidup sehari-hari masyarakat Osing di Banyuwangi hingga dewasa ini.

Penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan pada penelitian-penelitian berikut­nya tentang tradisi lokal di Indonesia de­ngan memakai perspektif cultural studies. Hal demikian penting dilakukan karena tradisi lokal kerap dipandang sebelah mata dan hampir terlupakan sehingga menjadi subjek yang termarginalkan. Hasil penelitian ini juga di­dedikasikan untuk kajian-kajian budaya lokal sambil berharap dapat mencari dan menemukan kontekstualisasinya agar tetap relevan di masa kini serta mampu beradaptasi dengan zaman yang makin canggih dan meng­global.

Catatan Belakang:

 

[1] Living manuscript adalah sebuah fenomena dengan teks dan naskah memperoleh aktualisasinya di dalam masyarakat melalui strategi naratif yang menyertainya. Strategi naratif dimaksud dapat berupa penyalinan naskah untuk pelbagai keperluan melalui proses performatif. Secara epistemologis, living manuscript menyoal hubungan teks dan konteks; lihat, Tommy Christomy dan Rachmatia Ayu Widyaningrum, “Living Manuscripts: Catatan Kecil dari Lapangan”, dalam Mu’jizah et al. (eds.), Identitas, Tradisi, dan Keberagaman Penelitian Naskah Nusantara: Persembahan 90 Tahun Achadia­ti Ikram (Depok: Masyarakat Pernaskahan Nusantara, 2021), hal. 223-235.

[2] Lihat, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

[3] Bernard Arps, “Kepekaan Filologis untuk Pengkajian Budaya”, dalam Manuskripta, Vol. 10, No. 2, Desember 2020, hal. 177-191.

[4] James Turner, Philology: The Forgotten Origins of the Modern Humanities (Princeton: Princeton University Press, 2014), hal. 56.

[5] Susan L Burns, “The Politics of Philology in Japan: Ancient Texts, Language, and Japanese Identity”, dalam Sheldon Pollock et al. (eds.), World Philology (Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press, 2015), hal. 245-263.

[6] Muhammad Subair, “The Rest Tradition about Reading Manuscript in Polewali Mandar”, dalam Jurnal Pusaka, Vol. 4, No. 2, Oktober 2016, hal. 145-166.

[7] Pramono, “Potensi Naskah-naskah Islam Minangkabau untuk Industri Kreatif sebagai Pendukung Wisata Religi Ziarah di Sumatera Barat”, dalam Ibda’ Jurnal Kajian Islam dan Budaya, Vol. 16, No. 2, November 2018, hal. 328-349.

[8] Andrew Beatty, seorang antropolog, menggambarkan Banyuwangi sebagai sebuah wilayah yang memiliki adat dan kepercayaan serta keagamaan yang hidup sa­ling berdampingan. Hal demikian dapat diidentifikasi dari adanya berbagai macam ritual sinkretis di daerah itu. Praktik keagamaan masyarakatnya kental dengan pemujaan pada dewa-dewi, namun tetap bisa berjalan bersamaan dengan praktik keislaman seperti adanya ritual dan slametan; lihat, Andrew Beatty, Varieties of Javanese Religion: An Anthropological Account (Cambridge: Cambridge Studies in Social and Cultural Anthropology, 2004), hal. 11-15. Kata “Osing” (dibaca: Using) dalam bahasa Osing berarti “tidak.” Jika orang Osing ditanya mengenai asal-usulnya apakah orang Bali atau orang Jawa, biasanya dia akan menjawab “Osing”; tidak berasal dari Jawa ataupun Bali.

[9] Wiwin Indiarti dan Nur Hasibin, “Menembangkan Lontar Yusup Banyuwangi: Strategi Preservasi Warisan Budaya Lintas Generasi”, dalam Jati Emas (Jurnal Aplikasi Teknik dan Pengabdian Masyarakat), Vol. 2, No. 2, Oktober 2018, hal. 66-72.

[10] Beatty, Varieties of Javanese Religion…, hal. 9-15.

[11] Andrew Beatty, “Kala Defanged: Managing Power in Java away from Centre”, dalam Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia, Vol. 168, No. 2-3, Januari 2012, hal. 173-194.

[12] Lihat, Beatty, Varieties of Javanese Religion….

[13] Wiwin Indiarti, Lontar Yusup Banyuwangi: Teks Pegon, Transliterasi, Terjemahan (Yogyakarta: Penerbit Elmatera, 2018), hal. 2-4.

[14] Wawancara dengan Bapak Purwadi (pemilik naskah tertua Lontar Yusup Banyuwangi sekaligus pelatih utama tembang dasar pakem Osing), Kemiren, 14 Desember 2020.

[15] Kajian komprehensif mengenai tradisi mocoan dilakukan oleh Bernard Arps, pakar sastra Jawa dan linguistik di Universitas Leiden, Negeri Belanda. Arps mengkaji aspek komposisi tembang mocoan dan perbedaannya dengan macapat di Yogyakarta; lihat, Bernard Arps, Tembang in Two Traditions: Performance and Interpretation of Javanese Literature (London: SOAS, University of London, 1992).

[16] Wawancara dengan Ibu Wiwin Indiarti, Kemiren, 13 Desember 2020.

[17]Mikihiro Moriyama, ahli bahasa dan sastra Sunda, berargumen bahwa masalah ini menjadi perhatian khusus mengingat klasifikasi dan pemosisian tersebut merupakan upaya yang dikonstruksi oleh pihak kolonial; lihat, Kata Pengantar Mikihiro Moriyama dalam Melani Budianta, et al. (eds.), Cultural Dynamics in a Globa­lized World (London: Taylor and Francis Group, 2018), hal. 481-483.

[18] Wawancara dengan Bapak Purwadi, Kemiren, 15 Desember 2020.

[19] Indiarti, Lontar Yusup Banyuwangi…, hal. 3-4.

[20] Pada awal perekrutan anggota tahun 2018 diikuti kaum muda usia 20-an sampai 40-an dengan jumlah 35 orang.  Perekrutan anggota juga diadakan pada 2019 dan 2020. Menurut Wiwin, anak-anak muda yang belajar membaca dan menembang Lontar Yusup sejak 2018 sampai 2021 hampir 100 orang, namun banyak yang kemudian mengundurkan diri karena menikah, kerja, pindah kota, dan lain-lain; lihat, “Mocoan Lontar Yusuf dan Jejak Awal Islam di Banyuwangi”, dalam https://www.idntimes.com/news/indonesia/mohamad-ulil-albab/mocoan-lontar-yusuf-dan-jejak-awal-islam-di-banyuwa­ngi/3.

[21] Indiarti, Lontar Yusup Banyuwangi…, hal. 146.