Jurnal Pemikiran Sosial Ekonomi

Darah Demokrasi Tidak Biru Warnanya

Daniel Dhakidae

Demokrasi mengubah raut permukaan politik, political substrate, di atas mana tindak politik diatur, lembaga publik dibentuk, dan hasil kebijakan diumumkan untuk diterima atau ditolak— baik sendiri-sendiri ataupun dalam suatu mobilisasi opini dengan persaingan menjadi jiwanya. Asumsi di baliknya bisa diduga, yakni adanya suatu romantisme bahwa kualitas menjadi buahnya — persis seperti emas yang ditampi dari butir-butir pasir atau kebenaran yang lahir dari perbenturan opini.

Dalam kompetisi pemilihan umum akan ditemukan bibit-bibit terbaik yang akan muncul sebagai pemimpin suatu bangsa. Tentu saja, asumsi yang bisa ditebak ini akan berseberangan jalan dengan kenyataan kuat yang mengatakan bahwa begitu banyak bibit-bibit terbaik muncul bukan karena hasil kompetisi. Pengalaman juga mengatakan bahwa bibit terbaik di banyak bidang lahir dan bukan hasil penggodokan dalam kompetisi — poeta nascitur, seorang penyair lahir dan bukan hasil pemilihan. Soekarno, Hatta, Tan Malaka sama sekali bukan hasil pemilihan umum kapan pun.

Dengan ini pun sama sekali tidak dimaksudkan bahwa pemilihan umum itu tiada berguna. Salah satu kegunaan terbesar yang bisa dilihat dari hasil langsung pelaksanaan pemilihan umum 2009 adalah terpilihnya sebagian besar orang muda. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat sekarang jauh lebih muda dibanding anggota DPR hasil pemilihan umum sebelumnya. Harapan terhadap para pemuda itu sangat tinggi; harapan tinggi bukan tidak berdasar. Pendidikan mereka tinggi, sebagian besar adalah sarjana tamatan universitas dan perguruan tinggi non-universitas. Mereka diharapkan menjadi bibit adonan baru perwakilan.

Buku Wajah DPR dan DPD 2009-2014 terbitan Litbang Kompas (2010) mengumumkan penemuan yang menarik perhatian kita semua tentang yang muda dan parlemen. Yang disebut termuda itu adalah penerus bapaknya yang sedang menjabat jabatan tinggi sebagai bupati dan sebagainya. Penemuan lain buku tersebut adalah “darah biru” di dalam dewan perwakilan (Hari Santoso). Disebutkan di sana contoh dari berbagai keluarga yang karena pertalian darah mendapatkan kemudahan memperoleh posisi politik.

Ketika bangsawan Castille Spanyol menemukan sangre azul, darah biru, hampir semua pemahamannya adalah rasial dalam dirinya — berdasarkan warna biru yang menyembul dari pembuluh-pembuluh darah wangsa Castille (1838). Muatan rasis langsung berada di sana dengan menjaga keaslian sangre azul wangsanya dalam pengertian khusus darah yang tidak bercampur dengan darah bangsa Moor dan Yahudi.

Ketika Litbang Kompas menelusuri ikatan keluarga-keluarga itu semuanya hanya pertanda bahwa diskursus darah mulai memasuki tahapan serius dalam politik Indonesia. Apa artinya diskursus “darah biru” dalam politik Indonesia? Kalau sekiranya darah biru adalah darah Castillian dalam politik Indonesia mungkin ini berarti alarm pertama menuju masa depan. Dengan seluruh kelemahan para pemuda yang kini memperingati ulang tahun ke delapan puluh lima, darah sebagai political substrate tidak pernah masuk ke dalam pertimbangan mereka.

Ketika darah sebagai political substrate menyusup masuk ada dua hal muncul di sana: pertama, ada yang salah dalam sistem politik; kedua, persaingan menuju elected offices tiba-tiba menduduki posisi mengagumkan sekaligus mencemaskan. Partai-partai pemegang peran utama dalam kalender politik justru yang membuat berpolitik menjadi monoton dan membosankan; dan kejemuan itu seperti ditimpa tangga besi dengan seluruh diskursus sangre azul alias darah yang membiru.

Wacana “darah biru” menutup suatu inti penting demokrasi yaitu sirkulasi elite yang berarti sirkulasi kepemimpinan. Secara diam-diam tapi pasti makna yang terkandung di sana adalah pengakuan terang-terangan bahwa manusia lahir tidak sama—ada perbedaan dalam darah yang tidak pernah ada sejak revolusi republik membentuk bangsa ini. Orde Baru pernah berusaha membuat “darah biru” adalah darah tentara, usaha itu hanya meramalkan kebangkrutannya sendiri.

Seluruh wacana “darah biru” tidak pernah mempersatukan, kecuali dengan kekerasan. Ketika pada tahun 1926 para pemuda itu menawarkan wacana kesatuan yang mereka katakan eenheidsgedachte, darah biru tidak pernah menjadi wacana, karena yang bisa mempersatukan hanya keadilan•