Jurnal Pemikiran Sosial Ekonomi

Datuk Seri Anwar Ibrahim: Ketuanan Melayu! ... Melayu Mana?

Anwar Ibrahim

 

BERTARUNG, lalu dikalahkan hingga meringkuk di penjara tak membuat Anwar Ibrahim surut dari panggung politik Malaysia. Pada Pemilu Mei 2013 silam, Anwar dikalahkan lagi, meski suara besar berhasil diraup barisan oposisi Pakatan Rakyat. Namun Anwar Ibrahim seperti tak pernah patah arang. Dia sempat berada di jajaran koalisi Barisan Nasional dan menjadi Wakil Perdana Menteri Mahathir Mohamad pada 1993. Sikapnya yang kritis, antara lain mengkritik praktik politik kroni dan korup di UMNO, membuatnya terjungkal dari kursi itu pada September 1998. Ironisnya, dia tak dibuat jatuh oleh tudingan makar. Dia diseret ke pengadilan atas kasus sodomi, dan juga korupsi, lalu dijatuhi hukuman penjara enam tahun. Pada 2000, dia kembali dituduh melakukan tindak serupa dan diganjar penjara sembilan tahun. Pada 2004, Mahkamah Konstitusi Malaysia menghapus tuduhan sodomi dan membebaskannya dari penjara. Kini Anwar Ibrahim tampak kian tajam. Dia terus menggugat “Ketuanan Melayu”, sebuah mantra politik UMNO sejak rezim Mahathir Mohamad berkuasa. Malaysia menjadi kurang toleran dengan kelompok etnis di luar Melayu, dan beragam protes untuk merebut kembali hak kewargaan (citizenship) pun kian mengemuka di negeri jiran itu. Lantas bagaimana bentuk politik yang digagas Anwar Ibrahim bagi masa depan Malaysia? Daniel Dhakidae, Arya Wisesa dan Nezar Patria dari Prisma berbincang dengan tokoh oposisi itu pada awal November lalu di Jakarta. Berikut petikannya:

Prisma (P): Kehidupan politik Anda merupakan pemadatan kisah seorang warga negara yang bertarung untuk mendapatkan tempat di politik Malaysia. Yang menarik, Anda pernah berada di dua sisi, negara dan masyarakat sipil, tapi tetap menjadi seorang pejuang masyarakat sipil. Bagaimana menjelaskan hal itu?

Anwar Ibrahim (AI): Perubahan biasanya berjalan terlalu cepat. Saya pun terkadang masih tidak dapat menangkapnya, namun jelas semua belajar dari pengalaman. Saya tidak mengatakan bahwa saya cukup konsisten dan tuntas dari dulu sampai sekarang. Orang mengenal saya ketika bergiat dalam gerakan Islam, tetapi sebetulnya saya mengawalinya dalam gerakan mahasiswa dengan mengangkat soal bahasa, kemiskinan Melayu, dialog antar-agama, korupsi, dan lain-lain. Ketika saya masih merdeka dan aktif di kampus, muncul semacam kekecewaan, disillusionment, terhadap pimpinan negara. Dari satu sudut, Tunku Abdul Rahman adalah tokoh pemersatu dan orang baik. Dia mau pembangunan, tetapi tidak berhasil. Sementara kesenjangan di antara orang Melayu dan non-Melayu di Malaysia kian melebar. Bahasa diremehkan. Obsesi elite Malaysia dengan sistem Inggris memang keterlaluan. Hal ini menyebabkan saya sepaham dengan Soekarno, bahwa di antara kita ini ada banyak sosok pro-Barat yang sangat keterlaluan. Saya mulai memikirkan apa solusinya. Anak-anak muda masa itu di Malaysia banyak yang ke “kiri.”

P: Di Malaysia?

AI: Iya. Banyak yang tertarik dengan pemikiran dan aliran kiri, khususnya di kalangan aktivis.

P: Itu limpahan dari gerakan nasionalisme di Indonesia?

AI: Iya, tetapi juga karena adanya exposure pada generasi awal orang Melayu yang banyak menempuh pendidikan tinggi di United Kingdom; LSE (London School of Economics) itu dulu adalah left-centre. Saya tidak berpendapat bahwa kalau kita menolak orang-orang nasionalis sekuler yang memerintah itu solusinya harus “kiri.” Saya mulai membaca karya-karya Muhammad Iqbal yang banyak memengaruhi saya. Kemudian dalam beberapa pertemuan di Indonesia, saya mendekati Pak Mohammad Natsir dan mulai membaca hampir semua karya-karya awalnya, Capita Selecta. Dalam karyanya itu, tidak hanya terbaca sosok islaminya saja, tetapi juga intellectual idea-nya. Hampir setiap rencana Natsir termuat dalam buku itu. Semalam saya diskusi dengan beberapa alumni Masjid Salman, ITB, dan salah seorang wakil ketua Front Pembela Islam (FPI). Saya cerita tentang Islam yang inklusif dengan mengutip Pak Natsir, yang tidak menghukum sesama Islam dan juga mereka yang bukan Islam. Inilah yang membedakan sosok Natsir dan Islam di Indonesia dengan Ikhwanul Muslimin atau Jamaah Islamiyah, yang juga mulai saya dekati.

Saya rasa, kalau Islam lebih toleran dan terbuka menjadi solusinya, kita pun akan lebih terbuka dengan banyak karya-karya lain. Umpamanya pada masa itu karya orang seperti Herbert Marcuse. Kalau pemikir Islam pun tidak hanya berputar-putar pada gerakan partai politik per se, maka kita akan sampai kepada tokoh-tokoh seperti Hussein Nasser atau Muhammad Iqbal yang tidak dengan sendirinya dipromosi oleh gerakan Islam. Sejak itu saya mau mempertahankan keunikan kita dan peran inklusifnya. Ini suatu pengembaraan intelektual. Sungguh menarik, salah seorang guru besar di Georgetown University, Amerika Serikat, yang mengajar mata kuliah Islam pernah mengatakan bahwa Anwar itu contoh pengembaraan cendekiawan Islam modern. Namun saya sendiri mengawalinya sebagai seorang nasionalis, I started as a nationalist.

Lantas mengapa kemudian saya bergabung dengan pemerintah? Ini ada hubungannya dengan Tunku Abdul Rahman. Boleh dikatakan hubungan saya dengan Tunku Abdul Rahman cukup menarik. Saya dulu banyak melakukan demonstrasi dan menentangnya. Dia sendiri sering berkelakar dengan tetamunya: “Wah ... ini Anwar, he never likes me before. He hates Mahathir but he does not hate me; Anwar ini sudah letih melawan, jadi sekarang dia duduk bersama UMNO.” Tapi saya pikir Mahathir masa itu memiliki agenda reformis. Kalau Anda tengok hal-hal yang baik dalam diri Mahathir, dia memang betul mau efisien, membangun masyarakat industri, clean government.

aya pikir dalam UMNO itu saya tidak mewakili sosok mainstream. Semua orang tahu itu karena saya katakan waktu saya menjadi Deputy Prime Minister saya menganut Islam dan Konfusianisme (when I was Deputy Prime Minister I converted to Islam and Confucionism), saya kampanyekan juga keadilan sosial. Just that, social justice! Untuk UMNO “those who talk about distributive justice” bukan orang pemerintah. So that’s it.

P: Bagaimana Anda menjelaskan tatkala berbicara tentang keadilan dan hal lain dan menjadikannya arus utama dalam pemerintahan. Bagaimana caranya Anda mengambil posisi itu, dan mengapa?

AI: Mahathir likes me very well. Dia biarkan saja saya berbuat apa pun. Dia sering berkelakar dalam kabinet bahwa, Anwar ini terlalu iri, dan juga terlalu banyak ide. Dia selalu bicara terbuka mengenai Anwar seperti itu.

P: Artinya itu bukan semacam sikap sinis?

AI: Kadang-kadang, kalau ada masalah dia pasti baca semua. Dia baca banyak sangat.

P: Dan dia juga cukup pintar...

AI: Benar. That’s right! Sinisisme dia kuat, seperti terhadap civil society yang saya terjemahkan menjadi masyarakat madani. Istilah itu sebetulnya Muhammad Abduh yang pertama kali gunakan. Saya pikir tren ketergantungan dengan partai politik saja memiliki banyak kelemahan. Obsesi partai-partai politik itu kekuasaan. Sementara masyarakat sipil sebenarnya punya interest groups, dan ada juga sosok idealis. Kalau dalam Masyarakat Islam Indonesia justru rumit. Rahman dalam “Islam Modernity,” misalnya, bependapat bahwa Muhammadiyah baik, dan Nahdlatul Ulama unik. Itu civil society dan bukan government. Ada wakaf, sedekah, infak dan lain-lain. That’s why we promote it.

P: Apa yang Anda pinjam dari pemikiran Muhammad Iqbal?

AI: Iqbal itu pemikir besar. Bisa dibandingkan dengan Islam sezaman di Indonesia seperti Soedjatmoko yang tidak bertradisi Islam sebenarnya, namun mempunyai pemikiran Islam tinggi; akan tetapi tidak pernah diakui. Pak Natsir umpamanya tidak mendapat pengakuan internasional karena dia tidak cocok masuk ke dalam gerakan Islam maupun dalam kalangan intelektual sekuler. Namun Iqbal bagi saya seorang yang memiliki very deep philosophical thought dan dia penuh percaya diri mengajukan argumen yang sangat rasional yang relevan dengan Islam, memahami kultur filosofis, truly rational intellectual arguments tentang relevansi Islam, dan memahami kebudayaan Islam dari segi filosofis; luar biasa! Dalam magnum opus-nya, the Construction of Religious Thought, dia menantang Islam aliran utama tentang ijtihad. Dia buat itu dengan argumen intelektual yang kuat. Sementara mereka yang menentang dan tidak setuju dengan itu tidak mampu menangkis dari segi argumen intelektual tentang konsep ijtihad. Malah Iqbal minta pembangunan kembali, dan rekonstruksi seluruh pemikiran Islam.

Salah satu lembaga yang masih terus saya kekal dari dulu hingga sekarang adalah International Institute of Islamic Thought (IIIT). Iqbal dan Shatibi yang banyak membahas soal-soal syariah itu masih tetap relevan. They talk about Islamic law, about rules, about the whole concept of Islam. If you talk about peace and justice you are surely talking about specific law. Tetapi Iqbal tidak dipromosi seperti itu. India menghasilkan Mohammed Ali Jinnah yang di antara negarawan Islam dikenal cukup luar biasa. Ada saja yang mengatakan dia minum minuman keras. Kadang-kadang orang mengambil hal seperti itu untuk memadamkan gagasannya, padahal dia ini negarawan besar. Misalnya, caranya mengungkap dalam bahasa Inggris. Saya ingat pidatonya pada 1947 di depan Constituent Assembly di Pakistan; dia pahlawan besar, pidatonya setara dengan pidato Nehru pada masa kemerdekaan India.

P: Muhammad Iqbal menganjurkan semacam upaya rekonstruksi pemikiran Islam. Dalam hubungan itu bagaimana kita melihat masalah kewargaan (citizenship) di Malaysia dan Indonesia. Malaysia lebih unik karena diperintah sekian lama oleh Mahathir Mohamad dengan doktrin “Ketuanan Melayu.” Indonesia mungkin punya pengalaman sedikit berbeda, dan sekarang menghadapi semacam ketegangan agama.

AI: Sekali lagi, pertama ada basisnya. Malaysia ini asalnya adalah negeri Melayu, persekutuan tanah Melayu di bawah naungan bandar-bandar Melayu. Ada basisnya. Setelah setengah abad merdeka, walaupun basis Melayu itu tidak boleh kita nafikan, dan ada juga sosok yang kadang-kadang menggabungkan Melayu itu ambil pandangan ekstrem, kita tak boleh nafikan Melayu pada tahun 1950-an. Orang China yang datang ke tanah Melayu sudah generasi ketiga bahkan generasi keempat. Sementara ada Melayu yang datang itu generasi kedua. Pak Mahathir sendiri generasi kedua. Jadi, untuk bicara soal “kami berhak atas negeri ini, negeri asal kami,” orang tentu akan bertanya “kamu ini dari mana?” Ini problem dan ini yang dipersoalkan. Menurut saya, orang-orang yang selama ini bicara soal Melayu itu tampak dangkal. Bahasa Melayu mau diangkat, mereka tidak mau. Penguasaan bahasa Melayu masih lemah. Saya mengusulkan pembakuan bahasa itu karena saya mau bahasa Melayu Malaysia ada kekuatan, dan tidak mungkin ada kekuatan tanpa kaitan dengan Indonesia. Bahasa Melayu di Indonesia telah menjadi bahasa 250 juta orang penduduk. Kalau kita terus dengan konsep nasionalistik sempit seperti itu, yang tewas pasti Malaysia.

P: Itu yang menyebabkan Anwar Ibrahim selalu dituduh tidak loyal. Anda disebut orang Indonesia yang berada di Kuala Lumpur. Apa komentar Anda?

AI: Iya! Saya katakan itu dangkal, sebab kalau dia tanya saya akan jawab kalau saya nasionalistik. Saya mau bahasa Melayu terangkat. Cara terangkatnya itu hanya bisa kalau dijadikan bahasa rantau. Namun kemudian saya dikatakan kenapa harus tunduk pada bahasa Indonesia? Itu argumen yang sangat bodoh. Mereka tidak tahu Sumpah Pemuda. Mereka tidak tahu bahasa Melayu yang berbeda-beda. Sama sekali tidak tahu. Itu masalah kita dalam politik bahasa. Saya ini orang politik, tapi saya termasuk orang yang paling gemas dengan wacana politik. Kian dangkalnya membuat orang terkadang menyebut saya intellectually arrogant. Bahasa baku yang saya ajukan dibatalkan. Semua batal, dan yang rugi adalah bangsa.

Bicara soal kedaulatan Melayu, yang kami sebut “ketuanan Melayu”, salah satu basisnya adalah bahasa. Bahasa itu akan kukuh bila kita bersama. Indonesia memberi konsesi besar ketika menerima bahasa Melayu, apa pun alasannya, yang sekarang disebut Sumpah Pemuda. Kalau dilihat seperti itu, apa salahnya beberapa istilah kita ubah. Banyak bahasa Malaysia yang juga diterima dan diambil Indonesia. Ketika menjabat menteri keuangan saya populerkan kata-kata macam “mapan” dan “kemapanan.” Tetapi saya juga menciptakan yang baru. Saya ciptakan kata “madani.” Transparansi saya terjemahkan menjadi “ketelusan.” Itu semua dari bahasa daerah. Saya ciptakan dan tidak ada problem. “Madani” saya lihat juga sudah digunakan di Indonesia. Kita boleh ciptakan bahasa menjadi bahasa “nasional” dan juga ada semacam penerimaan. Ada yang mengatakan itu bahasa Indonesia. Azasnya bahasa Jawa, sanskerta. Di Indonesia pun ada yang ekstrem, seperti mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Pak Daoed Joesoef. Dia mengidap fobia kalau istilahnya “berbau” Islam. Kalau kata “sidang dan konferensi” boleh, mengapa kata “muktamar” tidak boleh? Tidak bisa, “itu asalnya dari Arab.” Saya complain sama Pak Harto, yang uniknya mau mendengar. Saya punya hubungan baik dengan Pak Harto ketika dia berkuasa. Saya bilang “Menteri bapak ini aneh.” “Iya Pak Anwar, nanti saya bicara sama dia.” Itu sebagai contoh.

Maknanya, apa yang dibicarakan sebagai ketuanan itu hanyalah basis yang melampaui substansinya. Kalau kita berbicara tentang ketuanan Melayu bahasa seharusnya diperkasa. Pemerkasaan bahasa itu melalui suatu pendekatan yang benar dengan mengembangkan hubungan bahasa dan kosa kata. Hal ini bisa dilakukan dengan Indonesia. Dengan sendirinya yang lain-lain seperti Brunei, Singapura, Thailand Selatan, akan masuk dalam arus perdana. Itulah bahasa!

Islam di Malaysia sampai sekarang tidak ada wacana. Hampir semua wacana tersebut dikontrol elite UMNO dengan memanfaatkan majelis agama raja-raja. Akhirnya, kita tidak bisa bahas soal negara Islam atau syariah. Bahkan isu “Allah” pun tidak boleh dibahas. Ada mukti bilang kalau “Allah” itu sudah digunakan oleh Kristen, maka kamu sudah kafir. Bodoh!

Begitu pula di bidang ekonomi. Di sini banyak terpengaruh bahasa Ekonomi Baru, ekonomi pribumi. Saya cakap supaya jangan hanya mengutip slogan. Orang-orang berpikir dan kemudian menganggap “Pak Mahathir ini hendak membawa ekonomi Melayu.” Perumahan, pemberantasan kemiskinan, pendidikan untuk rakyat itu saya yang mendorong, bukan Pak Mahathir. Mendirikan Twin Tower, jembatan terpanjang, itu tantangan besar dia. Semuanya megaproyek. Untuk rakyat sendiri bagaimana? Anwar, you can do it. Saya bukan minta semua itu. I have to pay! Perumahan rakyat itu tidak masuk dalam agenda. Saya bertikai soal ekonomi karena pemerataan, istilah kami distributive justice atau “pengagihan.” Mereka tidak punya perhatian terhadap pengagihan. Coba lihat Koefisien Gini Malaysia yang lebih parah daripada Indonesia. To me it is unacceptable! Koefisien Gini Malaysia di Asia hanya lebih baik daripada Papua Nugini, even mortality. Kematian bayi di kalangan masyarakat dayak itu one of the highest in Asia. What can you talk about Dasar Ekonomi Bumiputra? Siapa yang mengontrol kontrak Petronas? Anak Mahathir dan anak Abdullah Badawi! Siapa yang punya syarikat pabrik arak San Miguel yang terbesar se-Asia? Anak Mahathir! Dia ini tokoh besar Islam. Kamu ada uang kamu boleh bayar dan ada perusahaan penerbitan besar. Boleh panggil universitas di sini lantas kasih uang. Orang-orang ini dibayar, dan ini termasuk di Indonesia. Istilah orang Kedah, saya ini “menyampah.” Saya sampahkan itu. Jadi, Dasar Ekonomi Baru itu hanya memperlebar kesenjangan. Ada juga laporan dihibahkan dari Ford di Amerika sejak 2010 hingga 2012 sekitar triliun dolar dikumpulkan dan diperoleh oleh hanya satu persen…

P: Di Malaysia?

AI: Tidak. Di Amerika Serikat. Kita yang mendukung market economy capitalism-nya. What makes you think as a government, as a finance minister or a prime minister or as a president, you can decide. Kebijakan itu kebawa ke sana. Tidak ada moral basis. Tidak ada ethical basis. Negeri harus kaya. Investasi harus datang. Tetapi kalau tidak ada keadilan sosial, bagi saya fatal. Dasar Ekonomi Baru tujuannya baik: dalam keadaan orang Melayu miskin, tidak ada profesional, tidak ada kompetensi dalam bisnis. Itu terjadi pada tahun 1970-1971. Saya mendukung. Ketika menjadi menteri saya melihat semuanya mendukung. Sistemnya sama, cuma kita ini sophisticated. Malaysia tidak kasar seperti Indonesia yang kalau korupsi diambil terang-terangan. Kita punya akun di Swiss. Keduanya sama-sama korup. Saya dimarahi Pak Najib dan dianggap anti-nasional. Saya tidak percaya bila dikatakan Indonesia lebih korup daripada Malaysia. Malaysia juga korup. Kita pakai “cara” British yang tidak seperti Belanda. Belanda bikin perang, serang, dan tembak, sedangkan British pakai cara gunboat diplomacy. Dia pasang kapal perang di situ; kamu harus ikut, bila ikut dia tidak tembak.

Korupsi di Malaysia sekarang ini lebih parah. I am there, I know! Saya mulai kecewa dengan Pak Mahathir itu; kalau dia ngomong soal korupsi boleh nangis, tapi anaknya biliuner. Saya tidak bisa terima. Saya menteri keuangan selama delapan tahun tapi tidak punya satu batang pohon pun. Sebab itu dia boleh serang saya dengan isu sodomi segala macam. Not one timber, not one share! Malah selepas keluar penjara saya dapat masalah. Menteri keuangan mustahil tidak punya uang. I have that problem. Namun syukur alhamdullilah tidak ada kekayaan saya yang boleh disebut. Saya pergi ke Serawak dan di sana ada yang berkata: “ini datuk, nasib anak-anak nanti bagaimana?” Di Sabah, waktu saya menjadi wakil perdana menteri dapat tawaran 50 ribu hektar hutan yang dihadiahkan untuk ayah saya. Saya tanyakan ke pak menteri “ini sebab apa?.” O itu untuk mengenang jasa dan pengorbanan bapak Datuk Seri.” Saya tanya, “Ayah saya yang meminta?” Dijawab, “Tidak. Itu tanah untuk keluarga.” Saya bilang: “I can not accept.” Tetapi dia tidak berani tarik-balik. Saya terpaksa tulis surat tangan “dengan ini saya mengarahkan Anda batalkan kelulusan itu.” Saya sendiri mengucap syukur, seandainya dulu itu saya terima, saya diserang. Saya hanya ingin mengatakan bahwa itu adalah sistem. Everybody takes it. You are stupid if you don’t take something!

Jadi isunya apa Dasar Ekonomi Baru itu yang mau dipelajari oleh Indonesia dan ANC Afrika Selatan. Ini sama saja memperkaya kelompok di atas. Yang maha kaya semua itu adalah tokoh-tokoh UMNO. Mereka punya banyak property di London. Akhir tahun ini, sebelum pemilu, kita agak kalah dalam pemilu. Kita ditipu. Tiga bulan sebelum itu property market di London nomor satu dipegang Rusia dan nomor dua Malaysia. Property market di London mengangkat miliaran dollar.

P: Di sini kita tahu dalam popular vote yang menang adalah Anwar Ibrahim, namun kemudian kalah. Kenapa bisa begitu?

AI: Tanah Melayu adalah untuk elite. Siapa kontrol bidang perlistrikan di Malaysia? Ananda Krishnan! Judi di Genting Highland? YTL banyak investasi di situ. Siapa kontrol beras? Mochtar! Siapa kontrol gula? Mochtar! Melayu apa dia ini? Sekarang saya perang di parlemen soal gula dan beras. Keuntungan yang diperoleh dari komoditas itu hampir satu biliun. Ketika saya menjadi Menteri Keuangan, harga gula saya naikkan 34 sen. Namun selama 8 tahun menjabat menteri keuangan saya tidak pernah menaikkan harga minyak. Pertama karena kita net exporter. Kedua, sebelum dinaikkan kita harus simak dulu. Untuk beras selama 24 tahun, harga padi 99 persen dikuasai Melayu. Harga padi tidak kita naikkan. Tapi keuntungan yang diraup Mochtar hampir puluhan biliun ringgit. Lalu Anda kata, “wah sekarang ini kita subsidi harga gula tak dapat diturunkan sebab ekonomi kita memburuk.” Itu bohong! Kebocoran dan korupsi harus dibereskan dulu. Ketiga, untung korporat jangan berlebihan di tengah kemiskinan kaum petani. Bagi saya itu lebih haram. Saya ini orang politik, tapi saya punya passion. Saya pernah dipenjara dan dipukul, tapi I don’t care. Saya habis, kalau saya cakap dibilang ngomong bohong terus. Tak masalah buat saya. You are so bloody corrupt, mengapa cakap soal antikorupsi?

P: Mungkin hal itu yang membuat Anda bukan politikus, namun lebih seorang aktivis di dalam pemerintahan. Bagaimana menjelaskannya?

AI: Bagi saya ada yang ideal dan juga passion. Keduanya adalah hak. Apa yang mungkin? Tetapi saya juga yakin bahwa perubahan pasti berlaku. Tahap kesadaran dan pendidikan itu harus lebih sophisticated, lebih canggih, lebih mendalam. Seperti kita bicara soal Islam. Masalah di sini (Malaysia) adalah kita kerap bicara ekstrem. Karena tidak cukup mendalam, akhirnya kita dikerek oleh kelompok-kelompok radikal atau ekstrem tanpa basis. Kalau orang ingin menggerakkan Islam, maka anak-anak di sini juga harus baca Capita Selecta, baca Iqbal, dan lain-lain. Jangan hanya baca teks-teks jihad saja yang memang penting, tapi bagaimana tanpa masuk dalam kerangka yang lebih besar. Dalam International Institute of Islam Thought, saya promosikan bahwa makna syariah itu adalah big win. Apa itu Islam kalau tidak ada keadilan. Apakah itu Islam kalau tidak ada humanity? Apakah itu Islam kalau tidak ada toleransi? Itu adalah esensi. Untuk itu kita gunakan teks-teks klasik. Akan muncul problem bila kita pakai istilah-istilah modernis atau liberal.

Sebelum pemilu, saya dituduh pro-Kristen, “Anwar ini pendukung Kristen dan terlalu liberal.” Dalam headline harian Utusan disebut bahwa “Anwar Mendukung Perkawinan Laki Sama Laki.” Saya tidak pernah sebut begitu, namun dikutip seperti itu. Ketika ketemu Pak Najib Tun Razak dia mengatakan: what can I do? Dia bohong. Dia kontrol media itu. Dia punya 100 persen saham.

P: Waktu krisis 1997-1998, Anda menolak membantu bank di Malaysia. Apakah ini dalam kerangka pemikiran yang sama?

AI: Dia mengatakan saya ingin ikut resep IMF. Dari sudut transparansi (ketelusan) dan sudut antikorupsi saya pinjam istilah Joseph Schumpeter tentang creative destruction. Ambil peluang dan kesempatan dalam kerusakan yang terjadi, serta bina yang baru, creative destruction. Sesudah destruction kemudian kita kreatif. Pak Mahathir tidak setuju, sebab dia mempertahankan sistem yang lama. Kemudian, perusa haan-perusahaan bergulat dalam kesulitan. Begitu pula perbankan. Apa yang harus Anda lakukan? Saya bilang, apa yang Anda jamin untuk semua itu? Apa prioritas Anda? Obama dan para pemikir kapitalis menggunakan bank untuk mengembalikan keuntungan mereka, namun yang berada di bawah dibiarkan begitu saja.

Ini konflik pertama saya dengan Pak Mahathir. Dia marah betul, sebab anaknya kan yang menjadi problem waktu itu. MISC dan PNSL memerlukan 2 biliun ringgit, sekitar US$ 700 juta. Saya bilang kepada Pak Mahathir bahwa saya tidak mungkin beri dari perbendaharaan negara (treasury). Kalau saya mau lakukan saya terpaksa mengajukan supplementary bill di parlemen. Pak Mahathir tidak mau. Dia minta ke Petronas US$700 juta untuk perusahaan anaknya. Di Petronas saya tak bisa melakukan apa-apa. Tugas saya tidak bisa seperti itu. Lalu bagaimana dengan nasib 300 ribu company kecil. Tidak ada yang memperhatikan!

Dalam krisis tahun 1997 Malaysia tidak separah Korea, Thailand, dan Indonesia. Selama delapan tahun budget saya surplus. Karena budget surplus, saya buat prapembayaran RM12 miliar. Kalau diserahkan ke Pak Mahathir pasti dibelanjakan semua. Namun saya gunakan itu untuk negosiasi pembayaran. Jadi, bila nanti ada krisis, utang kita masih kecil dan kita masih boleh balance.

Kita yang korup, Yahudi yang dituding. Konflik dengan Pak Mahathir seperti itu. Saya masih sempat menyiapkan dana modal dan harta. Saya set up two funds. Tetapi keutamaan ini karena anak-anaknya, untuk perusahaan besar. Saya tidak anti. Saya promosikan dan bantu bank untuk mengembangkan usaha ke Vietnam, termasuk Malay bank dan Chinese bank. Di sini (Indonesia) saya mempromosikan balanced business and trade.

Dalam pidato di New York, saya pernah cerita tentang film Titanic. Saya katakan kapten kapal itu pikir kapal ini the most modern, karena itu just go ahead. Orang bilang ada gunung es di depan. Bila kapal pecah yang diselamatkan adalah mereka yang di atas, orang-orang kaya. Sementara yang di bawah, termasuk Leonardo DiCaprio mati. Cerita Titanic memperkuat kesan: You saved the rich cronies … tetapi rakyat kamu biarkan tenggelam! Itu dibawa ke Pak Mahathir dan akhirnya perang dengan saya, walaupun dalam cerita Titanic itu saya tak singgung nama Malaysia. Saya bicara secara umum. Orang-orang ini memang tidak bisa dikritik. Namun acap benar bahwa dalam setiap krisis, yang diselamatkan adalah mereka yang di atas sedangkan yang di bawah dibiarkan tenggelam. Not fair!

P: Kebijakan yang pro-Malay. Bagaimana komentar Mahathir?

AI: Saya bilang bukan pro-Malay, tapi profamily and cronies. Di kampung dan desa Kelantan penanam padi itu sebanyak 98 persen adalah orang Melayu. Poorest Malays. Who cares? Melayu ini anak kamu dan Tan Seri Mochtar yang kontrol pos, ports, airports, beras, gula, elektrik, dan lain-lain. Apa tidak ada orang Melayu lain? Apakah mereka bodoh semua? Begitu bunyi kampanye saya. Mereka bilang tahan Anwar. Robert Kuok kontrol gula. Dia punya basis keuntungan, saya tahu ketika menjadi menteri keuangan, sekitar 9 persen. Nah, Mochtar naikkan 15 persen. Orang-orang UMNO ini ingin menyelamatkan hidup Melayu. Melayu mana? Yang bayar adalah rakyat, termasuk orang-orang China dan India yang hidup di Malaysia. Semua bayar. Namun kemudian saya dituduh Yahudi segala macam. Dianggap pro-Yahudi dan pro-Kristen.

P: Sangat menarik. Anda mengubah kampanye etnosentris itu ke civic nationalism. Bahwa ini bukan soal kedaulatan Melayu tetapi sebenarnya hanya menguntungkan keluarga dan kroni. Bagaimana respons orang Malaysia atau Melayu sendiri dengan kampanye itu?

AI: Semua dukung kita. Tapi kalau di desa pedalaman kita ada problem. Misalnya, stasiun televisi UMNO dan media. Saya tidak diberi semenit pun, tapi mereka panggil itu demokrasi. Itupun 70 persen popular votes. Not one minute every night. Kalau saya dikasih satu menit saya akan dapat 75.

Contoh lain pemilu kecil ketika PAS menang. Saya pergi satu malam kampanye, tapi tajuk yang dimunculkan Pak Mahathir, “Anwar ini tak kenang budi. Dia tak terima kasih kepada UMNO yang mendukung dia dan angkat dia jadi menteri dan wakil perdana menteri. Saya menyesal.”

Tokoh Islam yang kontrol San Miguel. Coba jawab! O bukan saya, anak saya. Family interest! Katanya kamu menolong Melayu. Melayu paling miskin itu adalah penanam padi. Kenapa kamu biarkan Mochtar untung satu biliun ringgit satu tahun, sementara penanam padi itu pendapatannya 500 ringgit per bulan. Jawabannya adalah sodomi, Yahudi, Israel, Zionis. Hampir setiap malam seperti itu.

Mahathir pernah bilang “kalau Pak Anwar menang maka risikonya besar, karena dia akan serahkan kuasa dan pengaruh dan ekonomi kepada China.” Tapi yang Melayu itu ditanya bagaimana ini, sebab saya lebih egalitarian dan tidak hanya cakap pada melayu-melayu. Saya katakan kalau kita kontrol lagi harga gula maka siapa yang mengambil manfaatnya? Mayoritas Melayu! Kalau saya bilang education, kalau uang di kroni-kroni itu diambil dan diserahkan kepada mayoritas itu semua untuk Melayu. Hal semacam itu sebenarnya tidak perlu disebut.

Affirmative action itu berdasarkan keperluan, bukan ras. Itulah paham kita di Malaysia berbeda dengan di sini. Di Malaysia itu sudah 40 tahun bicara ras, ethnic control. Bahkan hampir setiap orang di Malaysia menganggap hal itu semacam ideologi. Saya pernah berdialog dengan anak-anak mahasiswa, “Pak Anwar, kalau tidak ada Dasar Ekonomi Baru ini survival kita bagaimana? Universitas UITM untuk bumiputra ini apa jadinya?”

P: Dengan simpati Anda ke Indonesia dan Indonesia ke Anwar Ibrahim, kira-kira apa tanggapan publik Malaysia?

AI: Najib Tun Razak sebut saya anti-nasional sebab dianggap pro-Indonesia. Saya bilang bukan pro-Indonesia, tetapi justice. Kamu orang datang sebagai pekerja dan jangan diperbudakkan/ diperhambakan. They are not slaves, they are workers. Saya bilang begitu secara terbuka di parlemen. Saya juga sebut yang datang semua itu adalah kelompok paling miskin, baik Bangladesh atau India, sekarang Kamboja kemudian Indonesia. Kita harusnya tunjukkan simpati. Kalau dia datang tanpa kartu yang sah, bawa dan kirim dia pulang. Tetapi jangan pukul, cambuk, dan hina mereka. Saya waktu itu menyaksikan sendiri keadaan mereka ketika berada di dalam penjara. Mereka dipukul dan menjerit- jerit. Saya lewat di depan mereka yang sedang dicambuk. Mereka menjerit, “Pak Anwar tolong kami.” Coba bayangkan apa perasaan saya. Perlakuan mereka terhadap orang-orang itu bagi saya sangat tidak manusiawi dan biadab. Pak Mahathir yang memperkenalkan hukum cambuk.

Mereka menangis dan menjerit sedangkan saya hanya mendengar. Saya sendiri tak bisa berbuat banyak karena juga berada di penjara. You know, satu cambukan itu berbekas sampai dia mati. Untuk soal itu, saya lebih keras dan terbuka daripada perdana menteri Malaysia. Mereka datang bukan mau perang dengan Malaysia. Mereka hendak bekerja. Kita sendiri juga harus tegas dan berani mengambil risiko. Sekarang ini kita banyak mengambil orang-orang dari Bangladesh. Semua yang dilakukan orang Indonesia di Malaysia selalu dibesarbesarkan dan dianggap tidak benar. Bila ada pencurian, perompakan, atau perampokan, mereka pasti menuduh orang Indonesia. Akan tetapi, nyaris tidak ada laporan pemberitaan tentang orang-orang Indonesia yang dipukul, dicambuk, dipenjara, bahkan ditembak mati. Persoalan kita yang duduk di government memang soal kemanusiaan.

P: Dengan seluruh perjuangan Anda di Malaysia, dengan justice and democracy, tetap saja ada hantu besar Internal Security Act. Anda sendiri tahu apa akibatnya?

AI: ISA sudah dibatalkan dan diganti dengan Security Offences (Special Measures) Act 2012 (SOSMA). Najib memperkenalkan akta baru itu, yang sama kerasnya dan sedikit menakutkan banyak orang. Data resmi menyebutkan, 52 persen tidak dukung dia. Kalau pemilu bebas dan jurdil, kita dapat meraih 56- 58 persen suara. Sudah pasti kita menang.

Maknanya adalah tidak semua orang sekarang ini dilanda ketakutan. Coba lihat Arab Spring yang mulai agak sedikit cacat dengan kondisi mutakhir yang terjadi di Mesir dan Suriah. No turning point. We can go. Namun, dengan segala kritik kelebihan Indonesia dalam pemberantasan rasuah (korupsi), bisa kita lihat seperti bagaimana ketua Mahkamah Konstitusi (MK) bisa ditangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), namun, tak ada seorang pun bicara soal kudeta. Belum lama berselang saya berpidato di New York, Roma, Frankfurt, dan lain-lain. Saya mengatakan dengan tegas bahwa Indonesia dan Turki berada di satu jalan. Akan tetapi, ada yang mengatakan Indonesia itu negeri korup. Memang masih ada sejumlah kelemahan, termasuk apa yang disebut desentralisasi korupsi. Walaupun ada banyak masalah, tetapi kekuatan-nya juga banyak. Ada pelbagai institusi dan media yang mengawasi.

Beberapa tahun silam saya pernah berjumpa dan bercakap dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sebuah konferensi internasional. Wajah dan berita tentang saya terpampang di halaman depan beberapa media massa. Pak SBY bilang kepada saya, “waduh lihat itu Pak Anwar beritanya baik semua, sedangkan saya ini diberitakan buruk dan jelek semua.” Itu presiden yang ngomong dan diperlakukan seperti itu.

Jadi, masih ada kekuatan media yang bebas. Memang masih ada korupsi dan ada menteri atau gubernur yang ditangkap dan “diambil.” Namun hal tersebut tidak berlaku di banyak negeri, termasuk di Malaysia. Di Malaysia, seorang menteri yang dituding melakukan penipuan miliaran ringgit, pasti dibebaskan selepas pemilu. Di Indonesia, walaupun sastrawan seperti Rendra atau Taufiq Ismail, dan lain-lain agak sinis, mereka ini tetap baik dan bagus jasanya. Anda tidak ditangkap hanya karena berbeda pendapat.

Contoh lain, kehidupan dalam penjara pada zaman Soekarno dan Soeharto jauh lebih lumayan dibanding kehidupan penjara di Malaysia. Adi Sasono pernah bilang kepada saya, “Pak Mohammad Roem punya waktu main tenis dan swimming ketika dipenjarakan Presiden Soekarno.” Saya sendiri tidak memperoleh fasilitas seperti itu. No tea apalagi kopi susu! Zaman saya mahasiswa lepas ke Bandung ada cerita tentang anak ITB yang ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Dia dipenjara tapi bisa keluar untuk makan bersama polisi. Ini mungkin semacam Indonesian culture.

Saya sendiri tidak ambil peduli bila tidak ada orang yang mau melayani saya dengan baik. Saya pernah menjalani operasi di Jerman, dan duta besar Malaysia di Jerman menyambut saya dengan ramah. Namun kabar kemudian dia diancam oleh menteri karena melayani saya dengan baik.

Ketika di penjara, saya menjadi hafal banyak ayat Quran dan juga punya banyak waktu luang untuk bernyanyi. Namun yang saya tidak tahan adalah nasib Wan Azizah dan anak-anak. Derita itu sampai ke istri dan anak-anak. Nurul Izzah adalah top student se-Selangor, tetapi anak saya ini dipersulit masuk ke perguruan tinggi, termasuk universitas Islam. Sang rektor universitas Islam sang pendakwah dan pemikir Islam itu adalah teman saya. Dia bilang ke anak saya: “Your father is a good man, but we can’t take you in. Universitas ini bisa rusak.” Derita itu juga menimpa ibu saya. Ibu saya pasrah ketika kali pertama saya divonis, namun kali kedua saya divonis beliau tetap pasrah, dan meninggal

dunia.

P: Indonesia 20 tahun lalu juga seperti itu. Hampir semua keluarga oposisi “dihabisi.”

AI: Iya! Saya tahu Petisi 50 ketika saya menjabat menteri. Saya pernah bertemu dan ngobrol dengan Pak AH Nasution di sebuah hotel. Pagi hari beliau datang ke hotel untuk sarapan dan berkisah. Pak Nasution sangat hatihati dan tak banyak cakap soal Indonesia. Namun banyak menteri di Indonesia waktu itu kelihatan sangat panik melihat pertemuan saya dengan tokoh-tokoh Petisi 50. Saya juga jumpa dengan Pak Harto dan kurang lebih mengatakan: “saya ini orang muda. Pak Natsir itu sudah saya anggap Bapak sendiri.”

Saya pernah aktif terlibat dalam sebuah kelompok intelektual Asia Tenggara. Ketika itu Soedjatmoko kupas soal limit to growth dengan begitu cerdas. Saya sendiri begitu kagum dengan pemikiran dan pandangan beliau sebagaimana tertuang dalam buku Dimensi Manusia dalam Pembangunan. Perhatiannya tentang pemerataan ekonomi dalam pembangunan saya kutip dan gunakan ketika saya menjabat Menteri Keuangan. Saya ini memang agak gila dalam hal bujet. Saya gunakan Konfusius, Soedjatmoko, dan sumber-sumber lain.

Maksud saya, kalau persoalan-persoalan kita ungkapkan dengan bahasa dan argumen yang baik, semua pasti akan diterima.•