Jurnal Pemikiran Sosial Ekonomi

Emil Salim: Hadapi Perubahan Iklim seperti Berperang

Emil Salim

 

Isu perubahan iklim ramai diperbincangkan dan dibahas tuntas oleh ilmuwan, para pengambil kebijakan atau media massa, namun tetap saja menyisakan banyak pertanyaan. Sebuah survei yang dilakukan Gallup Polls terhadap 128 negara pada 2007-2008 menunjukkan bahwa semakin negara itu berkembang, penduduknya makin tidak peduli pada isu itu, dan semakin bertambahnya usia penduduk, semakin besar pula ketidakpedulian mereka.

Menurut Mike Hulme, seorang pakar iklim, perubahan iklim bukanlah sebuah masalah yang menunggu untuk dipecahkan. Perubahan iklim lebih merupakan soal fenomena lingkungan, budaya, dan politik, yang mendesak kita untuk menajamkan kembali corak berpikir tentang cara kita menjalankan kehidupan. Perubahan iklim adalah fenomena yang mungkin baru akan terjadi berpuluh tahun lagi, tetapi ia memaksa kita untuk memikirkannya sekarang juga.

Masalahnya adalah, dengan merujuk hasil survei tersebut, bagaimana membuat masyarakat menyadari bahwa perubahan iklim itu akan (telah?) terjadi secara nyata dan memengaruhi cara kita dalam memandang dan menjalani hidup ini.

Untuk lebih memahami fenomena perubahan iklim, redaksi Prisma berbincang-bincang dengan salah seorang peletak dasar ekonomi Indonesia juga menteri pertama yang mengurus lingkungan hidup, Prof Dr Emil Salim. Usaha kerasnya untuk mempertemukan konsep pembangunan dengan lingkungan, dan konsep ekonomi dengan ekologi, menghasilkan sejumlah pemikiran tentang pembangunan berkelanjutan yang kian relevan hingga saat ini. Berikut petika n dialog MA Satyasuryawan dan Nezar Patria dari Prisma dengan Ketua Dewan Pertimbangan Presiden itu di kantornya.

Prisma (P): Isu perubahan iklim kerap ditanggapi banyak orang antara percaya dan tidak percaya. Mungkin karena ilmu adalah tentang ketidakpastian, sedangkan dampak perubahan iklim itu pun masih akan terjadi jauh di masa depan. Bahkan, sebuah survei menunjukkan bahwa banyak orang tidak terlalu peduli dengan isu perubahan iklim. Bagaimana seharusnya kita memahami dan menyikapi persoalan tersebut?

Emil Salim (ES): Pertama, perubahan iklim adalah sebuah fenomena evolusioner yang berjalan lambat. Ia bukan berlangsung dalam hitungan satu, lima,atau sepuluh tahun, tetapi dalam puluhan tahun. Kuncinya adalah emisi karbon dioksida yang menebal di bumi menyerupai selimut. Cahaya matahari menyinari bumi dan membuat bumi panas. Lazimnya, panas itu kembali ke udara, sehingga suhu bumi kembali normal. Sekarang, ia tertahan oleh selimut kabut CO2, sehingga terpantul kembali ke bumi. Bumi semakin panas. Panas itu mengakibatkan suhu bumi meningkat, es di kedua kutub mencair, dan permukaan laut naik. Peredaran arus laut membawa perubahan dalam cuaca dan terjadilah perubahan iklim. Suhu bumi yang semakin panas membawa dampak berupa perubahan iklim. Proses tersebut tidak berlangsung dalam tempo satu atau dua tahun saja. Ia berjalan lambat dan berangsur-angsur. Proses itu dimulai sejak Revolusi Industri pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19. Karena itu, orang tidak bisa segera melihat dan menangkap apa yang sesungguhnya sedang terjadi.

Kedua, mengapa sumber dari CO2 hanya akibat pembakaran bahan bakar fosil? Bahan bakar fosil (batu bara dan minyak bumi) adalah pemicu industrialisasi. Karena industrialisasi di Inggris tahun 1750 menggunakan batu bara sebagai bahan bakar, James Watt kemudian memperkenalkan mesin uap, lahir industri baja dan sebagainya, menyusul angkutan mobil, kereta api, dan lain-lain. Apa yang dapat dilihat di balik fosil fuel dan batu bara itu adalah lahirnya industri yang sangat berkepentingan dengan fosil fuel dan batu bara. Karena itu, ada kaitan sangat erat antara industrialisasi, fosil fuel, batu bara, dan CO2. Industrialisasi berhasil menciptakan lapangan kerja, mengubah pola hidup manusia dan seluruh peri kehidupan. Alam yang semula berkembang evolusioner dirombak menjadi alam bikinan manusia. Seperti sebuah kota, misalnya. Kota bukanlah ciptaan alam, tetapi ciptaan manusia. Produksi pangan yang awalnya sangat bergantung pada alam, dengan adanya pelbagai energi yang melahirkan pupuk kimia dan lain-lain, memungkinkan produksi dapat meningkat pesat.

Perubahan dan pencemaran oleh fosil dan batu bara itu memberi “manfaat” sangat besar, yakni industrialisasi. Industrialisasi melahirkan banyak kepentingan. Amerika dan Eropa sekarang adalah hasil dari industrialisasi berdasarkan fosil fuel dan batu bara. Muncul pelbagai kelompok kepentingan (interest group) yang maju, kaya, dan makmur dengan mengandalkan fosil fuel dan batu bara. Umpamanya seorang bekas Gubernur Texas seperti Bush yang kemudian menjadi Presiden Amerika Serikat. Texas adalah salah satu produsen minyak bumi terbesar di Amerika Serikat. Minyak bumi itulah yang banyak menopang kampanye Bush dan menghidupi Texas. Sulit dibayangkan bila Bush kemudian mengeluarkan kebijakan untuk mengerem, atau bahkan melarang, penggunaan fosil fuel.

Bergulirlah roda perekonomian yang saling menautkan industri minyak bumi, batu bara, kapital, industri otomotif, dan lain-lain. Semua rentetan yang mendorong modernisasi itu bertumpu pada fosil fuel, yakni minyak bumi dan batu bara. Mengapa sejak awal orang tidak meributkan soal perubahan iklim? Dulu, pada 1750-1950-2000, pencemaran relatif kecil. Semua masih bisa diserap oleh alam dan udara. Kemudian terbit sebuah buku berjudul Silent Spring. Kenapa spring itu membisu atau sunyi? Karena burung-burung dan ribuan sel telah mati. Kenapa mereka mati? Karena pencemaran. Kenapa tercemar? Karena perbuatan manusia! Si penulis, Rachel Carson, terus bertanya kenapa, kenapa, dan kenapa, hingga membawa pengaruh besar. Manusialah yang mengubah dan membunuh alam.

P: Dari mana asal-muasal munculnya isu perubahan iklim?

ES: Sepuluh tahun setelah terbitnya buku Silent Spring, Perserikatan Bangsa-Bangsa menyelenggarakan sebuah konferensi pada 1972. Dalam United Nations Conference on the Human Environment itu dinyatakan bahwa human environment kita telah berubah dan “lingkungan hidup bukan hanya diubah oleh manusia tetapi dihancurkan oleh manusia.” Jadi, kita mesti meninjau kembali cara membangun bumi ini. Setelah konferensi, lahir the United Nations Environment Programme (UNEP). Di dalam lembaga itu berkembang aneka pemikiran yang hendak meninjau kembali proses pembangunan selama ini. Apa betul kita harus selalu merusak alam? Apa betul spring itu sunyi, burung dan segala macam itu mati? Kalau burung mati, ia tidak bisa menyebarkan bibit. Kalau bibit tidak disebar, tumbuhan untuk makanan manusia berkurang. Jadi, ada koneksi dan siklus di antara manusia, hewan, burung, cacing, air, dengan iklim. Ekosistem tidak boleh diputus dan dipatahkan.

Kehidupan ini seperti jaring laba-laba. Jejaring itulah yang menghubungkan semuanya. Matahari menyinari lautan, air laut menguap, uap ditiup angin menjadi butiran air yang turun ke bumi menjadi sungai dan kembali ke laut. Hewan cacing membuat lubang, air masuk ke lubang ini dan memungkinkan akar tumbuh. Cacing punya predator bernama ayam, misalnya. Ayam musuh musang, musang musuh harimau, dan seterusnya. Kenapa ada predator? Seandainya predator punah, maka meledaklah hama, musang, tikus, dan sebagainya. Maka keseimbangan atau equilibrium menjadi kata kunci. Kemudian dicari satu “bentuk” pembangunan. Bisakah kita membangun tanpa mengubah keseimbangan alami antara manusia dan alam? Alam memang berubah, tetapi ada threshold (ambang batas). Di atas ambang batas, perubahan itu akan menjadi negatif. Lahir konsep sustainable development (pembangunan berkelanjutan). Pembangunan terus berlanjut, dan alam harus mendukung kemungkinan pembangunan berkelanjutan, agar kesejahteraan manusia bisa meningkat. Pendek kata, alam “bertugas” menunjang kesejahteraan umat manusia. Karena itu, tidak dipertentangkan antara pembangunan dan lingkungan. Kata kuncinya adalah threshold. Jejaring kehidupan akan “mati” bila melewati ambang batas, dan akan tetap utuh serta tumbuh bila berada di bawah ambang batas.

Dalam perkembangan seperti itu, model pembangunan yang banyak memanfaatkan teknologi mau tidak mau harus disesuaikan; bukan teknologi yang eksploitatif, tetapi teknologi yang memperkaya. Maka lahir pembangunan dengan teknologi added value (nilai-tambah). Apa teknologi yang dianut? Tebang pohon di hutan. Mengapa pohon itu ditebang? Kenapa kita tidak memperkayanya, misalnya, dengan memanfaatkan kulit kayu menjadi bahan baku obat. Atau mikro organisme yang dibutuhkan oleh industri kosmetik, jamu, dan lain-lain. Mikro organisme juga bisa dijadikan bahan baku obat atau makanan seperti tempe. Jadi, manusia bisa menjadikan sumber daya alam sebagai produk yang bermanfaat tanpa harus menghancurkan alam. Contoh lain lintah atau pacet tanah yang mempunyai bisa hirudin. Kita menganggap hewan itu tidak bermanfaat. Sebenarnya, hirudin bisa dijadikan obat untuk memecahkan kekentalan darah, sumber penyakit stroke dan serangan jantung.

Dengan kemampuan ilmu dan teknologi, ada beberapa teknologi yang tidak eksploit tapi memperkaya, seperti bioteknologi, bioinsektisida, biopestisida, biofertilizer, bioagrikultur, bio-arsitektur, dan sebagainya. Umpamanya, bentuk rumah lebah. Sarang lebah itu seperti rumah susun terdiri dari lima sisi, bukan empat sisi. Anehnya, kecuali air hujan, udara dan sinar matahari dapat masuk keluar dengan leluasa. Jadi, ada satu atau beberapa hal yang dapat dipelajari manusia dari dunia hewan, seperti letak atau struktur rumah yang ideal; yang kemudian “melahirkan” ilmu feng shui. Alam ini penuh dengan ilmu yang dapat kita manfaatkan. Intinya adalah kita mempelajari pembangunan dari alam, sehingga pembangunan tidak merusak alam. Kerusakan alam paling dahsyat adalah perubahan iklim yang membuat air laut naik dan bisa menenggelamkan beberapa pulau kecil seperti Maldives. Bila air laut pasang, pulau itu nyaris tenggelam. Kenapa 10-15 tahun lalu ia tidak tenggelam? Kenapa permukaan laut naik? Molekul-molekul menyebar. Mengapa menyebar? Bumi panas. Mengapa bumi panas? Climate change! Sebagian pakar memperkirakan Maldives akan lenyap ditelan lautan sekitar tahun 2025-2030. Kalangan bisnis, politikus, dan pemerintah yang tahu bahwa permukaan air laut telah naik menghitung sekitar 5 tahun lagi Maldives tenggelam. Mereka berpikir dalam jangka pendek, sedangkan perubahan alam terjadi dalam jangka panjang.

P: Mengapa isu perubahan iklim ditentang sebagian masyarakat?

ES: Orang itu is living in today’s world, he doesn’t care about tomorrow. Semakin bertambah usia, semakin tidak peduli, tapi besok tidak bisa lagi demikian. Jadi, yang harus sensitif terhadap perubahan itu kaum muda. Mereka yang memasuki usia senja tentu tidak akan menyaksikan tenggelamnya 2.000 pulau Indonesia pada 2030 nanti. Mereka tidak akan melihat naiknya permukaan laut di pantai utara Jawa. Generasi muda yang akan mengalaminya. Status quo oriented adalah jawaban mengapa “generasi tua” tidak terlalu peduli. Sebagian besar orang yang tidak peduli adalah, pertama, karena tidak berpengetahuan, tetapi menghendaki kenyamanan, dan, kedua, generasi yang hidup dalam kekinian dengan jangkauan pemikiran ke depan sangat terbatas. Sebagian besar intelektual juga tidak bisa menerangkan secara sistematis kepada generasi muda. Itu menjelaskan kenapa dunia terpecah, kelompok negara maju yang sudah mapan dan tidak mau berubah. Siapa yang paling tidak mau berubah? Amerika Serikat di bawah Bush tidak mau menandatangani Protokol Kyoto dan Obama tidak mendapat mandat dari Senat untuk menghadiri konferensi di Kopenhagen. Siapa di belakang semua itu? Lobi minyak dan Wall Street. Siapa mereka? The current industrialists. As a matter of interests, ada cara pandang jangka pendek versus jangka panjang antara kelompok-kelompok mapan dan “pembaru”.

P: Kenapa persoalan ekonomi dan lingkungan yang telah lama dibicarakan di Indonesia sejak tahun 1970-an belum juga selesai hingga kini?

ES: Pihak-pihak yang membicarakan soal perubahan iklim hanya di lingkungan UNEP saja. Dana Moneter Internasional, Bank Dunia, dan organisasi-organisasi “Wall Street’s”, enggan menyinggung soal itu. Ketiganya memang sangat berkepentingan dengan perekonomian yang didikte oleh mekanisme harga (price mechanism). Namun, mekanisme harga di situ tidak menyentuh atau menanggung biaya lingkungan. Harga bahan bakar minyak harus disubsidi supaya tarif angkutan murah. Operasi Kereta Api Parahyangan dihentikan karena lebih mementingkan pengembangan jejaring jalan tol. Padahal, meski memang tidak “nyaman”, moda transportasi kereta api itu jauh lebih bersih, tidak ada CO2. Kereta api rakyat “dimatikan” karena kalah bersaing dengan kendaraan ber-CO2. Lantas, siapa yang membayar CO2? No one. Kita menyubsidi CO2. Kita membiarkan harga bensin tetap rendah. Siapa akhirnya yang membayar CO2? Mereka yang tidak mampu. Bayi-bayi di bawah usia 5 tahun meninggal karena udara tercemar. Kereta api rakyat mati karena tidak mampu bersaing dengan kendaraan ber-CO2. Semua lembaga ekonomi, termasuk Wall Street, World Bank, WTO, bekerja dalam “ekonomi yang terdistorsi” (distorted economy). Biaya lingkungan tidak dimasukkan dalam struktur harga dan otomatis diabaikan.

Padahal, selama dua belas bulan matahari terus-menerus bersinar. Kenapa kita mengembangkan sumber “energi surya” (solar energy)? Kita memiliki pantai sepanjang 80.000 kilometer. Kenapa “energi dari gelombang laut pantai” (beach energy) tidak berkembang? Indonesia memiliki ratusan sungai. Kenapa mikrohidro tidak jalan? Semua kalah dengan bahan bakar fosil yang disubsidi. Semua orang pasti akan ribut bila saya bicara soal naikkan harga bensin. Orang tak peduli dengan pencemaran yang diakibatkan pemakaian bahan bakar fosil. Setiap orang mau serba murah. Murah berarti ongkos pencemaran dan kerusakan lingkungan tidak dipikul oleh pengusaha.

Gerakan lingkungan sesungguhnya sedang menghadapi “kegagalan pasar” (market failure) dalam menampung atau mengatasi biaya-biaya lingkungan. Lembaga internasional seperti UNEP memang telah tumbuh, tetapi tidak pernah bisa masuk ke dalam WTO, IMF, dan World Bank, untuk dapat menentukan perekonomian internasional. Siapa yang menentukan perekonomian dunia? Negara-negara industri maju yang mengendalikan dan mengandalkan bahan bakar dasar berupa bahan bakar fosil. Itulah — market failure, interest group para industrialis, serta mereka yang menghadiri “Davos” — yang mencemari dunia dan menguasai hampir semua media massa. Ketika hendak membahas climate change, lahir Inter-governmental Panel on Climate Change berisi ratusan ilmuwan. Di kalangan ilmuwan sendiri muncul silang-pendapat. Ada yang mengatakan citra IPCC “terlalu menakutkan”, omong kosong, dan sebagainya. Di Indonesia sendiri masih banyak yang menyetujui pemakaian batu bara sebagai bahan bakar. Banyak hutan di Kalimantan dibabat habis untuk dijadikan areal tambang batu bara. Artinya, interest group yang hidup dengan pola business as usual tetap bergeming.

P: Bagaimana caranya supaya biaya-biaya lingkungan masuk ke dalam perhitungan bisnis?

ES: Prinsip pertama pola pembangunan tidak dibangun dalam jangka pendek, bukan sepanjang dia berkuasa, baik di pemerintahan maupun di bisnis. Ia harus dibangun dalam jangka panjang dan berkelanjutan. Alam itu selalu berlanjut! Ayam bertelur, dan telur akan menjadi ayam. Pohon pepaya atau pisang akan berbuah. Setelah itu mati, berbuah, mati, dan begitu seterusnya. Manusia juga seharusnya melakukan seperti itu. Apa yang mendorong pembangunan berkelanjutan? Sumber daya alam, baik yang tidak bisa diperbarui maupun yang dapat diperbarui. Misalnya, timah di Pulau Bangka yang akan habis pada 2030. Bagaimana bila mesin pertumbuhan di Bangka berhenti lantaran kehabisan timah? Saya pernah mengatakan, “pemerintah daerah Bangka tumbuh maju dengan mengandalkan non-renewable resource, tetapi jangan semua dihabiskan. Anda juga harus ‘menanam’ pada renewable resource berupa pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata, dan human resource seperti Singapura. Ketika timah habis, bisa beralih ke situ.”

Tumpuan pembangunan berkelanjutan adalah renewable resource yang ditopang oleh “kekuatan akal”, seperti Swiss atau Singapura. Karena itu, hasil sumber daya alam seperti minyak bumi jangan dihabiskan. Minyak Indonesia akan habis pada 2015. Bila minyak habis, apa yang dapat menggantikannya. Brain power! Kedua, dua pertiga wilayah Indonesia berupa laut penuh dengan aneka ikan. Ikan itu akan selalu memperbarui diri. Kita jangan over fishing. Sayangnya, jumlah ikan di Selat Sunda, Selat Malaka, Selat Bangka, Selat Bali, dan Laut Jawa, mulai menurun drastis karena over fishing. Begitu pula hutan. Hutan itu renewable resource, tetapi kecepatan menghancurkan hutan lebih besar daripada kecepatan menumbuhkan hutan. Jalan keluarnya seperti tukang cukur yang menggunting rambut setiap bulan. Dia hidup dari rambut kita yang dia gunting. Bila dianalogikan dengan hutan, dia hidup dari hasil hutan yang bisa dia ambil. Diameter pohon tumbuh 1 cm setiap tahun. Setelah 60 cm ke atas, pohon itu bisa ditebang. Akan tetapi, untuk mencapai diameter setebal itu butuh waktu puluhan tahun. Jangan ditebang. Dulu ada yang namanya “tebang pilih tanam Indonesia” dan “hutan tanaman industri.” Apakah pabrik bubur kertas dan kertas boleh didirikan? Boleh, tetapi harus menanam pohon terlebih dahulu sebelum membangun pabrik. It can be done, mengikuti teori “gunting rambut”, dan dengan teknologi yang bisa menaikkan nilai tambah.

P: Apa strateginya?

ES: Seorang teman pernah mengatakan kepada saya bahwa satu hektar hutan di Riau memiliki mikro organisme yang bisa menjadi bahan kosmetik, obat-obatan, dan produk lain dengan nilai seratus ribu buah kelapa sawit. Akan tetapi, dia menghendaki brain power. Strategi pembangunan yang selalu saya dorong adalah value added terrestrial (daratan) dan tropical rainforest based development. Indonesia adalah pemilik hutan hujan tropis nomor 2 terbesar setelah Brasil. Indonesia juga memiliki dua pertiga kawasan laut tropis. Indonesia merupakan satu-satunya kepulauan di khatulistiwa. Artinya, mikro iklim di Aceh berbeda dengan Banten, Manado, atau Papua. Jenis tanah dan tanamannya juga beraneka. Itu kekuatan Indonesia. Buah durian yang tumbuh di Kalimantan berbeda dengan durian Riau, Jawa Tengah, dan sebagainya. Begitu pula bunga. Belanda mengembangkan koekenhoff dan mengekspor bunga ke seluruh Eropa. Bunga yang dibiakkan di dalam rumah kaca itu sesungguhnya adalah bunga Indonesia! Seluruh Indonesia adalah rumah kaca. Kita membutuhkan otak, ilmu pengetahuan dan teknologi supaya bunga itu tidak cepat layu. Laut pun bukan sekadar ikan, ada terumbu karang, padang lamun, rumput laut, dan sebagainya. Semuanya adalah bahan baku untuk obat-obatan, kosmetik, dan sebagainya, yang belum digarap maksimal. Apakah bisa resource base yang unik, yang tidak ada di Eropa, Jepang, China, dan Amerika itu, ditambah kekuatan otak membuat kita punya posisi yang sangat kuat. Kita menghadapi China tidak dengan kekuatan otot. Kita punya tropical marine, tropical rain forest, pacet, dan lain-lain. Jadi, dalam rangka menghadapi persaingan dengan negara lain, arah pembangunan dengan nilai tambah berbasis sumber daya alam, ilmu, dan teknologi harus dikembangkan dengan sungguh-sungguh. Bioteknologi harus kita pelopori dengan memanfaatkan keunikan sumber daya alam daratan dan lautan.

Sekarang, kita harus menghadapi perubahan iklim. Bagaimana cara menghadapinya?Ambil contoh Negeri Belanda yang berada di bawah permukaan laut. Mereka memiliki teknologi dan alat yang memang sangat mahal. Suku Bajo di Indonesia mencari mata pencaharian dan bermukim di atas laut. Bila pergi ke Sungai Musi, Batanghari, atau Barito, kita dapat menyaksikan beberapa rumah yang mengambang di tepi sungai. Kenapa mereka yang berdiam di rumah-rumah itu tidak memasang alat peredam (shock breaker) seperti mobil, sehingga penghuninya tidak bergoyang ketika diterpa gelombang sungai. Kenapa tidak ada teknologi yang bisa meredam gelombang air laut, sementara penghuninya tetap mantap di dalam rumah? Itu yang saya maksud science and technology. Kita ini negeri kepulauan dengan 17.508 pulau. Untuk memasok energi dibangun kabel melintasi laut atau selat. Kabel ditanam di bawah laut atau selat. Itu tidak cocok. Kenapa tidak membangun energi per pulau? Kalau per pulau, maka ini berarti lokal. Kalau lokal, berarti sumber energi lokal bisa berupa sinar surya, angin, hujan, hydropower, biomassa dan sebagainya. Jadi, tidak cocok kalau kita membangun sistem energi terpusat di satu tempat.

P: Indonesia punya cadangan karbon dan hutan gambut yang besar. Bila lahan gambut dibuka, karbon akan terlepas ke udara. Di sisi lain, Indonesia harus menumbuhkan perekonomian sekaligus melestarikan lingkungan. Bagaimana kedua hal itu bisa jalan bersamaan. Memang bukan isu baru, tetapi kerusakan hutan belakangan ini tampak kian meluas. Artinya, dari sisi kebijakan mungkin bagus, tapi bagaimana dengan soal birokrasi, koordinasi, dan penegakan hukum?

ES: Kalau berbicara perubahan iklim, kita bicara tentang iklim yang dipengaruhi oleh pencemaran dari China, Jepang, Amerika, dan sebagainya. Bumi ini seperti pesawat terbang. Negara-negara maju berada di kelas satu, sedangkan kita duduk di kelas ekonomi. Saya katakan kepada penumpang kelas satu, “You mengisap cerutu yang asapnya masuk ke ruang kami. Kami mendapat dampaknya. Kami mampu menyerap asap itu dengan hutan-hutan kami dan sebagainya. Kalian menikmati cerutu itu, sementara kami menampung asap itu. Kalian tidak membayar kami. Di mana keadilan itu?” Kemudian saya mulai membangun. Saya juga mengeluarkan asap, tetapi tuan marah, “Jangan, kalau kamu keluarkan asap juga, pesawat akan penuh asap dan pengap!”

Sebagaimana diketahui, total emisi Amerika Serikat adalah 27 persen dari seluruh dunia. Amerika, Eropa, Rusia, dan negara maju lainnya total menyumbang 65-70 persen emisi. Jadi, asap di kapal terbang itu 70 persen berasal dari kelas satu. Sekarang, saya mau membangun dan minta ruang. Karena saya membangun dengan memakai teknologi kamu, maka saya juga mengeluarkan asap. Saya perlu ruang 30 persen untuk dicemarkan. “Jangan ke ruang kelas satu, nanti penuh.” Kalau jangan, maka kalian yang harus turun dari 70 ke 40, dan kami naik menjadi 30 persen. Jadi, asap yang beredar di kabin  pesawat tetap 70 persen. “Oh, tidak bisa begitu, itu menghambat pembangunan,” kata mereka. Kalian bilang tidak mau turun karena menghambat pembangunan kalian, tetapi kami tidak boleh naik karena akan merusak kalian. Tidak fair! Itu intinya.

Negara berkembang memerlukan ruang untuk pencemaran. Batas 450 ppm, kenaikan suhu 2 derajat Celcius, itulah yang 70 persen. Itu pertempuran pertama. Pertempuran kedua, “kalian menghasilkan 70 persen, tetapi tidak membayar sepeser pun. Kami menyerap 70 persen itu dengan pohon, lahan gambut, dan laut kami. Apa imbalan untuk kami? Andai kami membuka hutan, 70 persen itu tentu tidak bisa diserap dan akan mengganggu kalian. Apa imbalannya? Lahirlah REDD (Reducing Emissions from Deforestation dan Degradation). Pertempuran ketiga, kami ini duduk di kelas ekonomi yang terkadang tidak diberi makan dan minum. Kalian bebas membuang beraneka macam asap dan dapat tidur nyenyak belasan jam dalam perjalanan udara dari Washington ke Jakarta. Kami ingin rakyat kami juga maju dan menikmati kenyamanan. Nah, untuk maju, kami perlu ruang untuk dicemari. Kalau kalian tidak bersedia ruang kalian dicemari, maka transfer teknologi supaya kami tidak mencemari ruang kalian.

Apa kata Bush? “We have a technical cooperation”. Good! “But through the private sector.” Kami harus membayar teknologi, karena sektor swasta tidak memberi hadiah. Artinya, negara berkembang harus membayar alih teknologi dari negara maju. Selain itu, negara berkembang juga diharuskan menjaga dan menurunkan emisi. Jangan mencemarkan. Kurang ajar itu kan!, tapi kami mau membangun supaya rakyat kami yang miskin bisa makan. Karena kami tidak boleh mencemarkan, maka kalian harus bayar bukan sebagai “bantuan” (aid), tetapi sebagai sebuah “kewajiban” (obligation). Karena kalian yang mencemarkan, kami yang menjadi korban. Lahirlah common but different-iated responsibility. Bumi ini adalah tanggung jawab kita bersama. Kita berada di pesawat yang sama, tetapi ruang kita berbeda. Kalian di kelas satu, kami di kelas ekonomi. Beban dan tanggung jawabnya tentu berbeda. Bagi kami, yang sangat penting di dalam pembangunan itu adalah bagaimana menurunkan kemiskinan. Iklim memang penting, tetapi kalau kami harus membayar 1 dolar untuk membeli alat pengendali climate change, berarti dolar itu tidak bisa dipakai untuk membuka lapangan kerja mengatasi kemiskinan. Climate change mungkin baru akan terjadi 5-10 tahun ke depan, tetapi rakyat kami tidak bisa menunggu hari esok untuk makan. Ini prioritas utama kami. Namun, bila kalian memberi kami cara bagaimana membangun keduanya (the co-benefit approach) melalui transfer teknologi dan co-funding, maka pembangunan itu akan bepengaruh ganda—pengentasan kemiskinan sekaligus pengurangan CO2.

P: Presiden SBY telah menetapkan target penurunan emisi Indonesia sebesar 26 persen. Apakah itu sudah mencakup alokasi sumber daya untuk menurunkan tingkat kemiskinan?

ES: Mengapa Indonesia secara sukarela mengajukan diri, tidak menunggu Kopenhagen? Sejak bulan Oktober, Indonesia sudah komit minus 26 persen dari business as usual. Kalau berjalan seperti biasa, tahun 2000, 2020, 2050, bumi semakin panas. Dampaknya akan sangat dirasakan oleh negara-negara kepulauan yang berada di sekitar garis ekuator, bukan Zaire, Kongo, Brasil, Eropa, Amerika Latin, Kanada, Rusia, atau Jepang. Perubahan iklim terbesar akan terjadi di sekitar garis ekuator. Indonesia termasuk yang menjadi korban, sedangkan es di Himalaya, Kanada, dan Alaska, akan mencair. Mereka mendapat tanah tambahan. Air laut bisa diolah menjadi air tawar, tetapi tidak ada yang bisa membikin tanah. Mereka dapat tanah “baru”, sedangkan kita tenggelam. Sampai saat ini tercatat 29 pulau di Indonesia yang telah tenggelam, menyusul menciutnya luas tanah di 2.500 pulau. Bagi Indonesia, isu perubahan iklim bukan hanya soal diplomasi semata, tetapi lebih as survival of the nations. Kalau kita hanya menunggu, berjalan seperti apa adanya, Tanah Air kita bisa tenggelam.

Kedua, apa yang dimaksud perubahan iklim? Curah hujan yang tak menentu dan air menguap cukup cepat. Apa makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia? Beras. Makanan pokok kita itu sangat bergantung pada air. Bila menguap dengan cepat, bagaimana kita bisa menanam padi tanpa air? Ketiga, adanya perubahan curah hujan yang semula berlangsung bulan September-Desember, kita bekerja di sawah menanam padi, atau mendengar alunan suara kodok. Iklim tiba-tiba berubah. September belum turun hujan. Begitu pula di bulan Januari, Februari, dan April. Air hujan tidak kunjung turun. Akibat tak menentunya curah hujan, pola tanam menjadi kacau. Keempat, penyakit. Muncul penyakit-penyakit baru yang tidak pernah kita kenal, yang terkait dengan kekeringan maha dahsyat. Jadi, soal perubahan iklim bukan sekadar pidato, tetapi lebih pada kelangsungan pulau-pulau, kelangsungan pangan. Bagaimana kita bisa memelihara ketahanan pertanian kita yang didera aneka macam perubahan musim? Bagaimana kita bisa menanggulangi munculnya penyakit yang berkaitan dengan kekeringan seperti malaria, disentri, dengue, dan lain-lain.

P: Bagaimana mengubah sikap dan mental masyarakat termasuk aparat, sementara mereka ini tidak terlalu peduli dengan perubahan iklim?

ES: Mengubah mental sangatlah sulit. Kuncinya adalah “rencana tata ruang” (spatial planning). Dalam merencanakan tata ruang, kita harus mengetahui secara pasti sumber-sumber daya yang ada, termasuk air yang mengering atau perusakan lahan gambut yang dapat melepaskan CO2 ke udara. Memang, persoalannya kita selalu business as usual. Seluruh Riau, Kalimatan Barat, Kalimantan Selatan, dan Papua, dijadikan perkebunan kelapa sawit. Kita harus meninjau ulang kebijakan itu. Memang tidak mudah, kalau kita mau berubah. That is the battle. Jadi, presiden mengajukan komitmen pengurangan emisi minus 26 persen itu tidaklah gampang. Sangat jarang presiden yang mau melawan arus, apalagi para investor yang sudah bergelimang uang. Itulah tantangan bagi keputusan politik.

Sekarang, aparat harus mendukung penuh. Namun, Indonesia ini ibarat kapal tanker besar. Bila mau mengubah haluan, ia tidak bisa secepat speed boat. Bila mau banting haluan, radius putarnya sangat lebar. Akan tetapi, kita tetap harus memutar haluan. Kenapa lambat? Karena kita ini kapal tanker. Apalagi seorang bupati yang hendak gunting pita pada tahun ke-5, merayakan keberhasilannya dalam memimpin suatu daerah. Dia ingin dipilih kembali, tetapi tidak diperbolehkan memperluas areal perkebunan kelapa sawit yang selama itu menjadi andalan perekonomian daerahnya. Bagaimana caranya supaya dia terpilih kembali? Maka, terjadilah konsultasi antara pemerintah pusat dan daerah. Indonesia itu sedang mencari perubahan di tengah semaraknya otonomi atau desentralisasi. Pemerintah pusat tidak lagi berkuasa seperti zaman Pak Harto. Ia berhenti pada level provinsi. Gubernur tidak bisa mengatur langsung bupati. Bupati punya DPRD. Bupati sendiri dipilih langsung oleh rakyatnya. Kalau zaman dulu, hitam kata Pak Harto, hitam kata kabinet, hitam kata gubernur, hitam pula kata bupati. Ada Kopkamtib, Babinsa, Korpri, dan Golkar. Hitam di sini, hitam pula di sana. Kalau sekarang, hitam kata SBY, belum tentu hitam kata kabinet koalisi. Gubernur dan DPRD dipilih langsung, “Saya ini dipilih rakyat.” Begitu pula bupati, “Aku juga dipilih rakyat.” Kita berkata hitam, belum tentu di sana hitam. Pendek kata, kepemimpinan yang sekarang tidak sama dengan kepemimpinan di zaman Pak Harto.

P: Bagaimana menyatukan persepsi yang berbeda seperti itu?

ES: Perlu pertimbangan mendalam. Saya melihat pertemuan pemerintah pusat dan pemerintah daerah di Cipanas, Tampak Siring, Bidakara, itu sebagai proses pembelajaran. Indonesia bukan hanya Riau. Indonesia juga bukan hanya Papua. Kalau kalian menuntut semua hasil pendapatan minyak bumi hanya untuk daerah kalian saja, lantas bagaimana dengan Nusa Tenggara Barat? Tingkat kematian bayi di provinsi itu tinggi, sementara tingkat pendidikan di NTT tercatat paling rendah. Komunikasi dari Aceh ke NTT memang tidak mudah. Jadi, yang bisa menyatukan adalah common plan, perencanaan bersama seperti fokus pada “pro-growth, pro-job dan pro-poor.” Presiden selalu mengimbau jangan terfokus pada soal ekonomi saja, tetapi juga pada millennium development goal, kemiskinan, tenaga kerja, dan sebagainya. Selama ini, bupati melulu berkampanye soal ekonomi. Mind set-nya selalu ekonomi. Misalnya, kapan hutan bisa dibabat habis? Mereka memandang hutan sebagai free resource. “Meningkatkan pendapatan asli daerah”, demikian bahasa seorang bupati. Apa yang dimaksud dengan pendapatan asli daerah? Sumber daya yang ada, hutan. Bagaimana menghadapi semua itu? Bapak tidak berkuasa lagi, tidak bisa memberi instruksi ke bupati, you don’t instruct the bupati, you talk to the bupati. Dalam era otonomi daerah, kekuasaan sudah dibagi habis. Presiden bertanggung jawab secara nasional, gubernur di tingkat provinsi, bupati di kabupaten, dan lain-lain. Kita sekarang berada dalam dunia yang sama sekali berbeda. Sayangnya, masih banyak orang yang belum menyadari soal itu. Governance (tata kelola) itu pun belum disetel secara mantap.

P: Menurut perhitungan Anda, kita butuh waktu berapa lama untuk putar haluan?

ES: Tahun 2014 adalah transisi. Setelah 2014, generasi seangkatan saya sudah “habis” diganti generasi lebih muda. Saya percaya pada generasi muda. Mereka hebat dan memiliki idealisme tinggi. Itulah generasi yang akan membelokkan tanker itu. Kita sekarang sedang berusaha membelokkan kapal itu.

P: Kalau dampak perubahan iklim pada hasil panen dan segala macam, adakah penurunan produksi akibat perubahan iklim?

ES: Karena menanam pada saat tidak tepat. Perubahan iklim mengakibatkan musim tanam berubah. Akan tetapi, bila Anda tidak mengubah musim tanam, siap pada waktu masih muda, kemudian ditimpa hujan, semua pasti akan busuk. Tanaman padi akan gagal panen karena tidak tepat waktu. Kenapa pemerintah tidak memberi tahu? Karena kita ini mikro iklim. Luas wilayah Indonesia seperti jarak dari London hingga Teheran. Secara nasional, iklim kita tidak sama. Curah hujan di Aceh lain dari Papua. Kita harus terjemahkan per mikro iklim yang berbeda-beda itu. Dulu fluktuasi tidak sedahsyat sekarang, sehingga orang bisa bilang musim hujan datang bulan September, Oktober, November, dan Desember. Namun, dengan perubahan iklim, fluktuasi menjadi berbeda di setiap daerah. Intensitas hujan di antara musim hujan dengan musim kemarau berbeda. Perubahan iklim juga menyebabkan intensitas hujan yang berubah, lebih besar pada waktu musim hujan dengan waktu lebih pendek. Saat musim kemarau, kekeringan akan lebih panjang. Lembaga Biologi Nasional LIPI sedang mengusahakan bibit padi tahan kering, dan tahan basah supaya tidak lekas busuk. Pokoknya, mencari bibit padi yang lebih cocok dengan perubahan iklim. Jadi, kita harus hidup dalam struktur iklim yang sama sekali berbeda.

P: Bagaimana kita menghadapi perubahan iklim, dan apa saja yang harus dipersiapkan?

ES: Kita mesti berpikir jauh ke depan seandainya pulau-pulau mengalami masalah naiknya permukaan laut akibat perubahan iklim, sehingga area daratan menjadi berkurang. Mungkin kita mencari pola tanam lain seperti pohon sagu. Kita ambil skenario terburuk. Kalau permukaan laut meninggi, pohon yang tinggi masih bisa bertahan, bukan padi-padian yang habis tergenang air. Pohon yang karbohidrat-nya tinggi dan kuat adalah sagu. Menurut seorang ahli, bila kita menanam sagu seluas Jawa Barat, ini bisa memberi karbohidrat untuk 220 juta penduduk Indonesia. Karena itu, menghadapi perubahan iklim, kita harus berpikir seperti berperang. Pantai kita bakal digerogoti air laut. Ketika surut, tanamlah bakau di area tersisa sampai garis pantai. Sewaktu tanaman bakau itu tumbuh berkembang, garis pantai sudah makin menjorok ke laut. Ada garis pantai yang baru. Kita berperang melawan perubahan itu dengan merebut dan menduduki tanah yang surut dengan pohon bakau. Kita mempunyai 80.000 km garis pantai. Tak terperikan bila separuhnya saja kita tanami bakau. Bagaimana orang-orang mau menanam bakau? Bisa tidak pohon bakau dicangkok dengan jenis tumbuhan yang bermanfaat seperti buah-buahan, misalnya. Maka, areal tanaman bakau itu bisa menjadi perkebunan. Coba kita bayangkan sepanjang pantai yang 80.000 km itu berubah menjadi perkebunan buah-buahan. Dengan demikian, benteng pantai kita tetap terpelihara. Jadi, yang semula harus investasi membangun benteng tinggi seperti Negeri Belanda, sekarang orang berebut mendapat tambahan tanah dan pendapatan. Kita didukung oleh masyarakat, dan bersama-sama berperang melawan perubahan iklim. Seperti Suku Bajo, kita tidak melawan alam tetapi hidup bersama alam•