Jurnal Pemikiran Sosial Ekonomi

Gerak Tanpa Henti Menuju Tengah

Daniel Dhakidae

Kelas menengah selalu membingungkan sebagai konsep dan tidak meyakinkan sebagai kekuatan, dan malah keberadaannya dipersoalkan. Kalau ada kemajuan —ekonomi berkembang, kebudayaan gilang-gemilang, kesusastraan menerabas kedalaman bumi dan mencakar ketinggian langit, teknologi menawarkan sesuatu yang tidak pernah diimpikan generasi nenek moyang -- kesimpulan umum mengatakan kelas menengahnya bergairah dan menggairahkan.

Sebaliknya pun terjadi; bagi ketiadaan kemajuan kesalahan ditimpakan kepada kelas menengah. Kalau kelas itu ada dikatakan tak bertenaga, kalau tidak ada dikatakan bangsa itu sial, dan gagal.

Bergerak Tak Kenal Batas

Ada atau tidak adanya kelas menengah Indonesia selalu dan akan terus dipersoalkan serta senantiasa bertolak dari sesuatu yang begitu ekstrem dari yang mengatakan ada “kelas menengah” itu yang membuat bangsa ini ada sebagaimana adanya sekarang. Ada juga pihak yang mengatakan bahwa “kelas menengah” hanyalah bayang-bayang baur. Yang ada hanyalah dua kelas, yaitu kelas penindas di atas dan kelas penderita di bawah; hanya pemilik modal di satu pihak dan para penjual tenaga di pihak lain. Tidak lebih dan tidak kurang. Siapa pun yang mendaku berada di tengah adalah kaum profiteur dan pengeruk keuntungan yang bukan menjadi haknya.

Bahasa Indonesia sendiri tidak/kurang menunjang diskursus itu. Dari segi linguistik pun istilah yang ramai dipakai sebetulnya tidak diperkenankan oleh bahasanya sendiri meski semua melawannya dan dalam arti tertentu berhasil melawannya. “Kelas menengah” dalam paham kaum gramarian berarti kelas yang sedang bergerak menuju/menjadi “tengah” — bisa dipadankan dengan “memutih, menguning, melebar” dan lain-lain — yang pada gilirannya, karena belum diisi, mengandaikan ketiadaan “kelas tengah” itu.

Baru ada sesuatu yang sedang bergerak ke arah ruang yang masih lapang, kosong. Dalam paham tersebut memang tidak atau belum ada “kelas tengah” itu karena yang disebut sebagai “kelas tengah” adalah sesuatu yang baru dalam tahap awal untuk menjadi dan belum terwujud, semacam perpetuum mobile — alias sesuatu yang bergerak tak sampai-sampai ke tujuan dan dalam bahasa fisika pun disebut sebagai “without doing any useful work”.

Kekepalabatuan untuk terus-menerus memakai “kelas menengah” dan menggusur “kelas tengah” adalah wujud tingkah berbahasa, linguistic behavior, untuk mengabadikan kebingungan itu.

Kelas Tengah Kolonial

Sejarah Indonesia sendiri memberikan latar belakang yang mengenaskan mengenai soal kelas yang berada di tengah itu. Darah, warna kulit, raut muka menentukan di mana seseorang berada di dalam lapis-demi-lapis kelas itu. Mengenaskan karena seluruh rekam-jejak rasial berada secara utuh di baliknya ketika masyarakat Indonesia itu dibagi-bagi secara tajam berdasarkan ras dan segala atribut yang melekat pada ras beserta kelakuan yang dipantau berdasarkan ras. Bahkan berpakaian pun diatur berdasarkan kelompok kelas itu.

Karena diatur menurut darah dan penampakan fisikal, maka penampilan kelas menjadi paling jelas; mereka yang berada di atas adalah Belanda dengan seluruh jajarannya, yakni yang Eropa. Yang berada di bawah adalah inlander dengan seluruh atribut yang melekat pada dirinya. Tidak boleh dan juga tidak perlu diajarkan bahasa Belanda di sekolah, hanya boleh diajarkan bahasa Melayu. Yang berada di tengah adalah yang bisa merapat ke atas, meski golongan Cina dan Arab tidak pernah mendapatkan status gelijkgesteld alias disamakan dengan status atas, Belanda, dalam memakai seluruh atribut yang secara legal diperkenankan. Hanya warga negara Hindia-Belanda berketurunan Jepang mendapat status itu dan disamakan dengan Belanda, golongan atas.

Willem van Bantam

Dalam arti itu sangat bermanfaat di sini untuk mengungkapkan bagaimana seorang inlander sungguh-sungguh berjuang demi “kelas menengah,” dalam arti harfiah, yaitu berusaha untuk bergerak menuju tengah dari seorang inlander menjadi birokrat Belanda pertama Indonesia dengan status tertinggi.

Sebagai putera seorang bangsawan boemipoetra pesantrenlah yang menjadi idaman tempat bersekolah pangeran Aria Achmad Djajadiningrat pada tahun 1890-an, Jawa akhir abad kesembilan belas. Namun, kebutuhan modern merangsang pamannya untuk menyekolahkannya di sekolah Barat. Akan tetapi, kebangsawanan sama sekali tidak menentukan bahwa dia bisa bersekolah di sekolah orang Belanda; darah boemipoetra mengatakan bahwa yang Barat bukan miliknya. Karena itu, untuk mem-Barat hanya bisa berlangsung dengan bantuan sekumpulan sponsor yang, dalam kasus Djajadiningrat, adalah Engelenberg, seorang guru. Dia yang menitipkannya di keluarga Kampschuur, dan kelak ketika keluarga ini kembali ke Eropa, berpindah ke keluarga Meister. Mem-Barat berarti berkelana dari satu penitipan ke penitipan lain.

Djajadiningrat kelak berjumpa dengan super-sponsor, yang tidak tanggung-tanggung, yaitu Dr Snouck Hurgronje yang pada saat itu sedang berjaya sebagai penasihat pemerintah kolonial di bidang agama Islam dan seorang penganjur utama politik asosiasi yang tidak lain dari suatu usaha kaum etis untuk memasukkan kaum boemipoetra ke dalam yang kini disebut sebagai “kelas tengah” itu.

Hanya dengan rekomendasi Snouck Hurgronje, Djajadiningrat boleh masuk sekolah Belanda di bawah pimpinan Kruseman. Di pihaknya Toean Kruseman tidak rela penerimaan seorang boemipoetera ini menjadi berita dan bahan gunjingan umum di kalangan Belanda karena ada seorang inlander di dalam kelas asuhannya.

Untuk menghindari itu langsung pada hari pertama sekolah Toean Kruseman melakukan sesuatu yang melanggar rasa hormat sang bangsawan Djajadiningrat, yaitu mengganti nama. Dalam pandangan dunia tradisional, penggantian nama hanya mungkin dengan pesta adat dan persembahan kepada para dewata atau pengajian lainnya; atau hanya boleh bila seorang selalu diincar maut dari waktu ke waktu oleh penyakit dan lain-lain.

Mem-Barat bagi Pangeran Achmad Aria Djajadiningrat akhirnya berlangsung dalam suatu ritus yang penuh kesewenang-wenangan ketika sang guru berkata dalam bahasa Belanda:”... Voortaan heet je niet meer Achmad, maar Willem van Bantam” (... untuk selanjutnya kowe tidak lagi bernama Achmad, tapi Willem van Bantam), baca Herinneringen van Pangeran Aria Achmad Djadiningrat (1936).

Sponsor Menuju Kelas Tengah

Riwayat Djajadiningrat menjadi sesuatu yang tipikal terutama karena dua hal yang harus dilaluinya. Pertama, bagaimana memasuki yang disebut “kelas tengah” itu melalui jalan bukan pasar bebas ketika kemampuan individual diandalkan dalam suatu persaingan bebas. Jalan Djadiningkrat adalah jalan “bimbingan” ketika terjadi suatu sponsored mobility ke dalam suatu kelas yang tidak mungkin dicapai tanpa bantuan.

Kedua, jalan itu pula yang menunjukkan betapa harga harus dibayar dengan mengorbankan harkat dan harga diri ketika identitas dipaksakan berubah dan suatu alam baru yang dipaksa dimasuki. Identitas boemipoetra, yang mungkin menjadi otentisitas bertukar wajah dengan yang Barat, yang bila dipaksakan mungkin bisa menjadi identitas, tetapi sulit dikatakan otentik.

Dalam kasus Djajadiningrat yang disebut sebagai class mobility berlangsung hampirhampir secara harfiah ketika momen pergantian kelas itu berlangsung —sebagai seorang ningrat dalam masyarakat Jawa dia harus turun “ke tengah”, yang berarti “menengah”, bergerak ke tengah di dalam masyarakat kolonial yang hanya mengakui ras putih atas.

Untuk itu “Achmad” harus diganti menjadi “Willem” — dua dunia yang mungkin tak terbayangkan bagaimana menyatukannya – latar belakang Islami boemipoetra Achmad dan Kristen-putih Willem.

Jarak Tak Terjangkau Kaum Tengah

Mem-Barat untuk bergerak ke tengah, “menengah”, adalah cita-cita tertinggi boemipoetra dan kaum jajahan pada umumnya. Namun, jarak dari tengah ke atas adalah jarak mustahil. Dan sekali lagi Djajadiningrat menjadi contoh terbaik untuk disimak. Bergerak ke tengah sudah dicapai Djadiningrat secara gilang- gemilang. Dia berbahasa Belanda setuntas orang Belanda; bahasa mengantarkannya ke posisi tertinggi dalam birokrasi Belanda kolonial yang berarti kekuasaan paling besar di kalangan boemipoetra dan berpendapatan tertinggi.

Namun, semuanya ternyata tidak cukup untuk menatap ke atas, ke tempat yang lebih tinggi lagi. Hidup Achmad Djajadiningrat memberikan kesaksian itu ketika dia menjadi seorang boemipoetra pertama yang beraudiensi di hadapan duli yang dipertuan Ratu Wilhelmina. Ketika beraudiensi dengan Ratu Wilhelmina hampir seluruh diri Djajadiningrat sirna ditelan bumi, sang pangeran mendjadi debu di hadapan sang ratu.

Dalam seluruh bagian yang menceritakan audiensi tersebut, nama Ratu Wilhelmina tidak disebut barang sekalipun. Yang diingat bukan wajah akan tetapi suara Sang Ratu yang dibayangkan sebagai merdu, suara yang kalau didengar siapa pun orang itu akan berkata: “Beveel, Majesteit, ik zal alles doen, wat Ge wenscht, zelfs door het vuur loopen voor U” (Menitahlah, Toeanku, maka segala titah doeli Toeankoe patik djoendjoeng, walau patik hendak dititah menempoeh laoetan api sekalipoen).

Ketika ditanya ada yang mau disampaikan, Djajadiningrat hanya melambungkan ingatan kepada Ayah dan Ibunya yang berpesan tentang pengabdian kepada sang Ratoe dan Radja dalam kebijakan Jawa:”… Soemoedjoed lahir lan batin; Ikoe sadjatining èlmoe; Dadasaring kasatrian” (bersujudlah lahir dan batin, itulah ilmu sejati yang menjadi dasar kekesatriaan), tanpa bercerita kepada pembaca apa yang pernah dikatakannya kepada Ratoe Ollanda.

Peristiwa Djadiningrat — karena di depan Ratu Belanda dia lebih penting menjadi Djajadiningrat daripada Willem van Bantam — lebih menjadi peristiwa historis untuk melengkapi dongeng-dongeng serupa di Barat dan di Timur tentang suara “duli yang dipertuan” dan bukan tentang wajah. Ken Arok dinobatkan menjadi ksatria untuk menyelamatkan tanah Jawa hanya dengan mendengar suara Bhatara Guru yang bergemuruh dari langit bertitah: ika angukuhi bhumi Jawa (dia yang akan menyelamatkan tanah Jawa).

Tengah dan Keadilan

Apakah kelas tengah adalah tujuan hidup? Kasus Djajadiningrat hanya menunjukkan bagaimana perjuangan boemipoetra menuju ke tengah, “menengah”, sangat berhasil. Keberhasilan dengan sendirinya membawa korban dan harga yang harus dibayar. Identitas dipertaruhkan, otentisitas digadai.

Dalam satu hal Djajadiningrat membuang darah dan mengambil meritum yang tidak lain dari service, kerja, pencapaian menjadi dasar pengembangan hidupnya sendiri dan pengembangan masyarakat. Mengambil meritum sebagai dasar adalah berpijak pada asumsi bahwa kita dilahirkan sama. Karena kita dilahirkan sama, maka semua akan mendapatkan kesempatan sama menuju tujuan sama pula.

Suatu pengamatan lebih jauh mengatakan bahwa lahir sama hanya pada pandangan pertama berupa penampilan fisikal post partum, yaitu telanjang dan telanjang saja yang universal. Sejak ketelanjangan itu ditutup maka kebudayaan mulai berbicara, dan bicara banyak. Sejak itu sebenarnya mulai berlaku prinsip bahwa kita dilahirkan tidak sama, malah sebelumnya ketika dilahirkan sudah menjadi soal — di rumah atau di rumah sakit, ditolong dukun atau dokter.

Semuanya adalah kebudayaan yang membungkus ketelanjangan itu. Gelar pangeran yang dibawa sejak lahir, tanpa meritum, alas kaki yang dipakai bayi, topi, semuanya memainkan peran secara meyakinkan untuk menunjukkan kelas. Seseorang berpakaian menurut kelasnya. Kesederhanaan pakaian dalam pakaian lusuh menjadi hipokritikal ketika mode pakaian yang disebut sebagai “second hand look” menjadi jauh-jauh lebih mahal dari yang normal.

Dengan begitu kita bisa lahir sama akan tetapi kita tidak pernah hidup sama; hidup adalah perbedaan dari satu ke satu orang, dari satu ke satu bangsa, dari satu ke satu negara. Bagi kaum liberal semakin seorang berbeda maka semakin otentik kehidupan itu. Saya menentukan kehidupan saya, yang berarti kehidupan itu milik saya sendiri. Dengan meningkatnya derajat kemampuan menentukan sendiri kehidupan itu, semakin otentik kehidupan itu.

Adorno dari Frankfurter Schule menyepelekan konsep kesejatian itu. Konsep tersebut dikatakannya sewenang-wenang, lebih menjadi jargon daripada substansi. Aku bukan sekadar aku, akan tetapi aku yang lahir di dalam suatu struktur ekonomi tertentu, sebagai kapitalis, borjuis, atau sebagai pekerja — Djajadiningrat menjadi contoh sejarah sejadi-jadinya.

Kaum Marxis mengatakan itu ketidakadilan. Kaum Marxis mengatakan semuanya itu manipulasi, dan penindasan yang berasal dari manipulasi itu semakin meningkatkan ketidakadilan.

Mengharapkan kelas tengah menjamin identitas adalah menggantang asap. Mempertaruhkan keampuhan kelas tengah menjamin otentisitas sama saja dengan membuang garam ke laut.

Menarik kaum penderita dari cengkeraman manipulasi dan penindasan mungkin jauh lebih bermakna daripada mencari dan tak kunjung bersua dengan kelas tengah itu.•