Jurnal Pemikiran Sosial Ekonomi

Iklim, Ilmu, dan Kekuasaan

Daniel Dhakidae

Apa pun bisa diberikan kepada, dan dikatakan tentang, ilmu kecuali kepastian, karena ilmu tidak mengejar kepastian akan tetapi memecahkan soal, menjawab pertanyaan alam dan masyarakat dalam suatu rentetan tanpa putus antara pertanyaan dan jawaban yang melahirkan lagi pertanyaan dan jawaban baru. Karena itu, bertanya adalah langkah pertama dari ilmu apa pun. Mengajukan pertanyaan yang benar selalu dikatakan sebagai separuh jawaban ada di tangan.

Ilmu keras tidak mempersoalkan opini; ilmu mempersoalkan penemuan yang berarti fakta dan setiap fakta melahirkan pertanyaan baru bagi setiap zaman. Semuanya itu seperti pupuk dan membawa ilmu keras ke dalam perkembangan yang berlipat ganda sejak ditemukan puluhan abad lalu.

Dukungan teknologi, yang sering menjadi anaknya sendiri, membawanya ke puncak-puncak perkembangan dan semakin meningkatkan perkembangan tersebut sebegitu rupa sehingga pada saat tertentu apa yang menjadi misteri pada abad-abad lalu tentang surga dan langit, neraka dan bumi—yaitu pusat-pusat kosmologi kuno—seakan-akan telah dibuka, dan yang disebut misteri seolah-olah menjadi dongeng tentang dongeng.

Paradoks Ilmu

Namun, semakin ilmu berkembang dan semakin mencapai kepastian, kepastian itu berubah menjadi titik awal untuk sesuatu yang baru lagi, yaitu ketidakpastian. Di sana paradoks ke-tidak-pasti-an justru berawal, dan memaksa ilmu itu untuk berproses baru lagi. Berbagai teknologi ditemukan untuk mengintip alam semesta. Penemuan kelompok bintang-gemintang dengan jarak ratusan juta kilometer jadi awal ke-tidak-pasti-an baru tentang apa dan siapa yang mampu menjejakkan langkah di sana, dengan pertanyaan mengusik dari zaman ke zaman apakah ada kehidupan di sana.

Jarak menjadi absolut jauhnya, dan dengan begitu membuat ke-tidak-pasti-an dan ke-tidak-tahu-an menjadi absolut lagi. Semakin sinar terang ilmu berpancar semakin awan kelam ke-tidak-tahu-an menampakkan diri.

Hal yang sama menimpa para ahli klimatologi ketika kepastian prediksi ilmiah sekaligus juga memancarkan ke-tidak-pasti-an. Kepastian di sisi yang satu diralat oleh ketidakpastian di sisi lain. Kepastian tentang daya rusak carbondioxide diralat oleh kemampuan water-vapor di awan dan lain-lain yang mampu mendinginkan bumi. Kepastian karbon dioksida meningkatkan panas bumi dilawan oleh kenyataan lain bahwa karbon bisa berfungsi sebagi pupuk ideal untuk meningkatkan pertumbuhan hutan dan hasil panen (Freeman Dyson, dalam the New York Times Magazine, 25 Maret 2009).

Di sisi lain, bumi yang panas bukan baru sekarang untuk pertama kalinya akan tetapi sudah dan pernah berlangsung lama sejak Abad Tengah karena diperkirakan berada dalam suatu siklus bumi-panas dan bumi-dingin. Semuanya semakin menyumbang pada ke-tidak-pasti-an sehingga the Economist menyimpulkannya dalam judul yang begitu merisaukan ketika membahas perubahan iklim sebagai “the cloud of unknowing”, suatu pengetahuan penuh yang selalu berisiko untuk berubah menjadi awan ke-tidak-paham-an.

Tropikalisme dan Perubahan Iklim

Hanya dalam iklim tertentu manusia hidup. Namun, dalam hidupnya sepanjang masa berbagai jenis manusia, dari berbagai jenis suku bangsa sudah menunjukkan daya tahan luar biasa, di dalam teriknya padang gurun sampai ke wilayah di mana kebekuan adalah hidupnya. Karena itu, sepanjang masa manusia menunjukkan kemampuan hidup dalam segala jenis iklim dari yang terpanas sampai ke yang terdingin. Dengan demikian, daya tahan dan kontribusi kultural juga memegang peran. Setiap jenis iklim memberikan sumbangan kebudayaan kepada manusia dan dengan kebudayaan tersebut manusia dan masyarakat manusia menyesuaikan diri dan menaklukkan iklim.

Karena itu, paham tentang iklim “baik” atau “pemurah” dan “buruk” atau “berbahaya”, kalau itu dikatakan tentang iklim di luar kebudayaannya, selalu memberi makna lain. Akan tetapi, kelainan dan perbedaan itu hanya boleh dipahami dalam arti bahwa iklim mendapatkan kategori moral melalui penilaian manusia, yaitu penilaian yang mendukung kenikmatan dan kemampuan kita, demikian Mike Hulme, ahli iklim berkebangsaan Inggris. Dikatakan selanjutnya:

Tidak ada suatu moralitas pasti dan universal yang menjadi dasar menilai suatu iklim. Apakah iklim “baik” stabil atau berubah-ubah?Apakah iklim “buruk” tidak dapat diprakirakan atau sesuatu yang terlalu panas atau terlalu dingin bagi kenyamanan kita? ... Semua iklim sulit dan berbahaya, toh, semua iklim bermanfaat dan merangsang kreativitas. Hanya sedikit sekali cuaca di bumi ini yang belum pernah dialami manusia, dan dari sana pun hidupnya tetap berlanjut (Mike Hulme, Why We Disagree About Climate Change [Cambridge: Cambridge University Press, 2009], hal.3).

Dengan kata lain, hidup dan alamnya menciptakan dinamika internal dalam bentuk adaptasi klimatik dan mengembankan supremasi kebudayaan berdasarkan itu. Berbudaya dan berkreasi ditentukan oleh iklim yang menjadi sumber hidup dan sumber inspirasi.

Apa yang dikatakan di atas adalah pedang bermata dua. Sisi pedang yang lain adalah sisi hitam rasial. Supremasi ras sering kali berdasarkan moral judgment terhadap supremasi iklim, karena itu iklim dingin dan sedang identik dengan kemapanan dan kemampuan moral menahan umbaran hawa nafsu. Sedangkan iklim panas berhubungan dengan segala jenis keburukan dan lain-lain. Dalam hubungan itu tidak jarang iklim tropis disamakan dengan keterbelakangan dan keburukan moral lainnya. Masa kolonial bangsa ini pun mengenal apa yang disebut sebagai tropische journalisten yang tidak lain dari wartawan penuh nafsu amarah dengan kritik sepedas cabai tanpa kendali.

Dengan seluruh simpatinya Johann Wolfgang von Goethe menyimpan kesan yang demikian pula ketika diberikan komentar dalam surat yang dialamatkan kepada seorang sahabatnya di Hindia Belanda tentang Batavia yang tidak pantas jadi kota. Jalan pikirannya adalah sebagai berikut. Kalau orang karena kebutuhan yang luar biasa menetap di tanah rawa, atau karena nasib berdiam di tempat-tempat yang tidak layak, seperti penduduk kota Roma pertama apa boleh buat; akan tetapi kalau tanpa alasan yang jelas, [berlaku] seperti seorang Kaiser besar melakukan hal yang tidak pantas, yang tidak menyenangkan bagi orang-orangnya pasti semata-mata menunjukkan prinsip monarki absolut. Seorang nelayan tua seharusnya mengingatkannya bahwa tempat itu sama sekali tidak pantas untuk suatu kota. Di dalam benaknya dia membayangkan Amsterdam dan bangunan dam Belanda, tanpa melihat bahwa itu tidak cocok sama sekali di sini. Orang Belanda sendiri menanggung kesalahan terhadap keadaan Batavia [karena] mereka mengkhayal seolah-olah orang hidup tanpa merasa tersiksa di rawa-rawa di bawah teriknya matahari.

Goethe mungkin tidak menghina Hindia Belanda yang tropis karena dia mencintai Kebun Raya Bogor, sedangkan yang “ditegurnya” adalah para pejabat Belanda yang memutuskan membangun Kota Batavia, yang menurut pikirannya tidak pantas menjadi kota di tengah rawa-rawa dan teriknya matahari.

Supremasi iklim, supremasi ras, merangsang kolonialisme dalam banyak bentuk. Nama Hindia Belanda pun menjadi onze tropische eilanden, pulau-pulau tropis kita, yang siap dijajah, di samping “penemuan sesuatu yang lain yang eksotik”, the exotic Other. Penemuan berarti mengangkat yang hilang dan dengan itu menuntut pertobatannya kepada cara hidup yang mengenal kekangan moral untuk menjadi ugahari (temperate), demikian Lynne Phillips yang selanjutnya berkata:

Pada masa lalu konsep tropika hidup bersama dengan tantangan kolonialisme untuk menaklukkan dunia; kini dalam dinamika pembangunan, konsep itu masih menyaturagamkan wilayah luas di dunia yang jadi milik kata itu (the tropics) sebagai tempat yang secara sosial lebih rendah tanpa produktivitas dan moralitas. ... Sebagai narasi besar “tropikalisme” mengandung pesan tentang cita-cita kepantasan perilaku bagi wilayah dunia yang tidak menunjukkan kelenturan mengikuti “rambu-rambu moral”, pesan mana lebih mengandung apa yang dinilai dalam imajinasinya tentang temperatur daripada tentang orang yang hidup bergenerasi-generasi di wilayah tropik (Lynne Phillips, “Changing Health Moralities in the Tropics: Ethics and the Other”, dalam Barbara Gabriel dan Suzan Ilcan (eds.), Postmodernism and the Ethical Subject [Montreal dan Kingston: McGill-Queen’s University Press, 2004], hal. 254).

Karena itu tidak mengherankan bahwa iklim tropis yang panas dan penuh rawa dan nyamuk, penyakit, dan lain-lain selalu menjadi citra awal tentang wilayah itu. Panas dan penyakit dan kelak melekat dalam karakter tropikal seperti yang dicatat dengan sangat mengenaskan oleh Mas Marco dalam novelnya sebagai “kotor, bodo, males, tidak beschaafd.” Semuanya bisa dikategorikan sebagai karakter tropikal dalam pandangan rasis kolonial yang berasal dari hawa dingin.

Dengan apa yang ditunjukkan oleh seluruh gemuruh tentang perubahan iklim sebenarnya yang kita lihat adalah pertarungan antara keunggulan ilmu dan, berdasarkan itu, atas peri mana suatu rancangan kebudayaan harus dibangun. Penolakan terhadap batu bara—suatu cara membangun yang relatif termurah dan ada teknologi untuk mengurangi dampak polutifnya—menjadi pertanda untuk itu. Pertarungan antara keputusan kebudayaan terhadap iklim dan supremasi iklim yang semuanya didukung oleh ilmu yang juga dalam dirinya berkuasa. Sejak abad ke-17 pun Francis Bacon sudah mengumandangkan nam et ipsa scientia potestas est, karena ilmu pengetahuan itu sendiri adalah kekuasaan.

Ramalan dan Nubuat Sepanjang Masa

Kesadaran tentang hidup sama tuanya dengan kesadaran tentang kematian dan dua jenis kesadaran itulah yang berperan melahirkan kebudayaan manusia. Karena itu, ritual kematian tidak jauh dari ritual kehidupan, sama megahnya. Karena itu juga cinta hidup, biophilia, dan cinta mati, necrophilia, selalu bertanding dalam hidup normal yang tidak kurang menyebabkan krisis demi krisis dari masa kuna sampai zaman modern. Social and political biophilia selalu bertanding dengan social and political necrophilia. Biophilia Nazisme selalu berujung pada tindakan-tindakan necrophilic seperti pembunuhan massal dan lain-lain yang menjadi musuh biophilia mempertahankan “kemurnian” ras Aria.

Sisi lain dari itu adalah obsesi tentang kiamat yang berada di Timur dan di Barat. Tidak ada sumber di negeri ini yang paling siap dan yang paling banyak dipelajari daripada kesusastraan Jawa. Ramalan paling populer adalah apa yang disebut sebagai “Jangka Jayabaya” atau “ramalan Jayabaya” abad ke-12. Namun, pesona terhadap ramalan itu berlangsung sebegitu rupa sehingga jauh-jauh mengatasi kritisisme terhadap originalitasnya. Akibatnya, ramalan-ramalan yang beredar lebih menjadi “ramalan setiap orang” kecuali “ramalan Jayabaya” sendiri.

Namun, dengan menjadi “ramalan setiap orang”, obsesi terhadap maut itu menjadi bagian paling akrab dalam kehidupan masyarakat. Di sana bercampur-baur antara rasa bangga tentang kemampuan bernubuat yang berumur ratusan tahun, sedemikian rupa, sehingga jauh-jauh mengatasi ketakutan akan maut kolektif pada masa datang. Semuanya terbalik-balik di sini, ketakutan tidak menjadi dasar bertindak, kebanggaan menjadi hampa, sedangkan persoalan tetap terbuka tanpa penyelesaian.

Prediksi para ahli tentu saja berbeda, namun begitu menakutkan sehingga rasa takut itu sendiri menghilang. Dalam kepastian ramalan-ramalan dibuat tentang permukaan laut yang naik tak terbendung dan mencerai-beraikan jutaan orang; glasier di tempat tinggi lumer dan mengancam persediaan pangan untuk bermiliar orang; laut yang penuh zat acid akan mengancam pangan untuk bermiliar lagi yang lain.

Bila disanding dengan nubuat tua dari nabi-nabi agama-agama hanya sedikit sekali perbedaan akan dilihat di sana meski nubuat dibuat karena “penampakan” makhluk gaib, sedangkan prediksi dibuat karena “akumulasi data” dari alam nyata. Nubuat diberikan kepada hanya seorang sedangkan prediksi adalah akumulasi pengetahuan kolektif dari suatu komunitas ilmiah.

Namun, dengan melihat rentang-zaman saja sungguh mengagumkan bahwa psikologi apokaliptik itu begitu menyatu dengan manusia—sekurang-kuranganya dari lima ratus tahun Sebelum Masehi ketika Belteshazzar versi Parsi, atau Daniel dalam versi Yahudi, dalam kerajaan Darius meramal tentang berakhirnya kerajaan-kerajaan Persia sampai abad ke-21 ketika pada bulan September 2008 harian the Sun Inggris meramal bahwa end of the world due in 9 days, “dalam tempo sembilan hari dunia akan kiamat” (The Sun, 1 September 2008).

Dengan penampakan nabi-nabi bernubuat tentang kiamat bahwa “gempa mengguncang bumi, dan matahari jadi hitam dan kelam seperti karung dan bulan jadi darah. Bintang-gemintang di langit jatuh ke bumi layaknya buah pir mentah berguguran dari pohonnya ketika diguncang badai. Langit dicabik-cabik seperti sobekan buku yang jatuh terkapar menggelentang, dan gunung-gemunung dan pulau-pulau digusur dari tempatnya masing-masing” (Apocalypsis)

Bahwa dunia akan “kiamat dalam tempo sembilan hari” tentu saja absurd; bahwa pulau kecil akan tenggelam dalam tempo beberapa puluh tahun ke depan tentu saja menakutkan. Bahwa “Pulau Jawa mungkrat” adalah kepercayaan dari “ramalan setiap orang” tentang kiamat. Sungguh mengejutkan bahwa semuanya itu pun tidak jauh dari prediksi para ahli tentang lumernya kutub dan gunung-gunung es yang mengakibatkan naiknya permukaan laut yang akan menenggelamkan pulau-pulau kecil, dan mengecilkan pulau-pulau besar.

Di tengah absurditas nubuat dan rasa takut terhadap prediksi siapa pun tidak mampu lagi membedakan di mana ilmu berhenti, dan teologi mulai. Di mana ilmu klimatologi berhenti dan teologi apokaliptik mulai.‚óŹ