Jurnal Pemikiran Sosial Ekonomi

Inkuisisi, Perang Global, dan Perang Kosmik

Daniel Dhakidae

 

Ketika kaum heretik itu sudah dinyatakan bersalah dan akan dihukum, kepala biara menyapa para hadirin dan berkata: “Saudarasaudaraku, apa hukuman yang harus diganjar bagi mereka yang menolak bertobat?” Semua menjawab: “Bakar mereka. Bakar mereka”. Keinginannya dipenuhi dan dilaksanakan. Dua orang menyatakan keyakinannya keliru dan diberi pengampunan, tujuh yang lain menjemput ajal di tiang gantungan (Rerum Brittanicarum Medii Aevi Scriptores seperti dikutip Elphège Vacandard dalam The Inquisition, A Critical and Historical Study of the Coercive Power of the Church, the Project Gutenberg Ebook, hal. 72. Semua informasi tentang inkuisi, kalau tidak dinyatakan lain, berasal dari sini). Sejak itu tak terhitung lagi jumlah korban, dan menurut laporan beberapa menjemput maut dengan senyum tersungging di bibir.

Hampir tidak ada manusia modern masa kini yang mampu memahami lagi bagaimana mungkin terjadi dialog maut itu di biara Vezelai, Burgundy, Perancis, tahun 1163, antara seorang pemimpin biara, beberapa uskup dan umatnya. Ini bukan yang pertama, akan tetapi akumulasi sepanjang 141 tahun dari apa yang disebut sebagai masa Inkuisisi dalam sejarah Kristen Eropa. Kaum heretik yang dimaksud adalah kaum Manichean atau Chatari, karena usahanya untuk mencari yang “bernas”, yang “asli” dari ajaran Kristen. Dalam upaya itu antara lain mereka tidak mengakui beberapa doktrin inti, menolak gereja Katolik yang dipimpin seorang Paus di Roma.

Penolakan itu adalah bidah, pembelotan, dan pembangkangan doktriner. Tahun 1022 pada umumnya dianggap sebagai awal dari masa inkuisisi untuk menghapus ajaran-ajaran palsu itu, ketika tindak kekejaman dilakukan secara terbuka di Orleans, Perancis.

 

Dari Amarah Suci sampai Penjara

Kekerasan dalam hubungannya dengan agama senantiasa berawal dan berkembang dari yang pada awalnya lebih merupakan “amarah suci” para penguasa agama untuk menertibkan doktrin tandingan yang berkembang “liar”. Tindakan- tindakan disipliner pada awalnya lunak, lebih dalam bentuk memaksakan pelaksanaan tugas suci seperti kewajiban berdoa, disiplin, puasa, dan lain-lain.

Kedua, pada tingkat ini berkembang yang disebut poenae confusibiles, siksaan yang sengaja untuk merendahkan, menghina dengan memakai tanda-tanda khusus, stempel yang dipasang di dahi atau pakaian yang menandakan bahwa seseorang berada di bawah hukuman.

Ketiga, adalah apa yang disebut murus, yang arti lurusnya dinding, yang merupakan siksaan terberat ketika seseorang yang bersalah menjalankan hukum kurungan. Ini tidak lain merupakan cikal-bakal penjara. Evolusinya menarik perhatian dari sesuatu yang sifatnya internal, menjadi pameran kebersalahan kepada publik, dan kembali menjadi siksaan untuk tidak bergaul dengan publik.

Dengan demikian bisa dilihat di sini bahwa penjara adalah sesuatu yang ditemukan dalam tradisi keagamaan. Pada mulanya adalah hukuman yang khas milik para rahib dan klerus di biara-biara. Kemudian baru berkembang ke luar menjadi sistem penjara modern seperti yang kita kenal sekarang. Meskipun imperium Romawi menjadi sumber hukum di Barat dan dunia, sistem hukum Romawi pada dasarnya tidak mengenal penjara (Vacandard, The Inquisition... , hal. 72).

Betapa pun ganasnya pada tingkat ini semua kekerasan dan perilaku kekerasan masih berada di dalam lingkungan terbatas, yaitu lingkungan kaum profesional keagamaan, para rahib yang memberikan hukuman internal bagi para kolega yang membangkang. Hal yang terus menjadi soal adalah bagaimana kekerasan itu menjalar keluar. Tentu saja ada banyak hal yang berjalan bersama-sama, namun perkembangan terpenting adalah ketika codex tentang ajaran-ajaran agama sudah dibakukan.

Kodifikasi lebih menunjukkan wajah hukum dan hukum adalah titik kulminasi kekuasaan dalam setiap agama. Kodifikasi bisa menjadi awal; namun kodifikasi bisa juga menjadi puncak permainan kekuasaan dalam agama-agama dengan menumpas persaingan, membungkam suara-suara alternatif baik secara terbuka atau tersembunyi, dengan ancaman atau semata-mata dengan pengaruh yang membisukan. Keberhasilan merumuskan dan memaksakan ajarannya menjadi suatu suatu codex adalah simbol hegemoni agama, dan kelak sosio-kultural, dan politik.

Dengan itu sudah dibangun suatu murus, yaitu dinding; dinding ini tidak memenjarakan kaum profesional pelaku keagamaan, akan tetapi “memenjarakan” ajaran dalam suatu “holy confinement” untuk tidak disentuh jenis-jenis ajaran mana pun yang menentang dan menantang ajaran yang sudah dikodifikasikan.

Namun, di pihak lain kemerosotan berawal di sini. Dengan kemampuan merumuskan kodifikasi maka agama-agama sudah menjadi milik birokrasi agama dalam arti luas dan sempit, yaitu mereka yang merasa berhak memonopoli kebenaran dan menentukan jenis-jenis ajaran. Di luar ajaran itu semuanya disebut heresis, yaitu haireisthai, yang berarti memilih, dalam hal ini suatu pilihan sendiri yang bertentangan dengan ajaran “asli”.

Eksklusivitas teologis dengan sendirinya merumuskan ekslusivitas komunitarian dengan seluruh perlengkapan peraturan, badan dan lembaga penjaganya, sanksi dan hukuman yang dipaksakan, atau menghilangkan kemudahankemudahan sosial bagi para pembangkang. Kontradiksi besar terjadi ketika eksklusivitas teologis dengan bungkus kekuasaan besar tidak jarang, dalam agama apa pun, menyingkirkan pertimbangan etis.

 

Dalam banyak kesempatan kontradiksi dibiarkan, dengan kontradiksi terbesar adalah toleransi terhadap kekerasan. Perjalanan sejarah Eropa dengan agama Kristen di dalamnya jelas menunjukkan perkembangan ini.

Tertib Sosial dan Tertib Agama

Ketika agama Kristen yang semula menjadi agama minoritas, dan bukan sekedar minoritas akan tetapi minoritas yang membangkang, pada suatu saat mengidentifikasikan dirinya dengan lembaga-lembaga yang menjadi tertib sosial maka yang tadinya disebut sebagai social order kini berubah menjadi “a Christian society”. Di sini tertib sosial dan paguyuban Kristen dengan mudah bertukar tempat di mana ukuran-ukuran keagamaan menjadi ukuran sosial, nilai-nilai agama menguasai etos politik, ekonomi, dan sebagainya.

Ketika menjadi tertib sosial langkah berikutnya adalah mengawal dan menjaga “ketertiban” itu, dan di sini kekerasan hampir-hampir dengan sendirinya masuk ke dalam persamaan. Kekerasan terbuka atau tersembunyi adalah sisi lain dari ketertiban. Bersama itu pedang menjadi pertanda perubahan itu, dengan demikian terkenal dengan apa yang disebut sebagai ius gladii, hukum pedang. Berpihaknya para pelaku agama dengan “tertib sosial” pada umumnya, dan masuknya para pejabat “tertib sosial” ke dalam pangkuan agama membawa serta konsekuensi kekerasan itu.

Ketika para penguasa mengidentikkan dirinya dengan agama, agama apa pun itu, kekerasan yang menjadi legitimasi suatu kekuatan masyarakat menjadi legitimasi agama itu sendiri. Maka pedang tidak terlalu jauh jaraknya dari agama, dan “social order” menjadi “religious order” atau dua-duanya bisa dengan mudah bertukar tempat—tertib agama dilihat sebagai tertib sosial, dan tertib sosial menjadi tertib agama. Kekerasan menjadi sahabat, dan teologi menarik jarak dengan etika (J Denny Weaver, “Violence in Christian Theology” dalam http:// www.crosscurrents.org/weaver0701.htm).

Ketika tahun 1022 siksaan terhadap kaum bida’ah, heretik, dijalankan secara penuh di Orleans, Prancis, kekerasan itu bukan saja dijalankan akan tetapi dirayakan bersama-sama antara kaum profesional agama, raja dan rakyat sekaligus. Raja menitahkan kekerasan dan seluruh rakyat mengerjakan kekerasan dengan penuh semangat keagamaan atau apa yang disebut sebagai “regis jussu et universae plebis consensu”, atas perintah raja dan persetujuan seluruh rakyat.

Dimensi Negara dari Kekerasan Agama

Dalam perkembangannya penganiayaan itu mengalami loncatan kualitatif dari sekadar perkara kriminal pribadi menjadi perkara kenegaraan dengan penyelesaian menurut hukum kenegaraan. Pelanggaran agama menjadi pelanggaran politik, tepatnya menjadi pelanggaran terhadap negara. Sebagai pelanggaran terhadap negara, yaitu pengkhianatan terhadap negara, hukum yang dipakai adalah menghilangkannya dari negara. Untuk itu hukuman seperti imperial ban, kaum heretik diusir dari tanah airnya—pengusiran penganut Ahmadiah tidak jauh-jauh dari sini—-suatu hukuman yang sangat keras di Italia. Selain diusir, harta benda disita, rumah-rumah mereka yang dituduh menjadi penganut heretik dihancurkan, mereka dihina secara publik, tidak boleh diangkat menjadi penjabat publik.

Undang-undang raja Frederik yang melindungi kesatuan ajaran Kristen/Katolik, unitas Catholicae Ecclesiae, yang dilambangkan sebagai suatu jubah utuh tak dihubungkan dengan jahitan apa pun, inconsutilis tunica, menjadi jaminan kesatuan gereja yang tidak boleh digugat siapa pun. Para pelanggarnya diperintahkan untuk diadili. Undang-undang baru ini mengumumkan bahwa bidah sebagai kejahatan terhadap masyarakat, adalah pengkhianatan, dan bisa dihukum dengan jenis hukuman sama. Undang-undang itu tidak sekadar menjadi deretan huruf-huruf mati, pejabat-pejabat negara pun diperintahkan untuk mengadilinya sebagaimana mereka mengadili perkara-perkara lain.

Dengan demikian, kita lihat bahwa telah terjadi loncatan-loncatan kualitatif dari awalnya sebagai kejahatan pelanggaran dokrin — sama sekali bukan pelanggaran hukum karena tidak ada hukum yang mengatur hal-hal semacam itu—-oleh seorang pribadi menjadi pembangkangan terhadap tertib sosial—dalam arti mengganggu keamanan masyarakat—- yang pada dirinya mengharamkan pembangkangan; pembangkangan meningkat menjadi kejahatan terhadap tertib sosial; kemudian meningkat lagi dari kejahatan terhadap dokrin menjadi pengkhianatan terhadap negara. Dengan semua pelanggaran itu kaum heretik sangat pantas direndahkan lagi dan dijadikan satu dengan kaum maling, pencoleng, dan perampok.

Semua ini mendapatkan persetujuan Paus yang memerintahkan penguasa kota menjalankan siksaan, asal tidak membahayakan hidup, atau merusak anggota badannya. Mereka harus disiksa sebagaimana kaum pencuri dan perampok sampai mengakui kejahatannya, karena kaum bidah adalah sungguh-sungguh pencuri, pembunuh jiwa-jiwa, dan perampok sakramen Allah.

Gereja terang-terangan memerintahkan penguasa negara untuk mengambil tindakan yang tidak bisa dikerjakan sendiri oleh para penguasa agama, atau sebagaimana dikatakan “kami memerintahkan agar ditindas melalui kekuasaan luar”, per potestates exteras coerceri praecipimus. Perintah tersebut diterima sepenuh-penuhnya sehingga para raja tanpa ragu-ragu mengatakan bahwa musuh gereja adalah juga musuh negara, dan musuh publik; karena itu mereka harus ditindak semestinya” (Vacandard, The Inquisition... , hal. 346)

Perang Global dan Perang Kosmik

Memasuki abad ke-20 menuju abad ke-21 kekerasan dalam hubungan dengan agama mengambil bentuk sama sekali baru karena persoalan juga baru. Kalau masa inkuisisi menampilkan kekerasan resmi dari atas ke bawah kekerasan abad ke-21 adalah kekerasan tidak resmi, bukan hasil keputusan suatu kewenangan publik di tingkat mana pun; karena itu lebih cair, lebih lincah, tidak terduga, dan sulit dideteksi. Kalau pada masa inkuisisi yang berlangsung adalah kekerasan para penguasa yang disambut massa rakyat, maka kekerasan abad ke-20 dan ke-21 adalah kekerasan masyarakat sipil melawan negara karena perselingkuhan dengan modal, dan peradaban yang dihasilkannya.

Kekerasan abad ke-20 adalah kekerasan yang berasal dari suatu lapisan kecil fundamentalis kepada semua lapisan besar masyarakat lain. Kalau kekerasan pada masa inkuisisi Kristen adalah dari atas demi menjaga doktrin dan social order dari pembangkangan maka kekerasan masa kini dalam hubungan dengan agama Islam merevolusikan kekerasan itu sebagai suatu global war terhadap social order yang menindas.

Kalau pada masa inkuisisi objek kekerasan adalah para penyeleweng doktrin maka objek kekerasan abad ke-21 secara paradoksal terbagi dua. Pertama, dirinya sendiri alias para pelaku kekerasan itu. Peristiwa-peristiwa bom bunuh diri merupakan pengalihan objek ke dalam; menghancurkan diri sendiri demi penghancuran orang lain. Dengan menghancurkan diri sendiri dia memuja dirinya sendiri sebagai martir. Karena itu, bom bunuh diri merupakan puitisasi kekerasan yang dahsyat untuk mendapatkan katarsis pada detik-detik menuju pencabik-cabikan tubuhnya oleh alat pembunuh yang melilit tubuhnya.

Bahwa alat pembunuh melilit tubuhnya maka itu lebih merupakan pencapaian karena tuntutan taktis dan teknologis. Akan tetapi bahwa untuk itu perlu pelatihan spartan yang diulang- ulang berbulan-bulan bahkan bertahuntahun, maka semuanya lebih merupakan leitourgia dalam artinya yang asli yaitu public service demi suatu pembelaan terhadap salah satu social order tandingan yang dalam tuduhannya sudah atau sedang dicabik-cabik peradaban Barat.

Ini mengantarkan kita kepada objek kedua, yaitu kapital Barat yang menubuh di dalam kepentingan ekonomi-politik Barat, dengan Amerika berdiri di garis depan, dan karena itu paling dibenci dari semuanya. Kemewahan Barat seperti hotel-hotel pencakar langit, tempat dansa-dansi, kafe, restoran, kelub malam, dunia gemerlapan perjudian bukan saja simbol kapital akan tetapi “simbol syaitan” yang harus dihancurkan. Dengan begitu, sesuatu yang tadinya menjadi gejala global war dalam sekejap berubah menjadi cosmic war di mana setan di satu sisi dan Allah di sisi lain masuk ke dalam persamaan kekerasan dalam segi tiga maut bersama manusia. Di sini kekerasan mendapat dimensi transendental. Transformasi menjadi cosmic war membuatnya tak terkendali, dan semakin menjadi-jadi.

Namun, kalau memang semuanya seperti dikemukakan di atas—inkuisisi abad tengah dan terorisme zaman modern—ada pertanyaan yang selalu menggantung-gantung apakah semuanya itu kehendak agama? Mengapa agama memungkinkannya? Apa pun jawabannya hampir tidak ada yang mampu menjelaskan mengapa agama-agama mesti memakai kekerasan sebagai jalan menyatakan dan mempertahankan diri. Atau itu bukan merupakan gejala agama, tetapi politik, kekuasaan biasa saja dengan agama sebagai motivasi atavistik penyulut kekerasan.

Salah satu spekulasi yang bisa dikemukakan adalah karena agama mengandalkan sesuatu yang mutlak maka risiko bagi penolakan terhadap yang mutlak harus dibalas dengan yang mutlak pula. Satu-satunya yang mutlak dalam tangan manusia adalah menghabiskan nyawanya sendiri, dan/atau sesamanya. Di luar itu semuanya serba nisbih•