Jurnal Pemikiran Sosial Ekonomi

Kelas Tengah dan Gaya Hidup

Daniel Dhakidae

Ritme dirumuskan sebagai ars bene movendi, seni mengatur gerak yaitu perpaduan antara gerak cepat dan lambat, ke kiri dan ke kanan, ke atas dan ke bawah, ke muka dan ke belakang. Seluruh kompleks gerak di atas — cepat ke kiri dan lambat ke kanan, ke depan dan ke belakang, dan semua kombinasinya — membentuk apa yang disebut sebagai style, gaya.

Hal yang sama juga berlaku untuk hidup. Hidup yang baik adalah hidup yang bergaya, hidup yang berkombinasi, dan karena itu tidak monoton. Monoton sendiri berarti pengulangan tanpa variasi, sedangkan gaya adalah pengaturan langgam penuh variasi. Karena itu ketika seorang mengatakan bahwa seseorang mengembangkan gaya hidup dengan sendirinya ini berarti seseorang itu sedang mengatur langgam dan variasinya.

Namun, ada pertanyaan yang selalu menghantui setiap orang, yaitu kapan seorang boleh dikatakan sedang “bergaya hidup”? Atau kapan hidup seseorang itu boleh dikatakan penuh gaya? Tentu saja ada banyak jawaban. Salah satunya adalah kalau sekiranya kebutuhan pokok sudah terjamin.

Kalau seorang sudah terjamin sandang, pangan, dan papan, maka semua jenis kebutuhan lain di samping yang tiga itu adalah “gaya” dalam hidupnya. Karena itu, jarak antara “gaya” dan “budaya” sangat dekat, dan karena itu dalam pemakaian sehari-hari sering bertukar tempat, yang satu mengganti yang lain tanpa banyak menghasilkan soal sampingan.

Seorang bisa memenuhi kebutuhan akan pangan dengan jarak sangat pendek, yaitu dari tangan ke mulut dengan tangan telanjang. Namun, ketika diciptakan kebutuhan dasar untuk menunjang pangan seperti adanya meja makan, kursi, piring, dan sendok maka semua itu disebut kebudayaan.

Kebutuhan itu semakin meningkat. Ketika seseorang tidak puas lagi dengan sendok dari batok kelapa dan mencari sendok dari besi tanpa karat sampai dunia kiamat, maka seluruh kompleksitas kehidupan yang memungkinkan tercapainya kepemilikan sendok-tanpa-karat-sampaidunia- kiamat adalah life style, gaya hidup, karena orang itu sedang mengembangkan ars bene movendi dalam mengatur langgam hidupnya, bertukar kecepatan ke kiri dan ke kanan dengan semua kombinasi seperti disebutkan di atas.

Pada suatu saat super-modern kelak, sendok besi tanpa-karat-sampai-dunia-kiamat itu akan ditinggalkan, dan para pengejar gaya hidup akan kembali kepada sendok dari batok kelapa dengan berbagai alasan.

Begitu juga dengan komunikasi langsung dengan sendirinya tidak ada lagi yang mempersoalkannya. Berkomunikasi dengan telepon adalah penemuan modern yang mendongkrak kemajuan dunia. Akan tetapi, berkomunikasi dengan telepon sambil bergerak kian kemari dalam ukuran kilometer adalah penemuan yang sejadi-jadinya. Ketika orang memburu merek, brand, dan jenisjenis tertentu dari alat mesin telepon seperti itu, maka dengan sendirinya orang itu sedang berada dalam suasana memburu suatu gaya hidup dan untuk itu segala jalan ditempuh.

Antrean, yakni berbaris berjejer menunggu giliran membeli mekanik untuk mendengar dari jarak jauh sambil berpindah-pindah adalah bagian dari gaya hidup itu. Antre adalah suatu gejala unik. Antre beras dan minyak tanah adalah pertanda buruk bagi Demokrasi Terpimpin Soekarno, misalnya. Jadi, antre untuk kebutuhan dasar seperti beras dan minyak tanah adalah antre dengan kesan buruk.

Hal ini berbeda dengan antre untuk suatu gaya hidup. Antre di sini adalah gabungan antara pemenuhan kebutuhan pemujaan diri sendiri dan penciptaan panggung. Narsisisme bersarang kuat di sana, karena Aku berbaris untuk ditonton dan dikagumi.

Semua ini tentu saja berdasar pada konsumerisme yang dirangsang secara global. Setiap produk baru merangsang orang untuk menyulap diri masing-masing menjadi konsumen yang dengan sendirinya berarti pasar.

Namun, sebagai konsumen semata-mata setiap orang pada dasarnya berhenti di tempat, menjadi manusia-budak. Manusia hanya bisa mengatasi situasi budak ketika dia mencipta, menjadi kreatif, dan kritis, yang memilih jadi warga negara di atas konsumen semata-mata. Dalam lingkup kenegaraan merekalah para warga negara yang bermartabat.•