Jurnal Pemikiran Sosial Ekonomi

Komoditas, Modal, dan Wajah Ekonomi-Politik Bangsa

Daniel Dhakidae

 

Ketika seseorang memproduksi satu ton padi –pada 1950 atau abad sebelumnya–dan dimakannya sendiri, maka sistem produksi itu lebih menjadi objek antropologi tentang hadiah dewi padi bagi umat manusia. Peralatan yang dipakai, termasuk bentuk organisasi yang memungkinkan produksi, menjadi bahan kajian. Apakah itu berlangsung dalam sistem perbudakan? Apakah itu berlangsung secara gotong royong dan sebagainya?

Namun, ketika seseorang memproduksi satu ton padi pada 2012 dan ini merupakan hasil panen pertama dari tiga kali panen setahun, satu ton padi itu muncul dalam wajah yang sama sekali berbeda. Produksi satu ton padi tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi berlangsung dalam suatu rangkaian sistem produksi. Petani memerlukan air yang berasal dari waduk yang disponsori negara. Walaupun tanahnya subur, dia “dipaksa” membeli pupuk yang berasal dari sebuah pabrik besar milik seorang borjuis yang tinggal entah di mana.

Pupuk yang diperoleh sang petani adalah hasil suatu sistem produksi yang sangat rumit. Di sana berbaur berbagai urusan seperti temuan ilmiah pelbagai bahan kimia yang berada di luar jangkauan pemahaman si petani. Itulah hasil penelitian selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, untuk menghasilkan suatu temuan ilmiah. Penelitian tersebut juga melibatkan puluhan ahli yang dididik dalam puluhan universitas.

Ketika suatu penemuan ilmiah berhasil diumumkan, ini berarti bahwa itulah hasil akhir setelah diteliti lagi dalam suatu lembaga yang sama sekali berbeda untuk menentukan siapa yang sesungguhnya berhak atas temuan itu. Dengan demikian, muncul organisasi hak cipta, merek dagang, dan lain-lain.

Pada saat pabrik pupuk itu dibangun sudah pasti di sana diperlukan izin yang diberikan oleh negara; tanpa izin usaha tidak ada pabrik yang boleh dibangun. Seluruh produksi pupuk dipasarkan oleh lembaga-lembaga bisnis pemasaran profesional yang menyalurkannya dengan berbagai cara seperti transportasi di darat, laut maupun udara.

Dengan demikian, pabrik, penelitian dan penemuan ilmiah, universitas, hak cipta dan merek dagang, lembaga bisnis pemasaran, transportasi, dan akhirnya negara, seluruhnya berada di dalam suatu kompleksitas besar yang berada di balik produksi satu ton padi di salah satu desa abad ke- 21. Semuanya sama sekali tidak berarti membuat sang petani akan menjadi kaya raya. Semua kekayaan itu bertumpuk di tempat lain, termasuk di pabrik pupuk milik sang borjuis yang mempekerjakan ribuan buruh dan sebagian besar di antaranya berasal dari masyarakat petani.

Dengan demikian, satu ton padi tahun 1950 mengalami suatu perubahan kualitatif ketika memasuki tahun 2013, dari abad duapuluh ke abad duapuluh satu. Perubahan itulah yang dikatakan Karl Marx dalam kalimat pertama das Kapital sebagai, “Kekayaan masyarakat di mana mode of production kapitalis berkuasa menunjukkan dirinya sebagai akumulasi komoditas yang luar biasa besar....”

Dengan demikian, analisis terhadap “moda produksi kapitalis” harus dibuat karena ia menjadi dasar bagi semua analisis lainnya, dan menjadi dasar dari semua perkembangan masyarakat, seperti ideologi, agama, pendidikan, dan lain-lain.

Komoditas menjadi dasar perebutan kekuasaan; menjadi dasar pertumpahan darah; dasar permainan politik; dasar kecemburuan sosial antara Jawa dan luar Jawa; dasar kecemburuan sosial di antara satu kelompok etnis dengan kelompok etnis lainnya; antara militer dan sipil. Muncul pertanyaan apakah militer boleh menguasai sumber kekayaan besar atas nama militer; apakah pegawai negeri boleh memiliki kekayaan atas nama birokrasi pemerintah. Semua itulah yang disebut political economy.

Terbitnya buku Indonesia: The Rise of Capital karya Richard Robison, sekitar dua puluh lima tahun silam, dengan seluruh kompleksitas analisisnya berawal dari analisis tentang komoditas itu untuk melihat apakah hasil akhirnya bagi Indonesia dalam perebutan dan akumulasi kekayaan di atas dasar kompleksitas modal yang bertumpu pada komoditas.

Politik dan cara melihat politik Indonesia berubah sejak itu.•