Jurnal Pemikiran Sosial Ekonomi

Otonomi Daerah untuk Siapa?

No. 3, Volume 29, Tahun 2010

Lama sekali kita tinggalkan paham center-periphery, pusat-pinggir, sebagai dua kekuatan tak berimbang dengan pusat menjadi kekuatan paling utama. Apa yang ada di pinggir adalah remah-remah buangan pusat. Pusat penentu segala-gala-nya. Gerak ke pinggir adalah gerak eksploitatif dan gerak ke pusat adalah gerak membudak. Hubungan pusat-pinggir dalam dimensi makro terulang dalam dimensi mikro berbentuk pusat-daerah kita coba tengok kembali. Paham ini terkenal dengan strukturalisme, di mana pusat dan pinggiran dihubungkan oleh tali-pusar kehidupan eksploitatif. Sebaliknya kaum liberal begitu rupa percaya bahwa kebebasan adalah satu-satunya jaminan bagi manusia untuk bertindak, sehingga kepercayaan kepada prinsip itu melahirkan suatu prinsip lain yang bukan saja menjadi prinsip bertindak, tetapi sudah menjadi mantra bahwa semuanya tergantung dari political will. Ini tidak lain dari kehendak, kemauan politik, yang bisamenyelesaikan sebagian atau semua soal. Lahir lahadagium setua umur manusia bahwa di mana ada kemauan di sana ada jalan, ubi voluntas ibi via. Kemacetan Jakarta adalah karena tidak ada political will, karena itu tak ada jalan.

Artikel Prisma