Prisma

Hubungan Pusat-Daerah dan Kadigwijayan Sepanjang Masa

Esai ini mengeksplorasi dinamika hubungan pusat-daerah yang sarat akan paradoks, di mana daerah dipandang sebagai sumber kekhawatiran keamanan sekaligus objek eksploitasi ekonomi demi kepentingan pusat. Melalui perbandingan historis antara kosmologi politik Majapahit (Nagara-krtagama), kekaisaran Roma, dan kolonialisme Hindia Belanda, penulis menggarisbawahi bagaimana pusat selalu berupaya melakukan mistifikasi dan romantisasi daerah untuk melegitimasi kekuasaan. Isu sentralisasi yang berlebihan (trop gouvernée) dan ketimpangan struktural sering kali memicu krisis yang menjadi pendorong lahirnya tuntutan desentralisasi serta otonomi daerah. Pada akhirnya, efektivitas perpindahan kekuasaan tersebut, baik dalam bentuk gerakan reinventing Indonesia maupun kebijakan mikro-politik, hanya dapat diukur melalui pencapaian kadigwijayan atau kemakmuran dan keadilan bagi rakyat di daerah.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan