Pak Ong (1933-2007), demikian sebutan para muridnya. Selain sangat jarang atau bahkan tak pernah dipanggil dengan nama lengkap Pak Onghokham, dia merupakan pribadi yang menarik dan unik di mata siapa pun yang mengenalnya, baik pribadi maupun selintas. Dia dikenal sebagai sejarawan, seorang gourmet sekaligus koki yang cekatan. Di malam hari, dia kerap menyambangi berbagai perjamuan makan minum atau acara lain yang diadakan para sahabat atau koleganya, sedangkan di siang hari terlihat tanpa sungkan menaiki kendaraan angkutan umum atau berjalan kaki. Keringat membasahi sekujur tubuh dan baju lengan panjangnya yang digulung hingga siku. Berdesakan dengan sesama penumpang di angkutan umum atau para pembeli di pasar tradisional menjadi bagian dari rutinitas hariannya, sama halnya dengan obrolannya yang nyaris tak berujung di suatu jamuan makan bersama para kolega. Kehadirannya di berbagai acara juga sama penting dengan kemunculan esainya di berbagai koran, majalah mingguan, ataupun jurnal dalam dan luar negeri. Popularitas dan pesonanya setara dengan wajah para pesohor yang setiap hari terpampang di berbagai media nasional. Itulah Ong.
Ong lahir pada 1 Mei 1933 di Surabaya, Jawa Timur, dari keluarga yang tergolong “tjabang atas” masyarakat Tionghoa peranakan. Kakek dari pihak ibu adalah kapitan Tionghoa di Pasuruan. Garis keturunan ini menunjukkan bahwa keluarga Ong sangat terpandang di mata masyarakat Tionghoa. Ong menempuh pendidikan dasar (Europeesche Lagere School) dan menengah (Hoogere Burger School) dengan pengantar bahasa Belanda di Surabaya. Besar dan dididik dalam lingkungan Belanda, tak heran jika bahasa Belanda Ong muda justru jauh lebih baik daripada bahasa Indonesia. Pendidikan tinggi ditempuhnya di Universitas Indonesia (UI) dengan karya ilmiah tentang masyarakat Samin (skripsi sarjana muda) dan masa akhir keruntuhan Hindia Belanda (skripsi sarjana). Ong kemudian melanjutkan pendidikan ke Yale University, Amerika Serikat, dan memboyong gelar doktor pada 1975 dengan disertasi mengenai dinamika hubungan antara priyayi dan kaum tani serta perubahan sosial di Madiun pada abad ke-19. Kampus UI menjadi tempatnya mengabdi hingga pensiun sebagai pengajar di jurusan sejarah.