Prisma

Menjinakkan Kaum Muda

Judul: Yang Muda Yang Berkiprah: Gerakan Politik Pemuda Ansor dan Politik Indonesia Masa Demokrasi Liberal hingga Masa Reformasi (1950-2010)

Penulis: Erwien Kusuma

Penerbit: Kekal Press, Bogor, 2011

Tebal: xvii+275 halaman

ISBN: 978-979-17905-1-2

Judul: Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970-an

Penulis: Aria Wiratma Yudhistira

Penerbit: Marjin Kiri, Jakarta, 2010

Tebal: xii+161 halaman

ISBN: 978-979-1260-07-7

Seperti apakah gambaran pemuda dalam benak kita ketika menyebut mereka sebagai bagian tak terpisahkan dari perjalanan sejarah bangsa? Apakah pemuda yang dibayangkan sebagai “generasi penerus bangsa” menemukan bentuknya yang ideal dalam sebuah negeri bernama Indonesia? Rangkaian pertanyaan dan pernyataan ini selalu berulang. Momentum Sumpah Pemuda yang diperingati “bangsa” ini setiap bulan Oktober serasa seperti menengok kembali peranan pemuda di republik ini yang konon begitu besar. Tidak mengherankan jika indonesianis sekaliber Ben Anderson yang begitu terpesona dengan kehebatan para pemuda tidak sungkan menamakan revolusi Indonesia pasca-kemerdekaan sebagai “Revolusi

Pemuda”.

Persoalan yang terus-menerus melanda pemuda Indonesia sampai hari ini adalah bagaimana mereka menempatkan diri dalam dunia yang didominasi “kaum tua”. Hal ini selalu memunculkan dikotomi dalam terminologi sejarah dan politik Indonesia lewat istilah “golongan tua” dan “golongan muda”. Sebenarnya, di sini, yang disebut golongan muda tak selamanya punya batas jelas, apalagi regenerasi politik Indonesia boleh dibilang macet. Biasanya golongan muda dibatasi oleh umur, yaitu mereka yang berusia 15-25 tahun. Walaupun demikian, kategorisasi berdasarkan umur tidak bisa dijadikan patokan ketat karena “sosok” pemuda umumnya berkaitan dengan soal sikap dan mentalitas. Peristiwa politik besar dalam sejarah Indonesia senantiasa diwarnai oleh ketegangan antara “kaum muda” dan “kaum tua.” Kaum muda biasanya berdiri dan berhadapan secara diametral dengan kaum tua. Hal ini kerap memunculkan semacam “kesenjangan generasi” (generation gap) di antara mereka, yakni tatkala kaum tua tak mampu lagi mengakomodasi keinginan dan aspirasi kaum muda. Kaum tua sangat berhasrat memaksakan keinginan kepada kaum muda sesuai dengan idealisasi mereka sendiri, sehingga yang muncul adalah kooptasi kaum tua terhadap kaum muda.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan