Prisma

Menyingkap Jejak-jejak Kekerasan Negara di Masa Transisi*


* Penulis mengucapkan terima kasih kepada Sri Wahyuni Hoi-jin Kim dan Alvino R Kusumabrata atas diskusi dan masukan konstruktif bagi pengembangan naskah Tinjauan Buku ini.

Judul : Riwayat Terkubur: Kekerasan Antikomunis 1965-1966 di Indonesia

Penulis : John Roosa

Penerbit : Marjin Kiri, Maret 2024

Tebal : xviii + 513 halaman

ISBN : 978-602-0788-51-7

Judul : Kronik Penculikan Aktivis dan Kekerasan Negara 1998

Penulis : Muhidin M Dahlan

Penerbit : I:BOEKOE dan IKOHI, Januari 2024

Tebal : xii + 506 halaman

ISBN : 978-979-1436-75-5

Judul : Kami Sudah Lelah dengan Kekerasan: Reformasi, Pembunuhan Munir, dan Pencarian Keadilan di Indonesia

Penulis : Matt Easton

Penerbit : Marjin Kiri, Mei 2024

Tebal : xviii + 457 halaman

ISBN : 978-602-0788-53-1

Sejarah perkembangan negara-bangsa Indonesia memperlihatkan modusmodus perulangan di sepanjang trajektorinya. Tanpa berpretensi menghadirkan keserupaan, modus-modus tersebut membentuk sejenis pola yang sensitif terhadap konteks, tetapi mempunyai substansi yang tidak jauh berbeda, baik positif maupun negatif. Dengan pembacaan tepat, pola-pola tersebut dapat membantu setiap orang yang mempelajari sejarah untuk merefleksikan peristiwa sejarah dalam konteks ruang dan waktu, serta mengantisipasi perulangannya di masa yang akan datang. Salah satu modus perulangan tersebut adalah terjadinya kekerasan negara pada masa transisi politik.

Dengan pola yang menunjukkan terjadinya kekerasan berskala masif yang dilaksanakan secara sistematis pada tahun-tahun menjelang pergantian kekuasaan, sejarah kekerasan negara di Indonesia selalu berakhir dengan penyelesaian yang antiklimaks: disingkirkan secara paksa dari ruang publik sebagai manifestasi terorisme negara1, menjadi token kepentingan elektoral2, bahkan dihapuskan sama sekali dari historiografi resmi sebagai upaya menyembunyikan masa lalu.3  Penelitian lain juga mencampuradukkan kekerasan negara dengan konflik lokal, sehingga motif yang melatarbelakangi kekerasan tersamarkan dan peta pertanggungjawaban terdistorsi.4 Penelitian tendensius ini seketika gugur saat investigasi arsip memperlihatkan peran Angkatan Darat memprakarsai dan mengoperasikan pembunuhan massal secara sistematis.5


1 Ariel Heryanto, State Terrorism and Political Identity in Indonesia (London: Routledge, 2006), hal. 10-16.

2 Dalam kampanye Pemilihan Presiden 2014, calon presiden Joko Widodo berjanji untuk “menemukan kembali” Wiji Thukul, penyair asal Solo, Jawa Tengah, yang menjadi salah satu dari 13 korban penghilangan paksa tahun 1997-1998; lihat, Ananda Teresia, “Jokowi: Wiji Thukul Harus Ditemukan,” dalam https://nasional. tempo.co/read/583603/jokowi-wiji-thukul-harus-ditemukan (diakses 10 September 2024).

3 Mary S Zurbuchen, “History, Memory, and the ‘1965 Incident’ in Indonesia,” dalam Asian Survey, Vol. 42, No. 4, 2002, hal. 564-581.

4 Perspektif konflik lokal mula-mula dikedepankan sebagai substitusi historiografi Orde Baru, tetapi perspektif ini tetap menampilkan militer sebagai agensi pencegah kekerasan di aras akar rumput; lihat, Taufik Abdullah, Sukri Abdurrachman, dan Restu Gunawan, Malam Bencana 1965 dalam Belitan Krisis Nasional Jilid 2: Konflik Lokal (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2012).

5 Lihat, Jess Melvin, Berkas Genosida Indonesia: Mekanika Pembunuhan Massal 1965-1966 (Depok: Komunitas Bambu, 2022); Geoffrey B Robinson, Musim Menjagal: Sejarah Pembunuhan Massal di Indonesia 1965-1966 (Depok: Komunitas Bambu, 2018), hal. 163-192.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan