Prisma

Ragam Pertarungan dalam Arena Pariwisata

Judul: Kepariwisataan & Hukum Progresif: Menuju Pembangunan Berkelanjutan

Penulis: Yesaya Sandang, Yakub Adi Krisanto, dan Basuki Antariksa

Penerbit: Satya Wacana University Press, 2025

Tebal: xiii + 199 halaman

ISBN: 978-623-6286-90-6

Secara perlahan, sektor pariwisata muncul sebagai pasar ekonomi terpenting setelah sektor minyak dan gas. Di negara berkembang, termasuk Indonesia, pariwisata mendapat tempat dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang cepat tanpa memerlukan investasi yang relatif mahal dan waktu lama. Tentu, hal tersebut berakar dari artistik pesona alam yang muncul di Negara Selatan. Lukisan naturalis-realis Mooi Indie (Indies yang indah), misalnya, mencerminkan eksotisme dan lanskap Indonesia.1 Dewasa ini, situasi tersebut perlahan makin memburuk lewat pragmatisme ekonomi di tengah iklim neoliberal.

Secara etimologis, istilah pariwisata berasal dari bahasa Sanskerta: pari yang berarti “berulang-ulang” atau “berkali-kali”, dan wisata yang merujuk pada “perjalanan” atau “bepergian.” 2 Dengan demikian, pariwisata dapat dimaknai sebagai aktivitas perjalanan yang dilakukan secara berulang. Bentuk perjalanan itu sangat beragam, mencakup transfer budaya, pariwisata pro-kemiskinan, pariwisata sukarela, pariwisata massal, dan sebagainya.

Masalahnya, berbagai literatur dan kebijakan yang lahir justru mensentralkan pariwisata sebagai objek komodifikasi semata, tanpa mempertimbangkan elemen-elemen lain yang membuat suatu wisata menjadi utuh. Hal itu terlihat dari metrik kerja kuantitas yang mensponsori angka-angka profit belasan miliar dolar dan capaian jumlah wisatawan yang cenderung dipaksakan hingga overload.3 Paradigmanya terbaca jelas: laissez-faire muncul sebagai terjemahan pertumbuhan ekonomi tanpa batas.


1 Yesaya Sandang, Yakub Adi Krisanto, dan Basuki Antariksa, Kepariwisataan & Hukum Progresif: Menuju Pembangunan Berkelanjutan (Salatiga: Satya Wacana University Press, 2025), hal. 5.

2 Lihat, Sandang, Krisanto, dan Antariksa, Kepariwisataan & Hukum Progresif.., hal. 4.

3 Lihat, Kurnia Yustiana, “Dikunjungi Jutaan Turis, Bali Sudah Overload,” dalam Detik Travel, 19 Desember 2016.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan