Binatang-ekonomi. Itulah julukan yang diberikan orang kepada Jepang oleh Timur maupun Barat. Kesan orang, Jepang adalah bangsa yang sangat agresif mencari laba. Iklannya gemerlapan di kota-kota besar di seluruh dunia, bahkan merek-merek perusahaan Jepang dikenal akrab sampai ke desa-desa, semuanya menggambarkan penetrasi ekonomi yang sangat mendalam.
Tentu saja orang Jepang tidak suka dengan sebutan itu. Bukan karena mereka menolak realitas tingkah-laku yang memang secara pas digambarkan. Tapi karena mereka menganggap bahwa persepsi orang lain tentang bangsa Jepang adalah keliru. “Memburu laba” bukanlah tujuan hidup dan motivasi yang berdiri di belakang kegiatan orang Jepang. Kerja keras yang tekun dan rajin untuk memenuhi kebutuhan orang banyak, itulah landasan kegiatan apa pun juga: sebagai pengrajin, petani, pedagang, seniman atau sebagai samurai.
Ajaran Suzuki Shosan, pendeta Buddha aliran Zen yang hidup pada masa Tokugawa (1579—1955), dinilai bertanggung-jawab terhadap perkembangan kapitalisme Jepang pada zaman moderen ini. Ia menjalankan misinya pada masa, ketika sebagian besar penduduk negeri sakura itu kehilangan alasan untuk hidup, setelah mengalami perang saudara bertahun-tahun dan ketika memasuki masa damai, justeru malah mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri. Ajaran kerja, sebagai cara untuk mencapai kebebasan, nampaknya mengena di hati rakyat Jepang.
Kerja dengan jujur, dalam ajaran Shosan, merupakan bentuk dari sikap hidup zuhd (asceticism). Kerja adalah pekerjaan suci dan dihayati dengan sikap religius. Kerja untuk tujuan mencari keuntungan justeru ditolak. Kerja orang Jepang yang menganut falsafat Buddhisme Zen bukanlah suatu kegiatan ekonomi, melainkan suatu latihan untuk hidup zuhd.
Orang Jepang sangat menghormati seseorang yang sikapnya terhadap kerja bersifat religius. Nilai itu hanya bisa diwujudkan dengan kerja produktif. Untuk memahami Zen orang harus mempelajari sogo-shosha-nya. Seorang pedagang dalam organisasi dagang Jepang menganggap distribusi barang sebagai tugas suci untuk membebaskan setiap orang dari kekurangan.
Itukah yang menjelaskan mengapa dunia merasakan kehadiran Jepang di mana-mana? Kini Jepang, sebagai negara, adalah pedagang dunia yang ketiga terbesar sesudah AS dan Jerman Barat. GDP-nya malah kedua terbesar. Kekuatan Jepang adalah, bahwa daerah pemasaran dan penanaman modalnya terbagi lebih berimbang di Amerika Utara, Eropa Barat, ASEAN, Timur Tengah dan Amerika Latin. Secara umum Jepang memang tergantung dalam bahan baku dan energi maupun pemasaran kepada negara-negara lain. Tapi “religiusitas kerja”-nya membuat Jepang unggul sebagai pengrajin industri maupun sebagai pedagang. Itulah yang mengubah posisi Jepang menjadi tidak tergantung kepada siapa pun. Bahkan Jepang telah membagi-bagi sumber-sumber ekonomi dunia untuk keuntungannya.
Kini Jepang memang mendapat saingan baru dari negara-negara NIC’s seperti Korea Selatan, Hongkong, Singapore atau Brazil yang bisa bersaing di pasaran dunia, bukan saja karena ongkos buruhnya yang murah tapi juga trampil. Dulu Jepang memiliki keuntungan komparatif itu karena sedang mengalami masa transisi demografi, sehingga bisa menyediakan buruh murah dan terampil kepada industrinya. Sekarang, masa industri dengan buruh murah sudah berakhir. Jawaban Jepang terhadap masalah itu akan sangat berpengaruh pada posisi negara-negara seperti ASEAN, khususnya dalam pasaran dunia. Mungkin di sini Jepang akan memperbaharui peranannya sebagai negara sub-imperialist yang memanfaatkan buruh murah dari negara lain.