Pada 2016 lalu, beberapa petani sayur di wilayah lereng timur Gunung Slamet, Jawa Tengah, mulai mengeluhkan meningkatnya penyakit dan hama tanaman yang menyerang tanaman mereka. Hal itu terjadi seiring peningkatan suhu lingkungan. Tak sedikit juga di antara mereka mengalami gagal panen.
Kini, petani tidak bisa lagi menduga iklim, sehingga sering kali mereka mengalami gagal panen. Para nelayan juga tidak bisa memprediksi kapan harus melaut. Bahkan, pengambil kebijakan publik pun kini kerepotan dengan seringnya terjadi bencana hidrometeorologi yang menimbulkan banyak korban jiwa di tingkat warga.
Bencana meteorologi merupakan bencana yang diakibatkan oleh parameter-parameter meteorologi, seperti curah hujan, kelembaban, temperatur, dan angin. Kekeringan, banjir, badai, El Nino hingga La Nina adalah beberapa contoh bencana hidrometeorologi yang dimasukkan ke dalam bencana meteorologi karena bencana ini disebabkan atau dipengaruhi oleh faktor-faktor meteorologi.
Meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi adalah salah satu indikator terjadinya perubahan iklim. Persoalan perubahan iklim sudah sering diperbincangkan di masyarakat, bukan hanya di Indonesia namun juga di tingkat internasional. Berbagai konferensi tingkat tinggi yang dihadiri para pemimpin negara-negara di dunia sering digelar untuk membahas upaya mencegah dan juga beradaptasi dengan bencana ekologi global perubahan iklim.
Pertanyaannya kemudian adalah, meski soal perubahan iklim kerap diperbincangkan di tingkat internasional, mengapa suhu bumi semakin panas? Bahkan, dalam buku Kebijakan Energi Lingkungan yang ditulis oleh Donny Yoesgiantoro ini terungkap bahwa emisi gas rumah kaca (GRK) pada 2013 telah mencapai titik tertinggi dalam kurun waktu 2 juta tahun terakhir. GRK adalah emisi yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim. GRK disebabkan oleh pembakaran energi fosil dan juga perubahan peruntukan lahan.