Prisma

Krisis Kapitalisme?

Pada tahun 1934, Bung Hatta, pernah menulis tentang “Krisis Ekonomi dan Kapitalisme”. Dikatakannya bahwa konjungtur, yaitu pasang-surutnya perkembangan ekonomi jangka panjang, adalah merupakan gejala yang relatif baru dikenal, yaitu muncul bersama-sama dengan timbulnya sistem kapitalisme. Ada kalanya konjungtur itu berujung pada suatu krisis ekonomi, yaitu situasi kacau yang memerlukan pengambilan keputusan. Hatta di situ menyebut beberapa jenis krisis-ekonomi, yaitu krisis produksi, krisis moneter, krisis pasar dan juga “krisis pembagian harta” atau krisis “distribusi pendapatan”, kata orang sekarang.

Yang menarik dari ulasan Hatta adalah salah satu kesimpulannya bahwa peredaran konjungtur itu berkaitan dengan masa reproduksi barang-barang modal. Ini cocok dengan situasi sekarang. Kalau kita menengok ke negara-negara industri, maka yang menjadi persoalan pokok adalah, bagaimana mereka bisa melakukan restrukturisasi industri. Keharusan restrukturisasi ini juga muncul di negara-negara yang sedang membangun, yaitu yang ingin beralih dari pola industri tradisional ke industri moderen. Sebagian baru akan memasuki tahap industri substitusi-impor, sebagian mulai ingin beralih ke pola substitusi-ekspor. Beberapa negara malahan sudah berhasil mencapai taraf “negara industri baru” yang memproduksi barang-barang ekspor dan modal.

Di balik gejala kebutuhan restrukturisasi itu adalah persaingan, tidak hanya antar industri dan sektor, melainkan antar kekuatan monopoli, oligopoli, kartel internasional, blok-blok ekonomi atau subsistem-subsistem ekonomi. Yang lebih membuat kompleks persoalan adalah, bahwa dalam struktur kompetisi itu tidak saja berdiri MNC dan aglomeratnya, melainkan juga nation-state yang praktis sudah menjadi korporasi itu telah melakukan intervensi dalam memburu dana pembangunan, kredit investasi dan upaya akumulasi kapital.

Kesulitan atau kericuhan timbul, karena kebutuhan untuk pembangunan dan restrukturisasi industri dirasakan mendesak tapi dana sudah sangat terbatas karena sumber-sumber keuangan itu sebenarnya telah banyak dikuras. Sementara itu, perusahaan-perusahaan dan pemerintah di negara-negara industri sendiri sebenarnya sudah sangat jauh terperosok ke dalam hutang dan sistem kredit, sehingga Newsweek menjuluki ekonomi negara-negara maju itu sebagai Debt Economy, sedangkan Dunia Ketiga oleh Andre Gunder Frank disebut sebagai telah memikul The Bondage of Debt. Situasi itulah yang sebenarnya tidak saja menimbulkan terjadinya perang dagang dan proteksionisme, melainkan juga mendorong pada upaya-upaya kekerasan, baik yang sifatnya brutal maupun “institusional”.

Kalau masa antara Perang Dunia pertama dan kedua ditandai oleh munculnya Fasisme dan Stalinisme, dewasa ini, krisis yang oleh Samir Amin disebut sebagai “krisis akumulasi dalam skala dunia” itu, disertai dengan proses militerisasi dunia yang berasal dari negara-negara industri serta timbulnya pemerintahan represif di Dunia Ketiga. Upaya-upaya untuk keluar dari kemelut itu, selain ditandai dengan terbentuknya aliansi-aliansi baru di antara kekuatan politik juga telah menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan dalam pembagian kerja internasional yang menimbulkan krisis distribusi pendapatan tidak saja dalam skala nasional, seperti disebutkan Hatta, tapi juga dalam skala internasional.

Dalam sejarah, krisis-krisis nasional telah menimbulkan kup, perang saudara atau revolusi. Namun berbagai krisis yang berhasil diatasi, seperti Depresi Besar tahun 1930-an didahului dengan penemuan-penemuan ilmiah yang menjadi dasar kebijaksanaan ekonomi baru. Kesulitan dalam krisis kapitalisme dewasa ini adalah, bahwa upaya-upaya perubahan kebijaksanaan nasional sangat sulit dipisahkan dengan struktur perekonomian dunia yang telah mengandung sistem kekerasan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan