Prisma

Makan Tak Sekadar Makan

Makanan tak pernah tak menarik buat para antropolog. Bukan karena semua orang butuh makan demi kelangsungan metabolisme biologisnya, tetapi karena makanan juga penting dalam metabolisme kultural. Suatu masyarakat bisa menyucikan atau malah menistakan makanan tertentu. Karena itu, orang bisa saling bunuh hanya karena makanan. Coba periksa, berapa banyak korban nyawa dalam kerusuhan “antipembunuh sapi” di India? Seberapa banyak orang saling membenci karena satu kelompok mengharamkan suatu makanan, sementara tetangga mereka menikmatinya dalam sebuah upacara? Berapa banyak orang mati kelaparan di tengah melimpahnya apa yang oleh masyarakat lain dianggap sebagai sumber makanan?

Ada dua cerita menarik soal makanan di Indonesia. Yang pertama cerita lama. Dulu, pada akhir dasawarsa 1960-an, pemerintah mengampanyekan konsumsi bulgur sebagai pengganti beras. Pasalnya, ketika sedang membangun sendi-sendi kekuasaan, rezim baru menghadapi kenyataan bahwa produktivitas pertanian padi susut. Banyak orang kelaparan. Beras langka. Kalaupun ada, harganya sangat mahal. Rezim baru butuh legitimasi. Ibarat Ratu Adil yang datang hendak menghancurkan kejahatan dan menghadirkan kemaslahatan ke dunia, mereka perlu jaminan rakyat mendukung upaya meruntuhkan kekuasaan orang paling populer di kalangan jelata kala itu, Presiden Soekarno.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan