Prisma

Ong di Mata Seorang Sahabat*


* Penulis mengucapkan terima kasih kepada Arya Wisesa, Ben Abel, dan Dédé Oetomo untuk kritik dan komentar terhadap versi awal tulisan ini. Namun, semua yang tertuang di dalam tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Judul      : To Remain Myself, The History of Onghokham

Penulis  : David Reeve

Penerbit: Asian Studies Association of Australia (ASAA) dan NUS Press, Singapore, 2022

Tebal      : x + 346 hal.

ISBN       : 978-981-325-159-5

Judul buku ini, To Remain Myself, sangat menarik perhatian karena mengingatkan para pembaca agar selalu kukuh untuk menjadi diri sendiri kendati tantangan datang bertubi-tubi. Anak judulnya, The History of Onghokham, jelas mengisyaratkan isi buku ini mengisahkan riwayat hidup Onghokham. Siapakah dia? Onghokham (Surabaya, 1 Mei 1933-Jakarta, 30 Agustus 2007) atau Ong Hok Ham1 adalah satu dari sedikit sejarawan Indonesia yang luar biasa pada dekade 1980-1990- an. Dia mengajar di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI). Namanya melegenda karena sepak terjangnya, tulisantulisannya maupun mitos tentang dirinya.


1 Onghokham atau Ong Hok Ham adalah nama yang kerap dipakainya secara bergantian. Ong Hok Ham (tiga kata) adalah nama pemberian orangtua yang terus dipakainya sampai, setidaknya, bersekolah di Amerika Serikat pada 1968. Saya menduga, paspor, surat, dan dokumen-dokumen resmi lainnya masih menggunakan nama itu. Penggantian menjadi Onghokham (1 kata) muncul kali pertama pada 1970 ketika Ong menulis sebuah artikel dalam buku Indonesian Political Thinking, 1945-1965 (Ithaca dan London: Cornell University Press, 1970), hal. 346-350, yang disunting Herberth Feith dan Lance Castle. Nama Onghokham pula yang dia pakai saat menulis “Wayang Topeng World of Malang” dalam Jurnal Indonesia, No. 14, Oktober 1972, hal. 110-124 serta dalam disertasi berjudul “The Residency of Madiun Pryayi (sic!) and Peasant in The Nineteenth Century” yang dipresentasikannya di Universitas Yale, Amerika Serikat, pada 1975. Dia kembali mengubah nama menjadi Ong Hok Ham menjelang Reformasi 1998 dan memakai ini hingga wafatnya. Dari nama pemberian orangtuanya itu, seharusnya panggilan yang tepat untuk Ong adalah “Hok Ham,” sebagaimana nama panggilan yang lazim digunakan sesama peranakan Tionghoa, seperti Mely G Tan ataupun Thee Kian Sie. Namun, sebagian kawannya merasa lebih nyaman dan akrab bila menyapanya “Ong” atau “Pak Ong.”

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan