Buruh wanita termasuk golongan yang paling tinggi porsinya dalam angkatan kerja di Indonesia. Tetapi di pihak lain M. Darwis Hamsah mengatakan buruh wanita adalah juga manusia yang paling ditelantarkan. Mereka paling banyak berada di desa. Tetapi ketika pembangunan makin gencar dan banyak kerajinan tangan di desa dimakan oleh pabrik-pabrik moderen, maka buruh dan bekas buruh wanita juga yang menderita karena digencet dari lapangan kerjanya. Kalau sekiranya mereka dibicarakan dalam segi partisipasi, maka yang ada bukan partisipasi tetapi mobilisasi tenaga, dan semuanya terlebih untuk sekedar melanjutkan hidupnya.