Dalam catatan sejarah, tokoh-tokoh besar nasional yang sudah mendunia hampir dipastikan selalu menjadi bahan kajian, diskusi, perdebatan pro dan kontra, serta tak ketinggalan rumor dan bahkan cacimaki serta fitnah di samping pemujaan dan fanatisme dari sebagian orang. Ini berlangsung terus meski tokoh tersebut sudah meninggal lama. Sebut saja nama Mahatma Gandhi dari India, Gamal Abdul Nasser dari Mesir, Robert Kennedy dari Amerika Serikat, Sun Yat Sen dari Tiongkok, dan Jose Rizal dari Filipina, dan masih banyak lagi tentunya. Untuk Indonesia, hampir niscaya nama Soekarno masuk dalam hitungan tokoh besar nasional yang mendunia. Dia berdiri sejajar, atau mungkin lebih, bersama Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, Mohammad Roem, dan lain-lain.
Di samping banyak jasanya, dan juga tentu kesalahannya, buat negara dan bangsa Indonesia, Soekarno, Sukarno atau biasa disebut Bung Karno memang sosok pribadi teramat kompleks, dan bahkan juga kontroversial. Betapa tidak! Dialah salah satu tokoh nasional yang berhasil mengantar bangsanya meniti “jembatan emas”, atau pintu kemerdekaan. Kita pun mencatat bahwa dia juga yang kemudian wafat mengenaskan dengan status sebagai tahanan dalam pemerintahan bangsanya sendiri yang untuk waktu sekian lama diperjuangkan selama hayatnya. Bung Karno di masa jayajayanya oleh pelbagai kelompok masyarakat, dan juga pemerintah, diberi berbagai gelar serba agung. Sebut saja, misalnya, Pemimpin Besar Revolusi, Penyambung Lidah Rakyat, Presiden Seumur Hidup, Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata atau Paduka Yang Mulia serta Mandataris Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). Namun, lagi-lagi kita bisa mencatat, dia pula yang kemudian dihujani pelbagai praduga, hinaan serta cercaan hingga hari-hari akhir sampai meninggalnya. Tragedi Kemanusian! Kata-kata sangat tepat yang menggambarkan sosok Sang Proklamator itu.
Pada 1970, tepatnya 21 Juni, hari Minggu, sekitar pukul 07.07, Soekarno, Sang Putra Fajar, kembali ke pangkuan-Nya. Kita pun menyaksikan dan mendengar bagaimana ribuan bahkan jutaan orang dari pelosok Indonesia memberi penghormatan terakhir terhadap tokoh nasional itu, di luar segala kesalahannya, yang memang banyak memiliki jasa terhadap bangsa dan negara ini. Belum lagi penghormatan dari negaranegara sahabat, kepala negara dan kepala pemerintahan banyak negara, serta ulasan media massa asing. Upaya untuk menghapuskan jasanya, dan ini kemudian dilakukan Orde Baru melalui proses “de-Soekarnoisasi”, niscaya akan sia-sia. Ternyata, tepat sewindu setelah kepergiannya, nama Bung Karno kembali disebutsebut dengan segala pro dan kontranya. Kita jadi ingat apa yang dikatakan oleh Tilak, “Tokoh sejarah tidak akan selamanya lenyap.” Bahkan jauh hari sebelumnya, dalam sebuah kesempatan, Soekarno pernah mengatakan, “Hanya bangsa yang tahu menghargai pahlawan-pahlawannya dapat menjadi bangsa yang besar.” Sampai di sini kita tentu bisa mengatakan siapa yang akan menolak atau menafikan bahwa Soekarno adalah pahlawan nasional. Jika mau dikalkulasi secara kuantitatif, misalnya, secara common sense kita bisa mengatakan bahwa jasanya terlampau besar buat bangsa ini dibanding kesalahannya.