Jurnal Pemikiran Sosial Ekonomi

Hubungan Cinta-Benci antara Indonesia dan Malaysia

Daniel Dhakidae

Siapa ego dan siapa alter ego antara Indonesia dan Malaysia? Memusatkan perhatian pada masa kini sangat menyederhanakan soal. Mencarinya terlalu jauh dalam arkeologi sosial memberi kesan lari dari soal. Sejarah tidak senantiasa menentukan, akan tetapi secercah titik terang bisa muncul di sana.

Penjelajahan sejarah purba menempatkan Jawa dan Sumatra di atas Semenanjung Malaya yang bersawah pun tak mampu. Di sisi lain India dianggap sumber peradaban Malaya yang memperkaya khasanah budaya dalam arti seluasluasnya. Sebegitu rupa pengaruh India atas Malaya sehingga sejarawan Tregonning mengatakan:” ... If you remove everything Indian from the Malay you will find a naked savage”; singkirkan apa pun yang berbau India dari Malaya maka yang tinggal adalah manusia purba nan telanjang.

Namun, ditambahkannya pula, sering yang dinamakan India tidak semuanya berasal langsung dari India, akan tetapi India dengan jalan putar, yaitu Jawa salah satu yang dimaksudkan. Dengan demikian, dia berkesimpulan bahwa kebudayaan tanah Malaya dibawa bukan dari Utara, tetapi dari Selatan.

 

Penjelajahan sejarah modern menunjukkan komitmen warga progresif Malaya —wartawan, pemuda, cendekiawan, kaum aktivis kiri Marxis— kepada kemerdekaan Indonesia tahun 1940-an, karena kemerdekaan Indonesia adalah kemerdekaan Malaya juga dalam Indonesia Raya. Hanya kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II yang tidak memungkinkan semua ini terjadi. Dengan begitu bisa dilihat di sini EGO Indonesia tidak mengenal alter ego. Proses ego dan alter ego berkembang kemudian dalam proses mencari identitas masing-masing dalam lapis-lapis sejarah modern.

***

Sebagaimana setiap masyarakat yang pernah dijajah, pembentukan identitas itu selalu berjalan dalam suatu dialektika keras dengan para penjajah. Kebanggaan Indonesia merebut kemerdekaan dengan darah sedemikian rupa berlangsung sehingga Malaysia tenggelam dalam apa yang oleh political parlance bangsa ini disebut sebagai “merdeka hadiah” dari bangsa penjajah, yaitu Inggris. “Merdeka hadiah” dan “merdeka berdarah” menjadi ukuran untuk menentukan siapa di atas dan siapa di bawah, antara kedua bangsa ini.

Dalam proses ini, dalam sejarah kedua bangsa modern, tercipta hubungan unik untuk menentukan siapa menjadi alter ego siapa dalam mengejar identitas tulen, kalau ada apa yang disebut sebagai identitas tulen itu. Siapa menjadi cermin siapa dalam mengejar ambisi, dalam mengejar grand ideal of the self. Bagi Soekarno sudah pasti Malaya yang sudah berubah menjadi Malaysia bukan alter ego dalam arti ini, karena penghilangan Malaysia dari muka bumi adalah cita-cita revolusi yang tidak pernah selesai, karena Malaysia adalah garis depan imperialisme.

Ketidakmampuan menghancurkan Malaysia dari sejarah mendapat terjemahan dalam tindak untuk meremehkannya secara politikokultural, meski kemajuan ekonomi Malaysia selalu menjadi duri. Merendahkannya secara politiko-kultural dan kecemburuan terhadap kemajuan ekonomi dan teknologinya selalu membekas dalam EGO saudara tua Indonesia setelah puncak politik “Ganyang Malaysia” Pemimpin Besar Revolusi Soekarno tahun 1960-an tidak memberikan hasil.

Sejak itu berlangsung hubungan asimetris antara keduanya yang tidak menunjukkan kapan akan sembuh. Yang berlangsung akhirakhir ini bukan politik “Ganyang Malaysia” dengan tingkat provokatif setinggi Soekarno dengan imperialisme sebagai taruhan dan karena itu jauh lebih merasuk badan dan jiwa. Keduanya berbeda taruhan karena Soekarno sepenuhnya ideologis di tingkat tinggi, dan yang akhir-akhir ini semata-mata kegenitan petite bourgeoisie dalam pendakuan hak milik, intellectual rights dan cultural rights, yang sematamata memberi kesan mundane.

Kerusakan hubungan itu langsung diterjemahkan menjadi olok-olokan berbahasa dengan tujuan sangat jelas untuk menempatkan Malaysia dalam arti budaya setingkat lebih rendah dari “budaya adiluhung” Indonesia. Penempatan sanding-bersanding antara “rumah sakit bersalin” Indonesia dengan “rumah korban lelaki” Malaysia, misalnya, dalam lelucon-lelucon panggung [Catatan: Malaysia mengenal hospital dan rumah sakit dan bukan seperti yang dikatakan di atas] adalah salah satu dari ejekan getir yang terungkap dalam condescending lingolese, bahasa ejekan merendahkan, masyarakat Indonesia dalam segala tingkat.

Ada yang malah menyusun suatu lingo glossary untuk hal-hal seperti itu, di mana dideret satu per satu lemah untuk melecehkan apa yang disebut sebagai “bahasa Malaysia” tanpa memperhitungkan bahwa kekayaan khazanah bahasa Indonesia dengan akar Melayu masih disimpan dengan rapi di Malaysia.

***

Dengan begitu selalu bisa dilihat ada suatu hubungan asimetris antara Indonesia dan Malaysia ketika salah satu pihak berusaha menariknya ke titik ekstrem untuk menjadi berlebih-lebihan. Armada pekerja jalan raya, pemetik buah kelapa sawit, dan pramuwisma yang dikirim negeri ini disapa dalam lingo “orang-orang Indon” dengan konotasi merendahkan, meski berulang kali disangkal —resmi dan tidak resmi— bahwa itu bukan maksudnya, mungkin hanya ingin meniru Indonesia yang suka menyingkat apa saja dalam bahasanya.

Hubungan asimetris itu semakin meningkat akhir-akhir ini. Pencurian lagu, pendakuan seni tari dan lain-lain oleh Malaysia semakin meningkatkan asimetria hubungan antarbangsa ke tingkat menegangkan sebegitu rupa sehingga lebih menjadi “perang”.

Dalam hubungan itu di dunia maya seorang pemuda bangsa ini menulis dengan penuh amarah, dan getir di satu pihak, dan jenaka di pihak lain: “Ganyang Malaysia dan selamatkan Siti Nurhaliza!” Suatu pembedaan tegas digariskannya antara Malaysia dan Siti Nurhaliza. Malaysia identik dengan kedaifan sedangkan Nurhaliza adalah keanggunan artistik. Kewargaan Malaysia seolah-olah ingin disingkirkan dari Siti pemiliknya karena keadiluhungan yang digaulinya seharusnya jadi milik Indonesia dan karena itu Nurhaliza seharusnya jadi orang Indonesia yang juga mengagung-agungkannya di sini dalam seribu pentas yang pernah digelarnya bagi bangsa ini.

Di mana letak keanggunan artistik yang tidak diperkenankan menjadi milik Malaysia kalau bangsa ini pun sudah sejak zaman yang tidak bisa ditentukan kapan menyadur/menjiplak/ mengambil alih jejak-jejak budaya dari begitu banyak bangsa lain lagi? Mari simak lagu populer berikut ini yang liriknya mampir ke bibir setiap insan muda, atau yang pernah muda, bangsa ini. Lagu tersebut dulu dan sekarang menghidupkan pertemuan, kapan saja dan di mana saja di desa dan di kota:

Aduh mama jangan marah beta

Dia cuma cium beta

Aduh mama, jangan marah beta,

Orang muda punya biasa.

 

Melihat kenyataan lagu tersebut begitu menyatu dengan emosi satu bangsa bergenerasigenerasi siapa yang pernah menduga bahwa lagu tersebut bukan milik bangsa ini? Siapa nyana bahwa itulah karya Wolfgang Amadeus Mozart, sang jenius dari tanah Jerman, dari Opus 9? Kalau pun kini ada yang sadar tak ada lagi yang peduli siapa penggubah karena kegembiraan tak mengenal penggubah lagu, ia hanya mengenal suasana yang dimungkinkan, siapa pun penciptanya.

Di pihak lain Jerman tanah airnya, dan terutama penggubahnya, Mozart, tak akan keluar dari kuburnya untuk menghardik bangsa ini. Yang ada adalah kegirangan bahwa gubahannya menembus ruang-ruang budaya antar bangsa, menghangatkan suasana, dan menyatukan asmara putra-putri bangsa lain karena gubahannya. Itu saja sudah cukup untuk menyungging senyum di bibirnya. Pendakwaan dengan sendirinya jadi haram.

Kegirangannya mungkin meningkat lagi terutama karena kemampuan bangsa, mungkin tidak pernah dikenalnya, yang dengan jenial menggubah sesuai dengan budayanya untuk dijadikan dasar pantun yang untuk ke berapa ratus kalinya membongkar suasana dingin dengan meluapkan tawa dalam pantun jenaka; dan berapa ribu kalinya mengikat asmara bagi putra-putrinya dalam pantun cinta; dan berapa laksa kali pernah membuyar perseteruan, dan menganyam kembali persahabatan dan persaudaraan.

Namun, kombinasi dari tuduh-menuduh itu sampai kepada suatu kebijakan publik dalam bidang pendidikan. Semuanya menunjukkan ketegangan psike suatu bangsa, yang menjadi gejala menuju perang. Salah satu ciri yang menunjukkan bahwa negara berada dalam “perang” adalah ketegangan yang meningkat tinggi. Kalau Universitas Achmad Dahlan Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Malang, dan Universitas Diponegoro, Semarang memutuskan untuk tidak lagi bekerja sama dengan universitas- universitas Malaysia maka tanda-tanda yang menunjukkan ketegangan itu semakin jelas.

Ketegangan menjadi jauh-jauh lebih serius dibandingkan dengan pencurian lagu atau pengambil-alihan tarian. Semuanya semakin meyakinkan kita bahwa tengah berlangsung suatu psychological warfare antara kedua bangsa.

***

Ketegangan biasanya melahirkan dua hal berikut ini. Pertama, irasionalitas yang pada gilirannya tidak sulit dicari terjemahannya dalam kehidupan nyata. Ketika kilat dan petir berdatangan sambar-menyambar dan rakyat Uni Soviet bergumam dalam hati atau berteriak di bilik-bilik tidurnya “terkutuklah Breznev!”, kita tahu bahwa masyarakat tengah berada dalam proses irasional. Ketika satu lagu dibajak dan satu tarian didaku dalam satu pentasan, dan bangsa ini berteriak “ganyang Malaysia”, kita tahu bahwa bangsa ini sudah berada dalam proses menuju yang irasional.

Kedua, ujung paling mencelakakan dari yang irasional adalah paranoia sosial dan politik di mana tidak ada lagi kesesuaian antara pikiran, persepsi, sikap dengan kenyataan di luar. Kalau satu pulau diambil-alih dan satu bangsa marah kita masih mengatakan ada akal sehat yang tengah bekerja. Akan tetapi kalau satu tarian milik bangsa dipentaskan dan setiap orang dari bangsa ini berteriak “ganyang Malaysia”, atau “rebut kembali Ambalat”, dan memutuskan kerja sama di bidang pendidikan maka bangsa ini bukan saja dililit irasionalitas akan tetapi paranoia di mana setiap amarah menjadi tidak tertahankan, kecurigaan berkembang-biak, dan fantasi-fantasi konspiratorial berbiak tak lagi kenal batas sambil melupakan dan mengabaikan apa sesungguhnya yang menjadi taruhan bangsa ini kini dan masa datang.

Di sisi lain tidak ada satu pun suara pernah dikeluarkan bangsa ini untuk mengamuk dengan alamat dunia pendidikan Malaysia ketika buku-buku, roman yang digubah salah satu sastrawan terbesar Indonesia modern, Pramudya Ananta Toer, menjadi bacaan wajib di sekolahsekolah menengah Malaysia.

Kepopuleran Pramudya di sana tiba-tiba menempatkan Malaysia sebagai alter ego bagi kaum pencinta sastra negeri ini karena karyakarya pengarang besar tersebut tetap menjadi barang haram bagi sekolah-sekolah menengah Indonesia. Tiba-tiba Malaysia menjadi kutub ke mana tipe ideal sang EGO itu harus diarahkan.

***

Karena sudah berlangsung berpuluh tahun dan bergenerasi-generasi apa yang sesungguhnya terjadi antara kedua bangsa ini? Dengan semua yang sudah dikatakan di atas mestinya dalam lapis demi lapis sejarah kedua bangsa ini tertanam rasa cinta sebagaimana pernah diumbar, dan membuang rasa benci yang pernah dilampiaskan. Kesaksian kelompok-kelompok artis Indonesia menunjukkan berapa rindu yang pernah dilepaskan oleh kedua bangsa ini.

Malaysia dirindukan oleh rakyat biasa yang tidak punya pekerjaan, yang tidak diakui, dan malah diperas di dalam negerinya sendiri. Di salah satu sudut bangsa ini di Nusa Tenggara Timur, misalnya, Malaysia menjadi idaman lelaki muda, yang baru bisa dinyatakan dewasa dan pantas menggandeng dan menyunting sang gadis kalau pernah “merantau” ke Malaysia. Dengan begitu Malaysia menjadi simbol ketangguhan. Namun, pengalaman tentang kekerasan seharusnya jadi batas rindu itu meski dalam kenyataan Malaysia tetap jadi magnit bagi rakyat kecil. Dalam kasus penyiksaan para perempuan pekerja Indonesia kita lihat bahwa rindu sebetulnya sudah mencapai batas karena manis pun sudah jadi cuka.

Mengapa Malaysia begitu dirindukan lapis bawah dan kini begitu dibenci lapis atas? Untuk lapis bawah Malaysia adalah kehidupan, sedangkan untuk lapis atas Malaysia adalah pesan tentang kegagalan bangsa ini menghidupi anakanaknya sendiri. Kontradiksi ini begitu liat untuk dengan mudah dipecahkan. Karena itu setiap kepala yang yang berada di Malaysia, dan tangan-tangan yang memegang mesin di Malaysia lebih menjadi pesan tentang persoalan negeri asalnya.

Sebagai perbandingan asosiasi psikologis semacam itu tidak terjadi dengan pekerja Indonesia di Timur Tengah, misalnya, di mana mereka bekerja, dibayar, dan tidak lebih dari itu. Di negara-negara lain mereka bekerja dan yang terpenting memberikan sumbangan dengan mempertebal cadangan devisa bangsa ini melalui sesuatu yang dalam bahasa kerennya disebut remittance, yaitu sejumlah uang yang mereka kirim melalui bank-bank asing dan nasional.

 

Semuanya semakin menegaskan dua hal. Di satu sisi Malaysia adalah karikatur kebudayaan dan di pihak lain kotak pandora pengirim bala. Hanya dengan Malaysia lalu-lintas tenaga kerja bukan gejala perdagangan bebas dunia akan tetapi menjadi psikologi sosial. Hanya dengan Malaysia ekonomi berubah rupa menjadi psikiatri karena mimpi buruk tentang persoalan ekonomi negeri ini. Malaysia dengan demikian tampil sebagai alter ego, menjadi cermin yang membuka muka bopeng bangsa ini, dan karena itu cermin itu harus dibelah.***