Pendahuluan
Sikap terhadap sexualitas berkembang dalam konteks sosial. Dalam masyarakat yang lebih primitif di mana tabu masih meliputi persoalan sexualitas, hubungan antara wanita dan pria dalam setiap fase yang dilewati dari satu kurun umur ke kurun umur lainnya telah diatur dan melembaga dalam ritus. Misalnya upacara inisiasi mengawali masa seseorang akan menginjak umur dewasanya (dalam arti sexuil). Tanggung jawab sebagai konsekwensi dari kematangan sexuil dibina dalam ritus. Walaupun dalam masyarakat modern terasa adanya kebebasan tertentu dalam hubungannya dengan sexualitas, masih terdapat banyak ambivalensi dalam sikap-sikap ini. Terasa ada kebebasan. Tapi di fihak lain masih disaksikan adanya sanksi sosial yang diberikan misalnya kepada pembicaraan tentang sex secara terbuka baik antara pemuda dan pemudi, antara orang muda dan orang tuanya maupun antara orang muda dan orang dewasa lainnya. Sanksi sosial bisa muncul dalam bentuk teguran sampai kepada bentuk ekstrimnya dalam pengucilan dari pergaulan sosial. Kenyataan lain ialah tidak setiap orang memiliki informasi yang memadai serta akurat tentang serba aspek sexualitas, tidak semua orang tua dan orang dewasa lainnya memiliki kelengkapan informasi dan pengetahuan semacam itu. Sebagai konsekwensinya, komunikasi yang khusus dalam masalah sexualitas menjadi terhalang. Keterkejutan, ketakpastian dan responsi negatif dan emosionil masih mewarnai diskusi semacam itu.
Bagaimana mengatasi semua hal yang disebutkan di atas? Untuk menjawabnya maka “pendidikan sex” dianggap sebagai pemecahannya. Hanya pendidikan sexlah yang mampu merubah konsep-konsep dasar yang menanamkan semua konotasi negatif pada sexualitas. Hanya bilamana terdapat sikap yang sehat dan sikap yang dipupuk oleh informasi yang akurat terhadap sex dengan sendirinya sumber lain seperti pornografi bisa dieliminir dan bukanlah sebuah sumber yang berarti untuk mencari informasi tentang masalah seksualitas.
* Tulisan ini dibuat atas kerjasama penulis dengan Daniel Dhakidae. Bahan yang dipakai sebagian terbesar berdasarkan penelitian “Pendidikan Sex” (1970) yang dilaksanakan oleh Bagian Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang dibimbing oleh penulis sendiri. Sumber-sumber lainnya diambil dari The Report of the Commission on Obscenity and Pornography, (New York: Bantam Books, 1970), terlebih bab-bab khusus mengenai “Sex Education”; dan Medicina majalah ilmu kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung; Dr. Ali Akbar Merawat Cinta Kasih, (Jakarta: Pustaka Antara, 1975), Cyrill Bibby, Sex Education, A Guide for Parents, Teachers and Youth Leaders, edisi ke-2, (London: 1957).