Dapatkah studi atau refleksi mengenai sejarah mempunyai makna bagi mereka yang hidup dalam waktu dan di tempat yang lain? Atau dengan singkat: dapatkah kita belajar dari sejarah? Kita tidak akan mengunyah-ulang perdebatan lama mengenai masalah ini. Kita menyinggungnya sekedar untuk menegaskan bahwa dalam tulisan ini, dengan sadar kita berdiri di antara dua pandangan yang ekstrim. Satu sikap ekstrim ialah yang berkata bahwa kita tidak dapat menarik pelajaran apapun dari studi atau renungan mengenai sejarah. Ada yang berkata bahwa sejarah itu ialah cerita tanpa makna yang dikisahkan oleh orang bebal. Ada lagi yang secara sinis berkata bahwa orang telah terlalu banyak menulis sejarah hingga sulit untuk dapat mempercayainya. Sikap ekstrim yang lain tercermin dalam ucapan-ucapan yang sering terdengar: sejarah mengajarkan ini dan itu. Seolah-olah studi atau renungan mengenai sejarah dapat menghasilkan hukum yang secara pasti dan secara deterministis menentukan perkembangan dalam waktu yang akan datang. Dengan menghindarkan kedua sikap yang ekstrim itu karangan ini didasarkan pada sikap positif yang dibumbui oleh unsur skeptis yang sehat berhubung dengan pertanyaan: apakah kita dapat belajar dari sejarah?
Studi atau refleksi sejarah memiliki makna yang positif. Tidak dalam arti bahwa sejarah itu melahirkan hukum-hukum yang menguasai perkembangan sejarah selanjutnya. Perkembangan sejarah tetap merupakan arena kebebasan dan tanggungjawab manusia, baik manusia sebagai individu maupun sebagai kelompok kecil atau besar, seperti keluarga, perkumpulan, partai, perusahaan, negara, bahkan umat manusia sebagai keseluruhan. Tentu kita sadar bahwa dalam menjalankan kebebasan dan tanggungjawab tadi manusia dan kelompok-kelompok tidak bergerak dalam kevakuman, melainkan dalam rangka kenyataan-kenyataan yang merupakan konteks bagi hidupnya. Manusia sebagai makhluk bebas dan bertanggungjawab tidak dapat melepaskan diri dari kenyataan-kenyataan sebagai hasil sejarah dalam daya-upayanya untuk merubah kenyataan itu menurut cita-citanya.
