I
Kata orang-orang pintar, manusia ini makhluk Tuhan yang unik juga. Ia tidak hanya memiliki hari lampau, seperti makhluk lainnya, tetapi juga memiliki konsepsi tentang hari lampau itu. Sebagai lazimnya benda organis ia bukan saja memiliki hari nanti, tetapi berusaha memberi gambar terhadap hari nanti itu. Mungkin saja gambaran tersebut adalah perulangan dari konsepsi terhadap kelampauan, perbaikan dari hari kini, ataupun peniadaan dari arti kini dan lampau itu. Dengan begini dalam dirinya sering terkabur antara kelampauan sebagai pengalaman dan kelampauan sebagai apa yang digambarkan. Berbagai transformasi atau peralihan bentuk bisa terjadi-ide beralih bentuk menjadi peristiwa atau tokoh atau sebaliknya.
Sejarah, hari lampau yang pernah dialami, dan mitologi, kelampauan yang realitasnya berada dalam konsepsi, terkumpul dan terbaur seakan-akan merupakan gambaran yang utuh. Begitulah seorang tokoh sejarah yang memang pernah ada dan yang sederhana saja bisa dibebani dengan nilai-nilai moral yang serba hebat dan maka jadilah ia tokoh legendaris, yang ke-“ada”-annya telah mengalami peralihan. Ia menjadi contoh, perumpamaan dan salah satu sumber nilai. Pada dirinya telah terikat dan terkait erat realitas historis dengan realitas konseptuil. Bisa pula terjadi bahwa demi kemantapan ide dan nilai yang sedang diperkembangkan secara pelan-pelan proses personifikasi dimulai. Ide tersebut berubah menjadi tokoh yang dianggap ada secara historis. Siapa tak kenal dengan Aji Saka, yang konon adalah peletak dasar kebudayaan Jawa dengan tulisan yang dibawanya. Tetapi apakah ia sebagai pribadi historis pernah ada? Dengan personifikasi nilai ini didapatkanlah alat pengingat (mnemonic) yang lebih mudah diturunkan dalam usaha masyarakat untuk mengadakan sosialisasi bagi generasi baru.