Secara umum, ideologi mungkin dapat diartikan sebagai suatu pandangan atau sistem nilai yang menyeluruh dan mendalam yang dipunyai dan dipegang oleh sesuatu masyarakat tentang bagaimana cara yang sebaiknya, yaitu secara moral dianggap benar dan adil, mengatur tingkah laku mereka bersama dalam berbagai segi kehidupan duniawi mereka. Akan tetapi, sebagaimana kita ketahui, dalam realitasnya sesuatu masyarakat mempunyai berbagai macam kelompok kepentingan yang dilahirkan oleh adanya perbedaan-perbedaan sosial, ekonomi, agama dan etnik apa lagi. Masing-masing kelompok ini biasanya mempunyai pula pandangan atau sistem nilai tertentu yang mereka pegang sebagai landasan dalam usaha untuk memajukan kepentingan-kepentingan mereka yang spesifik. Pandangan atau sistem nilai yang seperti ini mungkin dapat dianggap sebagai sub-ideologi. Dengan demikian, bilamana diteliti dengan cermat akan terlihat bahwa di dalam suatu ideologi tertentu tercermin kilasan sejumlah sub-ideologi. Di sini ideologi tampak sebagai penjelmaan dari suatu hasil konsensus bersama dari berbagai kelompok atau golongan kepentingan.
Kalau jalan pemikiran ini kita ikuti, maka salah satu dimensi dari ideologi ialah pencerminan realita yang hidup dalam masyarakat di mana ia muncul buat pertama kalinya, paling kurang realita pada saat-saat kelahirannya itu. Dengan lain perkataan, ideologi itu merupakan gambaran tentang sejauh mana sesuatu masyarakat berhasil memahami dirinya sendiri. Kalau begitu, daya tahan sesuatu ideologi antara lain tergantung pada tinggi atau rendahnya kemampuan intelektuell mereka yang melahirkannya dalam meneliti dan menganalisa masyarakatnya secara obyektif. Kalau kemampuan itu tinggi, maka ideologi yang lahir akan mempunyai relevansi yang kuat dengan jiwa dan kehidupan masyarakatnya, dan sebaliknya.
