Prisma

Respons Penduduk Terhadap Penciutan Kesempatan Kerja di Pedesaan

Pendahuluan

Akhir-akhir ini perhatian kita makin terarah pada aspek kesempatan kerja dan perataan hasil-hasil pembangunan yang telah dihasilkan oleh pertumbuhan ekonomi.

Bahwa di pedesaan sangat dirasakan kurangnya kesempatan kerja tidaklah dipertentangkan lagi. Tenaga kerja terlalu banyak dibandingkan dengan sumber-sumber ekonomi yang tersedia. Kalau kepada penduduk pedesaan ditanyakan bagaimana memperbaiki ekonomi desa, maka salah satu jawaban mereka yang terpenting adalah penambahan pendapatan dan penambahan kesempatan kerja, dua hal yang berarti sama bagi penduduk desa.

Namun demikian walaupun masalahnya seakan-akan cukup jelas, tidak berarti bahwa pemecahannya cukup sederhana. Sifat dan ciri-ciri pengangguran yang dihadapi di pedesaan ternyata tidak terlalu sederhana.

Pertama-tama ada terdapat persoalan ilmiah teoritis. Teori-teori dan upaya pemecahan mengenai pengangguran bermula di negara-negara Barat yang sudah maju, dengan konsep-konsep yang tidak selalu dapat menggambarkan kondisi yang riil di negara sedang berkembang. Misalnya konsep pengangguran tak kentara (disguised unemployment) mula-mula diperkenalkan oleh Joan Robinson tidak untuk tenaga kerja pertanian tetapi bagi pekerja-pekerja industri yang karena telah kehilangan pekerjaan biasanya terpaksa menjalankan pekerjaan-pekerjaan “aneh” seperti mengumpulkan daun-daun kering, menjual apel dan sebagainya. Menurut teori pengangguran Keynes, negara-negara berkembang terbebas dari kemalangan ini karena kesempatan investasi masih cukup luas. Baru belakangan ini dalam teori-teori “Post-Keynesian”, pengangguran tak kentara terutama di pedesaan dianggap merupakan gejala yang umum dan penting.

Sementara itu belum ada di negara kita penelitian yang mendalam mengenai ciri-ciri khas dan besarnya pengangguran di daerah pedesaan. Pembahasan-pembahasan mengenai ini, masih terlalu bersifat teoritis-hipotetis dari data-data yang diturunkan secara makro. Satu penelitian ekonomi mikro telah dilakukan oleh Masri Singarimbun dan Penny di Srihardjo yang walaupun bersifat terbatas sudah dapat memberikan gambaran empiris bagaimana penduduk pedesaan bereaksi terhadap proses penciutan lapangan kerja di pedesaan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan