Prisma

Cendekiawan dan Ulama dalam Masyarakat Aceh: Pengamatan Permulaan*

Hikayat adalah sejenis cerita rakyat yang dikisahkan dalam bahasa puisi berbentuk syair-syair. Dahulu, di masa jaya-jayanya, masyarakat Aceh meluangkan waktu mereka menikmati alunan suara si pembawa hikayat, terutama di meunasah-meunasah (surau atau langgar), melalui mana mereka banyak belajar tentang apa yang baik dan apa yang buruk, apa yang boleh dan apa yang dilarang, apa yang terpuji dan apa yang terburuk, apa yang berpahala dan apa yang maksiat. Sebagaimana wayang bagi masyarakat Jawa, hikayat (pernah) merupakan salah satu faktor penting dalam bentuk jiwa, sikap, dan pola tingkalakku masyarakat Aceh. Ia merupakan salah satu sumber pokok dari nilai yang (pernah) mereka hayati dan pegang teguh.1

Salah satu hikayat yang amat masyhur, di masa lampau tentunya ialah Sang Ma-nyang.2 Sebagaimana cerita Si Malin Kundang di Minangkabau, hikayat ini dimulai dengan kisah seorang ibu yang amat miskin yang suaminya sudah tiada lagi. Kesengsaraan si ibu ditambah lagi oleh karena ia harus pula memikul beban memelihara dan membesarkan seorang anak laki-laki yang sangat dicintainya. Kasih sayangnya yang sedemikian tinggi kepada si anak rupanya memberi kekuatan yang luar biasa kepadanya untuk mampu bertahan, tidak berputus asa, meneruskan hidup mereka yang amat apa itu. Setelah si anak meningkat dewasa tergeraklah hatinya hendak pergi merantau, mengadu untung di negeri orang dengan harapan untuk dapat merubah nasib mereka yang malang. Si ibu, walaupun tak tega rasanya hati, cukup arif untuk tidak mematahkan cita-cita tinggi sang anak. Demikianlah, dengan kesedihan dilepas pergi lah anak yang hanya semata wayang.


* Berasal dari revisi kertas prasaran pada Seminar Peranan Pemimpin-pemimpin Agama dalam Pembangunan Nasional, Banda Aceh, 28 Oktober-1 November 1974. Diselenggarakan oleh Yayasan Tenaga Kerja Indonesia, Departemen Agama Republik Indonesia, Pemerintah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, dan Friedrich Ebert Stiftung.

1 Pembicaraan tentang hikayat antara lain dapat dilihat dalam tulisan Adnan Hanafiah, “Peranan Sastra Aceh dalam Sastra Indonesia”, yang disampaikan sebagai kertas prasaran dalam *Seminar Kebudayaan dalam rangka Pekan Kebudayaan Atjeh ke-II dan Dies Natalis ke-XI Universitas Sjiah Kuala yang diselenggarakan di Banda Aceh pada tanggal 21-25 Agustus 1972. Sebagian dari bahan yang dipakai dalam tulisan ini berasal dari Saudara U.U. Hamidy yang sekarang meneliti masalah ini dan sedang menyiapkan hasil penelitiannya itu ke dalam sebuah tulisan berjudul “Peranan Cerita Rakyat dalam Masyarakat Aceh” yang direncanakan akan diterbitkan oleh Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, Aceh. Lihat pula U.U. Hamidy, “Anzib Lamnyong: Gudang Karya Sastra Aceh”, (Darussalam: Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, Aceh, 1974).

2 Kadang-kadang juga disebut atau dikenal sebagai Hikayat Rang Manyang.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan