Menarik sekali prakata pengarang tentang kepercayaannya bahwa akademi adalah masyarakat dari manusia-manusia dengan ide-ide dan bukan industri dari orang-orang beride. Tak ayal lagi buku ini menyumbang kepercayaan pengarang yang boleh jadi sekarang merupakan kepercayaan ”minoritas” terhadap akademi atau universitas di Indonesia.
Tiga bab pertama buku ini pada umumnya merupakan deskripsi dengan judul: Institusi, Individu-individu dan sampel-sampel, sedang 2 bab terakhir merupakan penjelajahan pengarang yang berjudul: Pengalaman-pengalaman dan orientasi-orientasi. Buku ini dilengkapi juga dengan kesimpulan dan catatan akhir yang cukup berharga. Kritik hanya menyorot 2 masalah yaitu soal sampel dan konsep elite politik Indonesia. Kedua masalah ini secara pasti mempunyai pengaruh besar pada nilai buku ini baik sebagai karangan ilmiah maupun sebagai bahan bacaan yang diperlukan bagi orang-orang Indonesia.
Soal sampel
Untuk membahas data-data kwantitatif yang disuguhkan pengarang, sama sekali tidak diperoleh kesukaran karena sederhananya teknik (angka dan grafik) yang disuguhkan kepada pembaca.
Segera akan menjadi soal adalah ketepatan sampel yang diambil pengarang.
Terdapat cukup alasan untuk mempertanyakan apakah memadai dan representatif ke 40 orang elite yang dipilih pengarang untuk mewakili elite politik Indonesia? Hal yang memang diakui sendiri oleh pengarang sebagai keterbatasannya.
Beberapa hal bisa ditambahkan untuk bersikap reserved terdapat sampel dan sumber sampel (universe) pengarang:
- Apakah cukup tepat untuk semata-mata membagi elite Indonesia dalam elite birokrasi dan elite parlemen? Mengingat judul buku terasa kurang tepat dan judul artikel Prisma: “Elite dalam Birokrasi dan Parlemen” terang lebih tepat.
- Pemilihan sampel 20 orang anggota parlemen yang dilakukan pada tahun-tahun 1968-1969 menunjukkan subyektivitas pengarang. Ini diakui sendiri oleh pengarang yang menyatakan kerag-raguannya akan arti jumlah anggota parlemen dari masing-masing kelompok yang tidak bisa dianggap mewakili kekuatan sesungguhnya dari masing-masing kelompok dalam perbandingannya satu sama lain. Kalau pengarang mengambil sampelnya pada tahun sesudah Pemilihan Umum 1971 di mana terjadi perubahan besar dalam jumlah kelompok kelompok tadi, bukan mustahil pengarang tetap mengambil sampel dalam perbandingan antar kelompok yang sama dengan sampel pada tahun 1969.
Pengarang sendiri menyatakan: “Seperti kelompok karya sipil yang meliputi orang-orang non-partai yang profesionil seperti pengacara, mahasiswa, intelektual dan sebagainya sesungguhnya mempunyai pengaruh yang lebih kecil dari jumlah anggotanya (hal. 122). Pemilihan Umum 1971 menunjukkan meningkatnya jumlah kelompok yang disebut pengarang di atas.
- Pengambilan 20 orang elite dari birokrasi dilakukan dari daftar 651 pejabat yang dibuat oleh Sekretariat Kabinet Ampera, tertanggal 1 Desember 1967. Diambilnya 5 orang anggota ABRI dan 15 orang sipil menurut pengarang mendekati perbandingan sesungguhnya dari sumber sampel (universe) masing-masing: 25%:75% dan 23%:77%. Perbandingan antara sampel dan universe ini berkali-kali dinyatakan pengarang untuk menunjukkan tingkat ketepatan yang dibuatnya.
* Yang ditinjau adalah juga buku: Indonesia’s Elite: Political Culture and Cultural Politics, karangan Donald K. Emmerson.