Prisma

Perkembangan Demokrasi Kita

Setelah Perang Dunia II berakhir dunia umumnya tertarik pada demokrasi. Perang Dunia II seakan memang merupakan pertarungan antara demokrasi dan fasisme, dengan kemenangan pada fihak pertama; sungguhpun segera perlu dicatat bahwa juga Rusia komunis turut menang. Dan komunisme tidaklah mengenal demokrasi. Tetapi juga Rusia komunis, dan kemudian Cina komunis merasa tertarik pada demokrasi. Maka negeri-negeri Eropa Timur—yang komunis—dan kemudian Tiongkok setelah dikuasai oleh fihak komunis, mempergunakan kata-kata kerakyatan dalam rangka kata republik rakyat (republik kerakyatan) serta demokrasi rakyat. Baik istilah maupun isi dicoba dihubungkan dengan demokrasi. Jerman, Itali dan Jepang yang dikuasai negeri-negeri Barat dengan sendirinya berusaha untuk menumbuhkan demokrasi ala Barat di negeri masing-masing.

Bekas negeri-negeri jajahan yang memperoleh kemerdekaan sesudah Perang Dunia II, seperti banyak negeri di Asia Selatan (India, Pakistan) dan Asia Tenggara (Filipina, Indonesia, dan kemudian Malaysia), berusaha untuk menegakkan demokrasi. Ada yang berhasil, ada yang kurang berhasil, malah ada yang tidak berhasil sama sekali. Tetapi sungguhpun kurang atau tidak berhasil, namun pemimpin-pemimpin negeri bersangkutan tidaklah begitu saja mengenyampingkan demokrasi. Ada yang mendasarkan tindakannya yang berlawanan dengan tuntutan demokrasi itu pada kepentingan negara (apapun artinya ini) seperti yang dikemukakan oleh India kini, ada yang dengan keputusan dari atas menumbuhkan demokrasi dasar (demokrasi dasar)—seperti Pakistan beberapa tahun yang silam, ada yang sekedar mengenyampingkan hak-hak manusia karena tuntutan keadaan darurat—seperti Filipina sekarang. Malah Malaysiapun, yang relatif tenang dalam menerima kemerdekaannya dan dalam mengembangkan sistem pemerintahannya dibandingkan dengan bekas negeri-negeri jajahan yang lain di kawasan dunia ini, menyusun lagi sistem demokrasi yang ditegakkannya setelah beberapa lama parlemen tidak bersidang. Suara-suara keraspun berkumandang di negeri Melayu itu, bahwa demokrasi Barat tidak sesuai dengan negerinya.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan