Sebetulnya saya tidak tahu apa arti massa. Maksud saya, sebagaimana banyak orang, saya bisa merasa bahwa saya tahu artinya, tapi begitu perasaan itu hendak dituangkan ke dalam batasan, lalu macet.
Apa itu massa? Apa bedanya dengan gerombolan? Dengan rakyat? Dengan khalayak, masyarakat, murba dan sebagainya? Namun selama ini kita mudah saja menyebut massa rakyat, massa petani, massa pelajar, massa buruh. Tanggal 19 April 1977 di TVRI, Prof. Doddy Tisna Amidjaja menyebut “kesenian secara massal, seperti paduan suara, karawitan dan lain-lain.” Apakah ini berarti bahwa rombongan paduan suara atau karawitan itu massa? Apakah massa itu rombongan? Golongan? Gerakan? Partai? Paguyuban? Lapisan masyarakat? Kelas? Pernah ada istilah resmi yang bunyinya “ormas”, singkatan dari “organisasi massa”, dan ketika itu nampaknya segala organisasi yang mengaku punya anggota banyak disebut “ormas”.
Revolusi massa Ortega Y. Gasset ternyata juga tidak dilancarkan oleh apa yang kerap disebut massa revolusioner. Satu terjemahan buku Ortega itu berbunyi De Opstand der Horden. tidak, jadi massa itu juga horde, atau herd. Tadinya saya sangka itu dipakai untuk dunia hewan saja. Jadi kalau horde itu dipakai untuk menggambarkan massa manusia, maka tentunya ada anggapan bahwa manusia itu bisa menghewan juga. Memang kita sering baca bahwa manusia itu punya herd instinct, misalnya. Istilah “massa” ini kerapkali memang sarat dengan renjana, prasangka, dan terutama buruksangka. Belum apa-apa sudah langsung diberi angka merah. Atau angka hitam. Soalnya, siapa yang memberi angka.
Ditilik secara permana saja, berapa besar massa itu? Ruaknya bagaimana? Bisakah sedunia? Asia Se? Indonesia Se? Sebagian besar penduduk Indonesia? Kalau ruaknya sekota atau sekampung saja, masih bisakah disebut “massa”? Dapatkah rakyat penonton di sekitar lapangan sepak bola itu disebut massa? Bagaimana kalau sebanyak demonstran yang turun ke jalanan? Ya, segala-galanya rupanya bisa, asal saja maksudnya “banyak sekali orang”.
Tapi nanti dulu. Kalau di depan “massa” itu dipasang kata “kebudayaan”, kita mulai bimbang lagi. Apakah ulah yang terbatas pada segerombolan manusia itu bisa tergolong kebudayaan massa? Kalau tidak bisa, lantas biasanya bagaimana? Apakah baru kalau ulah itu nampak umum di Bandung? Atau di Jawa Barat? Atau mestikah dia meng-Indonesia dulu supaya bisa disebut kebudayaan massa?
Sudah begitu kita masih juga menghadapi kaum Tidak semua begitu, artinya yang gemar membantah dengan alasan “tidak semua begitu”. Jadi kalau ada yang berkata bahwa bangsa Indonesia itu malas, maka pembantah ini berkata: “Tidak benar. Buktinya, pacar saya rajin, dan tukang kebun saya juga rajin.” Bagi mereka tentunya tidak ada yang disebut “kebudayaan massa”, sebab “paman saya dan tante saya terbukti tidak ikut kebudayaan massa”.
