
S.V. Sethuraman, Jakarta; Pembangunan perkotaan dan ketenagakerjaan, Jenewa: Kantor Tenaga Kerja Internasional, 1976, viii 154 halaman.
Kali ini disajikan buku yang mengulas masalah pokok kota Jakarta dari kacamata orang asing. Urbanisasi yang merupakan momok bagi Ibukota dibahas oleh seorang ahli dari Organisasi Buruh Internasional (ILO). Bahwa akibat serta hal-hal yang mempengaruhi urbanisasi di Jakarta tampaknya berbeda dengan faktor-faktor umum yang biasanya mempengaruhi gejala ini, dikemukakan dengan hati-hati oleh penulisnya, S.V. Sethuraman.
Urbanisasi di Jakarta semata-mata bukan disebabkan karena daya tarik industrialisasi, melainkan karena berkembangnya sektor lain, yang menurut penulisnya diistilahkan dengan informal sector, yaitu sektor jasa-jasa. Sebagai ilustrasi, dikemukakan bahwa tingkat pertumbuhan tenaga kerja hanyalah sekitar 2,6% per tahun dalam periode 1961-1971. Tetapi kalau kita mengeluarkan peranan sektor pertanian dan sektor industri dari angka ini, maka didapat tingkat pertumbuhan yang lebih baik yaitu 3,6% per tahun (hal. 12-13). Sebab utamanya adalah karena kedua sektor ini mengalami penurunan dalam tenaga kerja baik secara absolut maupun secara relatif. Menurut Hidayat1 penurunan di sektor pertanian dan industri ini memang merupakan gejala yang umum di Indonesia dalam periode 1961-1966. Di samping itu pertumbuhan tenaga kerja yang pesat di sektor jasa-jasa terutama disebabkan karena sektor ini hanya memerlukan permodalan yang relatif kecil dan sanggup menyerap banyak tenaga kerja.2
1 Hidayat, “Dimensi dan Sifat Masalah Pengangguran di Indonesia” dalam Ekonomi dan Keuangan Indonesia Vol XXIV, No 3, September 1976, hal. 267.
2 Untuk pembahasan lebih lanjut, lihat a.l.: Prijono Tjiptoherijanto, Contribution of Petroleum to Indonesian Economy: A case study of Oil Industry, unpublished M.A. Thesis, University