Jika Sjahrir bisa “bicara” apakah yang akan dikatakannya tentang dirinya? Ditahan sebagai pengkhianat negara selama kurang lebih tiga tahun, dibebaskan, diberi kesempatan berobat ke Swiss, dan di hari meninggalnya (9 April 1966) langsung diakui sebagai “Pahlawan Nasional”… Apakah yang akan dikatakannya?
Begitulah antara lain ajakan berfikir Taufik Abdullah dalam tulisannya yang bagus “Pahlawan dalam Perspektif Sejarah” (Prisma no. 7, 1976) agar pengenangan dan penghargaan jasa para pahlawan kita lebih wajar dan benar. Dan tidak hanya “dikenang tetapi tidak relevan.” Adalah normal masyarakat membutuhkan hadirnya pahlawan, karena menjadi kebutuhan manusia untuk mengidentifikasikasi diri dengan suatu norma, ikatan simbol. Dan simbol mana yang lebih hidup dari seorang pribadi kuat, yang bisa dijadikan cermin cita-cita sekaligus pandu perjuangan hidup kita masing-masing, selaku perorangan, kelompok maupun nation? Tetapi, demikianlah ahli sejarah kita: “Pengakuan resmi dan pengakuan sejarah masih tetap merupakan dua hal yang berbeda.” Pengakuan dan pengangkatan resmi seseorang sebagai pahlawan oleh suatu pemerintah selalu bersifat politis. Lebih penting ialah pengakuan historis, yaitu “pengakuan yang bersumber dari pengujian atas kemampuan dan kesadaran memilih alternatif dan (yang) memberikan kepuasan kulturil dari ketepatan pilihannya.” Bisa jadi pengakuan politis berhimpit dengan pengakuan kulturil. Akan tetapi tidak selalu begitu. Sebab, sering terjadi pencalonan seorang tokoh oleh golongannya “seperti dalam dunia dagang… disodorkan sebagai landasan legitimasi politik.”
Persoalan dapat lebih menyentuh batin dan plastisitas permasalahan bisa lebih jelas, bila kita menghadapi pertanyaan semacam ini. Lalu bagaimana dengan tokoh yang memberikan gelar Pahlawan Nasional itu kepada Sjahrir? Tokoh, yang oleh seorang tokoh politik lain dan bahkan seorang sejarawan–sebelum meneliti baik–pernah dipertanyakan, apakah dia “pahlawan” atau “pengkhianat”, ialah presiden pertama republik kita, Sukarno? Apakah gerangan yang akan dikatakan Sjahrir, andai ia masih hidup? Taufik menduga: “Sjahrir mungkin hanya akan senyum sinis dan sambil geleng-geleng kepala akan berkata: “Bangsaku!””
Dengan bekal peringatan Taufik Abdullah di atas, marilah kita mengenang Soetan Sjahrir. Tidak terutama pada kedudukannya sebagai pahlawan nasional resmi di antara sekian “penghuni Kalibata.” 1 Lebih bergunalah, terutama untuk generasi yang sedang tumbuh, untuk melihat relevansi negarawan dan manusia Sjahrir yang pernah menjadi nakhoda-pertama Republik kita yang baru saja bertolak dan langsung tertempuh badai dan taufan, dalam sikapnya terhadap kebudayaan pembentukan nation.
1 Taufik Abdullah: Suatu seminar mengusulkan pengakuan sebagai “Pahlawan nasional” atas 478 orang dan “lain-lain yang sedang dikumpulkan data-datanya” dari suatu daerah. (Prisma 7, 1976, hal. 65).

