Prisma

Tan Malaka: Pejuang Revolusioner yang Kesepian

I

Suasana politik, di situ termasuk sikap yang diambil serta tingkah laku yang diperlihatkan oleh mereka yang berkuasa, sering memberi kerumitan yang luar biasa dalam mendudukkan seorang tokoh (apalagi kalau dia kontroversil) secara wajar, obyektif dan jujur. Kecenderungan dari sebagian penting anggota masyarakat untuk berperangai ekstrim, menyanjung tokoh yang disenangi secara berlebihan sampai kadang-kadang seolah-olah mendewakan, dan sebaliknya memperlakukan secara buruk atau dengki sekali tokoh yang dimusuhi, tambah mempersulit lagi usaha buat mencari apalagi menegakkan sesuatu secara obyektif benar. Tan Malaka (lengkapnya Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka) yang menurut salah satu sumber, lahir 2 Juni 1896 di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, dan meninggal (lebih tepat mati terbunuh) secara tragis pada 19 Februari 1949 di dekat Kediri, Jawa Timur, adalah salah seorang tokoh yang rumit itu.1 Bertambah rumit lagi karena tokoh ini tak banyak yang mengenalnya dari dekat atau bertemu muka secara fisik. Dulu, sebagian orang mungkin banyak mendengar tentang dia dari mulut ke mulut dalam berbagai versi, atau membaca riwayat hidupnya yang dramatis–Dari Penjara Ke Penjara–serta karya-karya tulisnya yang lain. Itu semua rupanya cenderung untuk menjadikannya seorang tokoh legendaris, manusia yang penuh misteri, yang rakyat banyak tak pernah melihat rupa dan batang tubuhnya secara riil. Tidaklah mengherankan kalau sewaktu dia muncul di rumah Ahmad Subardjo, di Jakarta, pada permulaan revolusi (25 Agustus 1945) menyebabkan si tuan rumah amat terperanjat karena dia mengira bahwa tamu dan teman yang pernah dikenalnya di Negeri Belanda di permulaan tahun 1920-an ini sudah lama mati. Sewaktu Ahmad Subardjo membawa dan memperkenalkannya dengan elite politik Jakarta, seperti Sukarno, Hatta dan Syahrir, pada hari-hari berikutnya, tokoh ini, walaupun sudah lama mereka dengar, barangkali baru pada waktu itulah mereka bertemu buat pertama kali. Bagi merekapun Tan Malaka tampaknya lebih banyak merupakan seorang tokoh legendaris, dan karena baru kenal juga masih merupakan orang asing. Suasana seperti itu tentu memiliki pengaruh dalam pergaulan dan hubungan politik mereka kemudian. Sebagai orang yang belum begitu kenal, sulit bagi mereka untuk menerka siapa sebenarnya Tan Malaka ini dalam arti peta bumi politik di permulaan revolusi itu.2 Sebaliknya, Tan Malaka yang lebih mengenal tokoh-tokoh yang lebih tua seperti Semaun dan Tjokroaminoto, tentu menemui kerumitan pula dalam memahami tokoh-tokoh yang lebih muda ini, walaupun perbedaan umurnya dengan mereka tidaklah seberapa. Suasana revolusi yang tegang, kacau, serta komunikasi yang sulit menambah sukar mereka untuk bisa lebih mengenal masing-masing secara lebih dekat dan intim. Demikianlah, pada saat kemunculannya kembali secara terbuka dalam dunia politik Indonesia, Tan Malaka menemukan dirinya sebagai seorang tokoh yang mengundang banyak tanda tanya bagi mereka yang memegang kekuasaan pada waktu itu. Apalagi kalau dia sampai dianggap pula sebagai seorang saingan berat bagi mereka yang berambisi dan ingin memonopolie kekuasaan dan ketenaran. Walaupun bagaimana, usaha buat memahami grafik perjuangan si revolusioner tua yang kesepian ini, terutama pada masa pemunculannya yang terakhir, barangkali dapat dimulai dengan gambaran suasana tadi.


1 Lihat Djamaluddin Tamin, Kematian Tan Malaka, tanpa penerbit, 1965.

2 Lihat Benediktus R. O’G. Anderson, Jawa di Masa Revolusi, Ithaca, Cornell University Press, 1972, bab 12.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan