Prisma

Kahar Muzakkar Profil Patriot Pemberontak

Tanggal 3 Februari 1965, jam 5.30, dalam satu sergapan yang cermat oleh Ton I Kie D Jon 330 Para Siliwangi di bawah pimpinan Peltu Umar Sumarna, telah mengakhiri hayat gembong DI/TII Abdul Kahar Muzakkar yang bertualang selama kurang lebih 15 tahun di hutan belantara Sulawesi Selatan dan Tenggara.

Pendahuluan

Pada suatu pagi di hari Raya Idul-Adha, tanggal 3 Februari 1965. Dari mulut ke mulut, secara berangsur-angsur, berita tentang tertembak tewasnya Abdul Kahar Muzakkar, Pemimpin Pemberontak DI/TII Sulawesi, di salah satu tempat terpencil dalam hutan-belukar Sulawesi-Tenggara, menjadi pokok pembicaraan yang menarik dalam kalangan masyarakat Sulawesi-Selatan-Tenggara. Peristiwa itu malah menjadi berita nasional yang menarik perhatian mulai dari pimpinan puncak negara sampai ke rakyat kecil di desa-desa terpencil di Sulawesi. Betapa berita itu tidak menarik. Kahar Muzakkar dalam kalangan rakyat Sulawesi Selatan dan Tenggara telah dianggap sebagai seorang pemimpin gerombolan pengacau DI/TII yang amat misterius. Seorang yang memiliki tipu muslihat dan siasat bertualang yang amat tinggi. Seorang pemimpin yang cepat dapat memikat hati orang lain dan dipengaruhinya. Seorang komandan pertempuran yang terpercaya kejituan siasat perangnya. Sulawesi Selatan berubah menjadi neraka. Kotanya terpisah-pisah oleh daerah-daerah pedalaman yang terputus-putus yang dikuasai oleh gerombolan pada hampir semua batasnya. Rakyat terombang-ambing oleh kekuatan-kekuatan senjata yang dipanggul baik oleh pasukan-pasukan resmi maupun oleh pasukan-pasukan tidak resmi. Senjata-senjata itu setiap saat bisa meletus. Dan sasarannya adalah mereka yang disebut rakyat yang putus asa mencari perlindungan dan ketiadaan kepastian perlindungan. Keadaan yang tidak menentu itu telah berlangsung sejak awal tahun 1950 sampai dengan awal tahun 1965. Pada tahun-tahun itu Republik Indonesia yang merdeka, berada pada tahap-tahap permulaan membenahi diri untuk memberikan kepada rakyatnya arti kemerdekaan serta harkat bangsa yang memiliki kedaulatan. Tetapi Sulawesi, yang menjadi salah satu propinsi, terutama yang meliputi daerah-daerah Selatan dan Tenggara, hanya dapat menikmati kemerdekaan itu dalam kekacauan dan ketidakpastian, teror dan perkosaan. Kedaulatan dalam arti kebuasan mereka yang kuat atas yang lemah, penaklukan hati nurani oleh kekuatan yang memperkosa.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan