Prisma

Rahmah El Yunusiyyah: Kartini Perguruan Islam

Pendahuluan

Bagi bangsa Indonesia, nama Rahmah El Yunusiyyah bukanlah nama yang asing, terutama di kalangan kaum wanita, politisi serta kaum pendidik. Bangsanya mungkin sekali patut memberinya gelar kehormatan sebagai pejuang dalam bidang pendidikan dan pejuang bangsa dan tanahairnya. Namanya dikenal sampai ke luar negeri. Tapi setelah ia meninggal dunia, nama dan perjuangannya seperti terlupakan dan belum diungkapkan.

Rahmah El Yunusiyyah adalah pendiri Perguruan Diniyah Puteri Padangpanjang, sebuah perguruan wanita pertama di bumi Indonesia yang menjadi rangkaian dari sejarah pendidikan nasional.1 Perguruan ini sekarang telah mencapai usia lebih dari 54 tahun dan telah menamatkan lebih dari 2.000 orang pelajar puteri (termasuk beberapa sarjana muda wanita dalam bidang agama) yang tersebar di seluruh Nusantara dan Semenanjung Melayu (Malaysia), Singapura dan kepulauan Anambas. Perguruan ini sekarang sedang memekarkan diri dengan membangun sarana fisik, kampus yang dapat menampung 2.000 pelajar puteri dan mahasiswa, lengkap dengan asramanya.

Rahmah El Yunusiyyah dilahirkan di Padangpanjang tanggal 1 Rajab 1318 atau tanggal 29 Desember 1900. Dalam catatan silsilah keturunannya ia masih mempunyai pertalian darah dengan seorang ulama besar di Minangkabau, Tuanku Nan Pulang di Rao, seorang alim yang hidup pada zaman Paderi dan dia adalah seorang pembaharuan Islam di Minangkabau. Ibunya bernama Rafi’ah dan ayahnya Syekh Muhammad Yunus adalah seorang ulama Islam yang menangku jabatan “qadi” di negeri Pandai Sikat, Padangpanjang. Kakeknya Imanuddin, seorang ahli ilmu falak dan pemimpin thariqat naqsyabandiah di Minangkabau yang telah berjasa memberantas khurafat dan tempat-tempat keramat. Dari lima orang bersaudara, Rahmahlah yang bungsu. Salah seorang kakaknya adalah Syekh Zainuddin Labay El Yunus (1890-1924), seorang ulama muda Islam yang berjasa mengubah cara dan sistem pendidikan sekolah-sekolah agama di Sumatera Barat dengan memasukkan sistem pendidikan modern seperti yang kita kenal sekarang ke dalam sekolah yang didirikannya pada tahun 1915, yaitu “Diniyah School” untuk putera dan puteri (ko-edukasi). Zainuddin Labay banyak memberikan dorongan kepada citacita Rahmah El Yunusiyyah dan juga merupakan tulang punggung utama. Rahmah sendiri adalah pengagum kakaknya. Baginya Zainuddin Labay adalah guru dan juga pemberi inspirasi.

Ia tidak banyak mendapat didikan dari ayahnya. Ayahnya meninggalkannya untuk selama-lamanya selagi Rahmah masih kakak-anak, sehingga ia dibesarkan dan diasuh oleh ibu dan kakak-kakaknya yang telah berumahantangga. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang berpegang teguh kepada ajaran agama dan adat. Lingkungan inilah yang mempengaruhi pribadinya.


1 Cora Vreede-De Stuers, The Indonesia Women: The Struggles and Achievements, Mouton & Co’s Gravenhage, 1960, halaman 73. Lihat juga Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Pustaka Mahmudiyah, Jakarta, 1960, halaman 60.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan