Virginia Woolf benar. Biografi dari zaman Victoria, katanya sangat diselimuti oleh ide tentang kebaikan. Tokoh-tokoh yang muncul selalu melampaui “ukuran hidup” yang sesungguhnya. Demikian berkuasanya ide kebaikan dan kebajikan dalam biografi-biografi periode keemasan Inggeris itu—mengkonon ketika itu Britania rules the waves—sehingga seorang intelektuell Inggeris lain pernah menghela nafas: “Saya mulai merasa ragu apakah kebajikan itu betul-betul ada.” Dan betapa terkejutnya orang, ketika tiba-tiba seorang penulis biografi seenaknya saja menulis buku, yang nyaman dibaca, tetapi kelewatan nakalnya, Eminent Victorians. Lytton Strachey, si penulis biografi itu, mengungkapkan aspek lain dari kehidupan para “dewa” dari zaman pemerintahan Ratu Victoria itu. Florence Nightingale, yang biasanya dilukiskan sebagai bidadari di medan perang Krimea, yang dengan lilin di tangan mengelilingi para serdadu yang luka dan menderita, di tangan Strachey, ia, sang bidadari, juga muncul sebagai seorang wanita yang cerewet dan suka campur urusan orang lain. Bagaimana pula Jenderal Gordon yang pernah memimpin “tentara pantang kalah” dalam ekspansi Barat di Tiongkok dan kemudian terkenal dengan kehebatan dan pengorbanannya dalam menghadapi Imam Mahdi di Sudan? Ia memang hebat. Tetapi di samping sibuk dengan Injil, ia juga selalu terbuali oleh alkohol. Cardinal Manning, yang bersifat kenabian itu ternyata juga seorang flamboyant, seorang pelagak. Dan Ratu Victoria yang demikian bahagia dengan Pangeran Albert, rupanya juga naksir pada orang lain.
Zaman Victoria memang penuh paradoks. Gladstone perdana menteri yang alim itu dan yang sibuk bicara soal agama, tidak merasa aneh untuk operasi dengan gaya Sultan Harun Alrasyid (atas “Sidik”? terserah), ke tempat-tempat pelacuran. Bukan untuk apa-apa, tetapi untuk berbicara dari hati ke hati dengan kupu-kupu malam itu. Jika menunjukkan tanda-tanda yang baik ia akan mengundangnya ke rumah; minum teh dengan Mrs. Gladstone. Bukan itu saja, tamu tetap dari salonnya tak lain daripada gula-gula, atau mistress, bahasa kromonya, dari Prince of Wales, putera mahkota. Sementara kata-kata tentang kebajikan Inggeris selalu menggema dan segala tata cara yang serba baik serta aristokratis selalu diulang dan diajarkan—tidak, malahan lebih dari itu, dipaksakan kepada anak-anak—maka buku My Secret Life menunjukkan warna yang lain. Mungkin pengarang yang merahasiakan namanya ini berlebih-lebihan dalam menceritakan advontur sexnya, tetapi suasana sosial-ekonomis memang memungkinkan itu semua. Jurang yang membatasi moralitas yang dipaksakan dengan kenyataan sosial yang demikian keras, ternyata juga dalam Charles Dickens, yang dalam novel-novelnya seakan-akan merupakan pantulan hati nurani masyarakat Inggeris yang sedang mengalami ketidak-adilan yang hebat, ketika proses industrialisasi sedang pada tahap menaik, harus hati-hati merahasiakan bahwa ia mempunyai “mistress” dan keluarganya menyembunyikan hal ini selama tiga generasi. Jika saja kita hanya berkenalan dengan sejarah, yang mencoba mengadakan rekonstruksi peristiwa kelampauan pada tingkat abstraksi yang lebih umum—masyarakat—kita mungkin hanya mendapatkan gambaran umum tentang dinamika masyarakat saja. Tetapi harapan, impian, kegetiran dan kegelisahan dari individu-individu yang berada di dalamnya, akan terlepas dari pandangan kita. Biografi menampilkan aspek-aspek manusiawi ini. Seandainya biografi tetap dalam gaya Victorian, maka kita hanya akan bertemu dengan para “dewa”, bukannya manusia, sebagai dirinya, tetapi sebagai personifikasi dari nilai-nilai. Ia telah tenggelam dalam segala pretensi sosial. Dengan segala kenakalannya Strachey mengingatkan apa yang pernah dikatakan Dr. Johnson, yang biografinya (ditulis Boswell) dianggap sebagai model, bahwa nilai suatu cerita tergantung dari kebenarannya. Ia adalah gambaran dari individu atau manusia umumnya; “jika palsu, ia bukan gambaran dari apapun.”