Prisma

Percaturan Predominasi Politik di Kawasan Pasifik*

Sukarlah untuk mencoba mengatakan bahwa kawasan Pasifik merupakan suatu kesatuan. Sebaliknya, kawasan ini justru ditandai oleh keanekaragaman. Di tengah terdapat lautan, yang ditaburi dengan pulau-pulau kecil–beberapa telah menjadi negara merdeka tetapi lainnya dalam beberapa hal masih terikat dengan kekuasaan-kekuasaan di luar. Di sebelah utara adalah Jepang, suatu raksasa ekonomi dengan kemampuan militer yang sengaja dibatasi tetapi memiliki pengaruh ekonomi yang besar di banyak bagian kawasan tersebut. Cina–dengan jumlah penduduk yang besar–bertambah kuat baik secara militer dan ekonomi; dan Korea, di mana berbagai kepentingan negara-negara besar bertemu tetapi tidak bertubrukan (coincide). Di sudut barat laut terdapat Uni Soviet. Di sebelah selatan adalah Australia dan Selandia Baru, dua negara yang berpenduduk sedikit, dengan masyarakat makmur yang pada dasarnya berasal dari Eropa. Di sebelah barat adalah daerah Asia Tenggara yang berpenduduk padat dan mempunyai banyak suku bangsa. Di sebelah timur adalah Amerika Serikat dan Kanada–kaya dan berkuasa dengan ikatan ekonomi yang penting dan sangat genting dengan Jepang. Dan di sebelah tenggara terletak Amerika Latin.

Dengan adanya keanekaragaman ini, dalam akhir tulisan ini saya menyarankan untuk meneliti kawasan Pasifik lebih dari yang diistilahkan dalam bagian-bagian tersebut, di mana telah terjadi atau mungkin terjadi masalah predominan–di daerah Pasifik Barat Laut, Asia Tenggara–dan masih bersifat coba-coba–di daerah Pasifik Tengah dan Selatan. Tetapi pertama-kali diperlukan suatu penelitian yang lebih umum.

Definisi dominan

Apakah yang dimaksud dengan predominan–dalam konteks hubungan internasional?

Dalam beberapa hal istilah ini bisa berarti pengaruh tunggal (exclusive) terhadap suatu negara. Untuk mengambil contoh yang jelas, pengaruh Amerika Serikat di Mikronesia bolehlah dikatakan sesungguhnya bersifat tunggal (exclusive). Tetapi dalam praktek pengaruh tunggal itu sangatlah jarang; kepentingan internasional yang sah mendorong negara-negara untuk mendapatkan suatu tingkat pengaruh betapapun terbatas, pada negara-negara lain.

Dalam membicarakan pengaruh tunggal, secara kebetulan saya telah berfikir bahwa lebih baik menghindarkan diri dari penggunaan istilah “hegemoni”. Itu suatu ungkapan yang mengandung arti emosionil dan, terutama digunakan Cina untuk Uni Soviet, mengandung pengertian sebagai keunggulan yang dikejar atau dicapai secara salah atau pengaruh tunggal suatu negara di luar perbatasannya yang diakui dunia internasional. Saya percaya dengan menggunakan definisi ini, tidaklah dapat dibantah bahwa tidak ada satupun negara yang menguasai hegemoni di bagian manapun dari Pasifik tersebut. Memang, demikian juga tidak ada suatu negara yang memegang hegemoni di seluruh kawasan tersebut atau di tiga daerah khusus seperti disebutkan di atas.


* Artikel ini merupakan terjemahan dari “The politics of predominance in the Pacific region” yang pernah dimuat dalam Prisma Edisi Bahasa Inggris No. 5/1977.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan