Prisma

Cina Dengan Dunia, Asia dan Indonesia

Pandangan dunia Cina

Dua peristiwa telah menjadi tonggak sejarah penting dalam diplomasi RRC sejak negara itu berdiri pada tahun 1949. Yang pertama terjadi pada tahun 1964, ketika pertentangan ideologi Peking-Moskow mencapai tingkat yang tak mungkin didamaikan lagi. Dalam bulan Juni tahun itu Uni Soviet bersama dengan Amerika Serikat menandatangani perjanjian pelarangan percobaan senjata nuklir di atmosfir. Setelah persetujuan itu disahkan, Peking menuduh bahwa hal itu tak lebih dari suatu “komplotan” kedua negara besar tersebut untuk memonopoli senjata yang berbahaya itu. Persetujuan itupun, menurut Peking, takkan dapat membatasi semakin banyaknya senjata pemusnah tersebut. Khusus bagi Uni Soviet dikatakan bahwa dengan melakukan tindakan itu, berarti Uni Soviet tak mau lagi membantu Cina dalam mengembangkan senjata nuklirnyanya.1 Sejak saat itu Cina berpendapat, adalah lebih bijaksana baginya apabila ia melepaskan diri dari orbit Uni Soviet, baik dalam menumbuhkan kekuatan nuklirnya, maupun dalam menjalankan politik dalam serta luar negerinya.

Yang kedua terjadi di tahun 1972, ketika pendekatan Washington-Peking mencapai puncaknya berupa kunjungan Presiden Nixon ke RRC yang terkenal itu. Mulai saat itu hubungan Amerika-Cina makin subur, sedangkan hubungan Cina-Soviet makin memburuk.

Sejalan dengan perkembangan konstelasi dunia menurut pandangan para pemimpinnya, berkembang pulalah persepsi yang dianut RRC dalam melihat dunia pada masing-masing tonggak sejarah. Tahun 1946, ketika Perang Dunia II baru saja selesai dan kancah perang dingin akan segera mulai, Mao Tse-tung mengeluarkan teorinya mengenai “wilayah perantara.” Ia mengatakan bahwa dalam kenyataannya “imperialisme Amerika” telah menggantikan kedudukan Nazi Jerman. Amerika sedang berusaha menguasai dunia, termasuk Timur Jauh, dalam usahanya untuk menyerang Uni Soviet dan sistem sosialis. Akan tetapi, menurut Mao, sebelum Amerika dapat menyerang Soviet, terlebih dahulu ia harus menaklukkan suatu “wilayah luas, terdiri dari banyak negara kapitalis, jajahan dan setengah jajahan, yang membentang di Asia, Eropa, terus ke Afrika.” Apabila suatu peperangan baru ingin dicegah, rakyat-rakyat di “wilayah perantara” ini harus bekerjasama dengan rakyat-rakyat di blok sosialis untuk berjuang melawan “imperialisme Amerika.”2 “Wilayah perantara” ini merupakan suatu daerah strategis di mana perjuangan melawan imperialisme dilancarkan.


1 Morton H. Halperin, China and the Bomb, (New York: Frederick A. Praeger, 1967), hal. 63.

2 “Talk with the American Correspondent Anna Louise Strong,” Selected Works of Mao Tse-tung (New York: International Publishers, 1954), V. hal. 99-100.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan