Prisma

Era Bang Ali dan Pertumbuhan Kota Jakarta

Soetjipto Wirosardjono (ed.), Gita Jaya: Catatan Ali Sadikin, Gubernur Kepala Daerah Ibukota Jakarta 1966-1977, Pemerintah Daerah Khusus Ibukota, 1976, xvii + 380 halaman + Indeks.

Membaca Gita Jaya, sebuah buku masif setebal 380 halaman, yang bersub-titelkan: “Catatan H. Ali Sadikin, Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta 1966-1977”, membawa kita kepada kesan betapa rapi, teratur, dan sistematisnya kerja Pemerintah Daerah Jakarta, selama periode pemerintahan Bang Ali. Bahwa pemerintahan kota ini berlangsung pula secara kontinyu untuk sebelas tahun lamanya, secara mudah membawa kita pada kesimpulan: pantas saja wajah kota ini berubah hebat, dari sebuah kota sederhana yang ragu dan segan jadi “Ibukota”, menjadi sebuah kota “metropolitan”, yang dewasa ini seperti angkuh berdiri di samping kota-kota Indonesia lainnya, memamerkan statusnya sebagai pusat kegiatan nasional di bidang apa saja. Di muka perubahan yang dialami Jakarta selama era Bang Ali, keadaan kota-kota lainnya di Indonesia praktis tak begitu jauh berbeda dengan situasi tahun 1960-an, malahan situasi tahun 1950-an dan jauh sebelumnya pun. Kota Jakarta seperti mengalami “peledakan” dalam pertumbuhannya; dan hebatnya lagi, peledakan itu–dilihat dari uraian buku tersebut–seperti berhasil “dikendalikan” dengan rapinya dari satu pusat pengatur.

Bab demi bab dari catatan yang berskala besar ini diakhiri dengan daftar panjang dari berbagai surat resmi–Surat Keputusan Gubernur, Peraturan Daerah, dan macam-macam dokumen resmi lainnya yang mendasari kerja pemerintahan DKI Jakarta selama itu. Isi masing-masing bab itu sendiri penuh dengan uraian yang teknokratis sifatnya, yang mengungkapkan cara berfikir, metode pendefinisian masalah, serta perencanaan dan pelaksanaan penyelesaian masalah, lengkap dengan jadwal waktu dan organisasinya. Kesemuanya membawa kesan tentang sikap yang rasionil, tidak ragu-ragu, teknis, dan langsung kepada persoalannya. Pokoknya, sebuah gambaran sikap yang modern dari Pemerintah DKI Jakarta, yang mencerminkan keinginan dan tekad dari Bang Ali untuk mengibarkan “bendera pembaharuan dan modernisasi”, serta menegakkan “tradisi pembaharuan” (lihat halaman vii dan xiii buku ini). Diakuinya bahwa sikap ini tak jarang “melabrak sendi-sendi nilai, norma dan aturan yang berlaku di masyarakat” (halaman vii).

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan