Prisma

Makna dan Fungsi Kritik Sosial dalam Masyarakat dan Negara

Masalah dan makna kritik sosial

Suatu kritik sosial adalah penilaian ilmiah ataupun pengujian terhadap situasi masyarakat pada suatu saat. Dalam bidang politik, istilah kritik sosial memperoleh suatu konotasi, yaitu mencari kelemahan-kelemahan pihak lainnya dalam pertarungan politik. Arti implisit inilah yang lambat-luan mengaburkan makna sebenarnya dari suatu kritik sosial, yaitu bahwa penjabaran mengenai suatu masyarakat, anggota atau elitnya pada suatu saat, merupakan suatu analisa yang berbobot ilmiah dan disertai pertanggungjawaban ilmiah pula. Mengingat bahwa pembentukan kritik (terutama kritik sosial) didasarkan pada proses berfikir dan proses pengumpulan data, maka pertama-tama di sini akan dibahas beberapa masalah yang pernah difikirkan beberapa filsuf dan dicari pemecahannya. Justru pemikiran tentang proses berfikir ilmiah tersebut akan menjelaskan pula betapa dalam perkembangannya, orang kini mempunyai kecenderungan untuk kembali kepada pemikiran sebelum Kant, atau memperpadukan pemikiran-pemikiran dari zaman kuno dengan pemikiran (terutama dari Einstein. Yang dipermasalahkan adalah ketepatan dan kebenaran dari proses berfikir itu sendiri, yang merupakan landasan dari pembentukan suatu kritik. Dalam ilmu pengetahuan sosial dewasa ini ada kecenderungan untuk membuktikan sesuatu berdasarkan sebanyak mungkin data keras, data mana dimaksudkan untuk dipergunakan sebagai suatu pembuktian obyektif. Pendekatan ini menjelaskan bahwa dewasa ini di Indonesia ada kecenderungan untuk menganggap bahwa pembuktian haruslah melalui pengalaman dan bahwa penilaian terhadap suatu gejala atau kejadian hanyalah dapat dianggap obyektif dan berbobot, bila didasarkan pada pengalaman diri atau pengalaman orang lain. Dalam hubungan ini maka kecenderungan lebih lanjut adalah bahwa pengalaman tersebut haruslah merupakan “pengalaman yang umum dan sering terjadi” dan bukan merupakan suatu pengalaman yang terjadi sekali dua kali saja. Suatu “keteraturan”, pengulangan yang sering, dimaksudkan sebagai landasan pemikiran bahwa data yang diperoleh adalah data yang tepat dan relevan. Penelitian yang sering dilandasi sebagai landasan suatu kebijaksanaan antara lain bercanggak pada pemikiran tadi, yaitu mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang seberapa seringnya responden (= pengalaman orang lain) mengalami “hal yang sama” yang diteliti oleh peneliti. Jawaban-jawaban responden kemudian dituangkan dalam angka % untuk memperoleh suatu “takaran” yang lebih obyektif dibandingkan dengan hanya menghitung jumlah frekwensi jawaban yang sama, yang dapat berbeda-beda dengan kepada-tempat.

Berdasarkan beberapa penelitian yang memberi suatu kesimpulan yang sama, barulah peneliti berani menjabarkan pendapatnya berupa analisa dan kritik sosial. Penggunaan ilmu pengetahuan untuk menganalisa masyarakat bukan saja dimaksudkan sebagai landasan obyektif dan mencari titik tolak yang kuat, akan tetapi lebih lanjut mempunyai makna untuk meningkatkan pengertian antarmanusia agar manusia krasan dalam lingkungan sosialnya. Pengertian ini haruslah dilandasi oleh pengetahuan yang obyektif, yang tidak berpangkala pada emosi dan prasangka saja yang justru sering dirasakan sebagai hambatan dalam pemecahan suatu masalah1.


1 (Catatan kaki tidak disertakan teksnya dalam file content yang Anda berikan. Hanya angka ¹ yang muncul. Jika visual asli memiliki teks catatan kaki, mohon sertakan.)

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan