Salah satu dari serentetan tindakan pertama rezim Zia Ul Haq setelah menggulingkan pemerintahan Ali Bhutto adalah memulihkan kebebasan pers Pakistan. Sensor pers dicabut. Namun dalam hari-hari pertama “kebebasan”, para pengasuh suratkabar kebingungan. Dalam dirinya sebenarnya sejak lama telah musnah kriteria tentang apa yang boleh dan tidak boleh disebarluaskan dalam suratkabarnya. Sensor diri selama ini telah begitu kuat tertanam. Tetapi dengan kebebasan yang diberi, para pengasuh terpaksa membiarkan konflik, keraguan serta pilihan-pilihan sulit membayangi dirinya. Dan mereka tidak tahu lagi mau diapakan kebebasannya.
Peristiwa 15 Januari 1974 sampai sekarang masih merupakan tonggak terakhir bagi aksi mahasiswa yang lepas bebas. Setelah itu buat jangka waktu hampir selama dua tahun yang ada adalah kesepian politik mahasiswa. Sebuah surat keputusan menteri pendidikan yang lebih terkenal dengan SK 028 telah melarang kegiatan mahasiswa di luar kampus universitas. Semua kegiatan di luar kampus harus sepengetahuan dan seizin rektor universitas atau perguruan tinggi masing-masing. Akhirnya surat keputusan tersebut dicabut kembali oleh sebuah surat keputusan yang lain.
Kaskopkamtib mengumumkan bahwa mahasiswa boleh berbuat apa saja asal tetap terbatas di dalam dinding-dinding kampusnya. Adakah pengaruhnya bagi penerbitan mahasiswa? Studi kasus ini mencoba mengamati apa arti semuanya bagi penerbitan mahasiswa atau dunia penerbitan kampus.
Penerbitan kampus
Tidak terlalu jelas sejak kapan bertumbuhnya pers kampus di Indonesia. Tapi satu hal cukup pasti yaitu bahwa dia hadir hampir dalam setiap universitas atau perguruan tinggi. Menyoroti pers kampus tentu saja kita akan memperbincangkan semua media massa yang diterbitkan di dalam sebuah kampus universitas atau perguruan tinggi, terlepas dari apapun bentuk, isi serta tujuan penerbitan masing-masing. Apakah dia diterbitkan untuk dosen atau mahasiswa. Apakah dia menjadi media resmi sebuah universitas atau perguruan tinggi atau bukan. Sebuah pengamatan sederhana segera membedakan 2 jenis penerbitan yang kini berkembang di kampus-kampus universitas atau perguruan tinggi. Jenis penerbitan yang pertama adalah penerbitan khusus. Di sana dimuat materi-materi khusus. Biasanya pembahasan-pembahasannya adalah konsumsi para spesialis. Di sana dimuat uraian serta analisa masalah-masalah khusus. Dalam hubungan ini bisa ditampilkan beberapa nama: Aesculapius, majalah kedokteran Universitas Indonesia Jakarta, Equilibrium, majalah ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Sigma Pi Gama, majalah ilmu-ilmu sosial dan politik Fakultas Sosial dan Politik UGM, Scientiae, majalah sains dan tekhnology (sic). Sudah pasti masih ada sederetan nama-nama lain lagi. Spesialisasi penerbitan-penerbitan seperti ini sudah sangat jelas melihat namanya saja. Orang-orang awam hampir tidak lagi memahami apa makna nama-nama tersebut. Nama-namanya aneh, semuanya dalam bahasa asing, Latin dan Yunani. Semuanya memberikan konotasi teknis dari bidang ilmunya masing-masing. Bukan saja bahasanya yang asing tetapi isinya juga kadang-kadang asing bagi mereka yang berada di luar lingkungannya. Tetapi tulisan ini tidak membahasnya secara terperinci.