Prisma

Analisa Lokasi untuk Perencanaan Pusat-pusat Pelayanan

Pendahuluan

Ada dua tujuan yang hendak dicapai melalui tulisan ini. Pertama, kami hendak memperkenalkan suatu metode baru untuk analisa lokasi di Indonesia. Untuk ini, kami akan menggunakan ilustrasi-ilustrasi empiris dari penggunaan metode tersebut dalam merencanakan pusat-pusat pelayanan. Kedua, lebih luas lagi, kami akan menyajikan metode-metode ini dalam konteks dari apa yang akan kami sebut sebagai Perencanaan Garis Besar Pusat Pelayanan (untuk selanjutnya disingkat PGBPP). Kami menyarankan PGBPP ini sebagai langkah pertama dalam mempersiapkan rencana-rencana daerah untuk tingkat propinsi dan tingkat-tingkat yang lebih rendah yang dapat dilaksanakan secara cepat dan murah oleh Bappeda dan badan-badan lainnya yang berurusan dengan perencanaan pembangunan daerah. Cara pendekatan dalam tulisan ini diawali dengan mengemukakan pandangan kami mengenai berbagai persoalan definisi. Apa yang dimaksud dengan daerah? Apa maksudnya perencanaan pembangunan daerah? Apakah pusat pelayanan itu dan apa pula Perencanaan Garis Besar Pusat Pelayanan? Apakah peranan analisa lokasi? Pertanyaan-pertanyaan ini memberikan arah bagi suatu ulasan mengenai latarbelakang konsepsi dari pokok permasalahan yang akan dibahas dalam tulisan ini. Kemudian, tulisan ini akan memperkenalkan suatu metode yang baru dan ampuh untuk analisa lokasi dalam PGBPP yang akan kami sebut sebagai Alloc Agraria. Selanjutnya, akan kami sajikan beberapa ilustrasi, Alloc Agraria di Bali, lalu membahas penerapan lanjutan yang mungkin dapat dilakukan dan meninjau kekuatan serta keterbatasannya. Akhirnya, kami akan kembali kepada beberapa persoalan pokok di sekitar penggunaan metode seperti Alloc Agraria dalam perencanaan pembangunan daerah dan penggunaan perencanaan pembangunan daerah untuk menunjang pembangunan daerah dan nasional.

Daerah dan perencanaan pembangunan daerah

Suatu tinjauan mengenai beberapa literatur dan praktek internasional memperlihatkan bahwa tidak terdapat kesamaan pendapat mengenai definisi daerah dan perencanaan pembangunan daerah. Tidak adanya kesepakatan ini untuk sebagian dapat dijelaskan oleh adanya kenyataan, bahwa pemahaman kita mengenai daerah dan kemampuan kita membuat rencana bagi daerah-daerah berubah dengan sangat cepat. Suatu penjelasan lainnya adalah bahwa daerah-daerah dan perencanaan pembangunan daerah tidak dapat sesuai benar jika dimasukkan ke dalam ruanglingkup profesi atau disiplin ilmu manapun juga. Untuk ini dikehendaki cara pendekatan yang multidisiplin yang selalu menghendaki kerangka referensi khusus dari masing-masing penyelidik, seseorang yang biasanya melakukan penyimpangan terhadap suatu disiplin tertentu.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan