Pada kulit muka buku Paul Ehrlich, The Population Bomb (1973), ditulis kalimat berikut dengan huruf merah: “Pada waktu anda membaca kalimat-kalimat ini empat orang mati karena kelaparan, kebanyakan dari mereka itu anak-anak–dan duapuluh empat bayi lagi telah lahir.” Gambar seorang anak yang menarik terpancang di bawah kalimat itu. Tapi sedihnya dia berada dalam sebuah bom bundar yang sumbunya sudah mulai terbakar. Kebinasaan anak yang manis dan tersenyum tersebut hanya soal waktu. Mungkin juga maksudnya peledakan dunia karena anak-anak terlalu banyak lahir. Kini sudah diinsyafi oleh perencana sosial dan ekonomi betapa pentingnya usaha pembatasan jumlah kelahiran, pembatasan jumlah anak, untuk kesejahteraan keluarga dan bangsa. Pertambahan penduduk yang tidak terkendalikan membawa konsekwensi-konsekwensi yang luas.
Tetapi bagaimanakah persepsi orang tua terhadap anak-anak mereka? Apakah tambahan anak ditafsirkan sebagai bencana yang membawa duka nestapa kepada keluarga dan bangsa? Mungkin tidak sedikit di antara mereka yang berfikir: jika semut memiliki rezeki, masakan anak saya yang mempunyai roh lahir tanpa rezeki. Atau karena yang lahir itu anak laki-laki, kelahirannya malah lebih menggembirakan pula dari kelahiran-kelahiran sebelumnya. Akhirnya, yang tidak kurang pentingnya adalah masalah anak-anak tersebut ditinjau dari sudut mereka. Perlakuan terhadap mereka, suka-duka, kecemasan dan frustrasi mereka belum begitu dimengerti. Hak-hak mereka tidak banyak dipikirkan orang dewasa dan persepsi mereka tentang orangtua mereka tidak kita ketahui.
Karangan pendek ini tidak mungkin mengupas secara luas berbagai permasalahan itu. Di sini akan dibicarakan beberapa masalah yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan anak, nilai-nilai anak dari sudut orangtua dan selintas tentang beberapa masalah dalam kehidupan anak.
Persoalan mereka
Tentang dunia kanak-kanak ada semacam gambaran kasar dan dangkal pada kita, gambaran yang molek. Mereka adalah makhluk yang dicintai, disayangi, manis, kocak dan tidak berdosa. Orang dewasa dan orangtua menguatkan pikiran tersebut dengan melekatkan nostalgia mereka pada masa kanak-kanak. Seolah itu suatu dunia tanpa duka yang sudah lama hilang. Kenaifan pada zaman itu dikenang sebagai sesuatu yang menarik dan semua kesalahan dan kealpaan sudah dimaafkan. Yang tersisa adalah kenangan indah untuk dibawa mati. Apakah dunia tersebut tidak terlalu diromantisir? Apakah tidak banyak anak hidup dalam kekhawatiran dan ketakutan karena perlakuan yang tidak wajar dari orang dewasa, terkadang oleh orangtuanya sendiri? Mungkin banyak, tapi kecemasan mereka tidak mendapat tanggapan yang wajar. Kalau dikotomi sering dicetuskan di mana wanita digolongkan pada lapisan yang lemah, yang hak-haknya perlu mendapat perbaikan, umumnya dilupakan bahwa anak-anak adalah golongan yang paling lemah. Wanita dalam posisi melahirkan pejuang-pejuang untuk memperjuangkan hak-hak dan keinginan mereka. Apa lagi pemuda. Karena secara politis mereka digolongkan pada usia rawan, suara mereka didengarkan. Bukankah perjuangan mereka dapat membawa kegocangan-kegocangan politik yang menentukan? Tetapi anak-anak sebagai kelompok tidak memiliki pejuang. Kalau sebagian dari mereka tergolong usia rawan, maka pandangan itu melulu dari sudut kesehatan dan gizi, bukanlah sesuatu yang lebih mendalam dari itu. Masalah status anak umumnya kurang mendapat perhatian.