Prisma

Kebutuhan Pokok Anak yang Terlupakan

Pendahuluan

Anak-anak merupakan generasi mendatang. Karenanya mereka harus mendapat perlindungan agar tidak terkena berbagai penyakit atau mengalami kondisi kesehatan yang dapat mengakibatkan cacat tubuh ataupun cacat mental. Tetapi selain perlindungan, anak-anak juga perlu dipersiapkan untuk menjadi orang yang dapat aktif bekerja dan hidup berguna bagi diri sendiri maupun sebagai anggota masyarakat.

Selayaknya lah anak-anak memperoleh perhatian yang sesuai dengan kebutuhannya, dan bahwa bagi mereka disediakan berbagai fasilitas pembinaan dan pendidikan yang memungkinkan mereka berkembang dan membentuk kepribadian yang sehat jasmaniah dan rohaniah.

Di dalam buku Repelita II tercantum bahwa:

… berbagai program di bidang pembangunan pendidikan dan pembinaan generasi muda disusun guna memenuhi berbagai keperluan pokok dari generasi muda sesuai dengan tahap-tahap perkembangan jiwa dan kecerdasan serta pertumbuhan fisiknya.1

Selanjutnya ditulis bahwa:

Khususnya bagi yang berusia masih sangat muda pembangunan di bidang kesehatan sangat berarti. … bagi yang memasuki usia sekolah maka pembangunan di bidang pendidikan sepenuhnya ditujukan bagi memenuhi keperluan dan intelektuil generasi muda.2

Apa yang tertulis dalam buku Repelita II memberikan gambaran bahwa kebutuhan pokok anak “balita” (di bawah lima tahun), sebelum anak berumur 6 atau 7 tahun, dipersepsikan sebagai terutama meliputi kesehatan fisiknya. Sedangkan perkembangan psikis, anak dianggap mulai perlu diperhatikan sepenuhnya sewaktu mereka memasuki usia sekolah. Ditinjau dari segi psikologis sikap semacam ini dapat merugikan perkembangan mental si anak di kemudian hari. Kadang-kadang malahan dapat terjadi keterbelakangan perkembangan mental yang tidak dapat lagi dikoreksi kemudian.

Memang tidak perlu diperdebatkan lagi, bahwa kesehatan fisik anak balita memerlukan perhatian yang serius terutama bila kita ingat bahwa 80% dari anak balita di daerah pedesaan mengalami kekurangan gizi.3 Juga bukan rahasia lagi bahwa kekurangan gizi pada anak balita dapat mengakibatkan gangguan dalam pertumbuhan fisiknya maupun dalam perkembangan psikisnya.

Karenanya, menghapuskan kekurangan gizi pada anak balita jelas merupakan suatu keharusan agar dapat diharapkan bahwa anak-anak kita bisa tumbuh menjadi tunas-tunas bangsa yang sehat fisik dan psikis, sesuai dengan kebutuhan pembangunan. Namun agar anak-anak dapat tumbuh menjadi tunas-tunas bangsa yang sehat fisik dan psikis, tidaklah cukup bila pada anak balita yang diperhatikan hanyalah kebutuhan pokok di bidang kesehatan. Karena anak-anak baru dapat berkembang menjadi pribadi yang sehat fisik dan psikis, bila mereka sejak usia yang sangat muda dan sesuai dengan tahap perkembangannya diberi rangsangan-rangsangan yang bertujuan mengembangkan aspek psikisnya. Dengan lain perkataan merangsang perkembangan psikis, si anak sejak umur balita merupakan kebutuhan pokok yang sama pentingnya dan tidak boleh dilupakan bila kita menginginkan mereka tumbuh menjadi tunas-tunas bangsa yang sesuai dengan tujuan pembangunan.


1 Departemen Penerangan, “Pendidikan dan Pengembangan Generasi Muda”, Repelita II, Buku III, hal. 144.

2 Ibid., hal. 145.

3 Dikemukakan oleh Menteri Sosial Mintaredja di Bandung, Kompas, 28 Oktober 1977.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan