
Lawrence J. Putih. Konsentrasi Industri dan Kekuatan Ekonomi di Pakistan. Princeton, New Jersey: Princeton University Press, 1974.
Kadang-kadang terpikir juga oleh kita yang hidup dan bekerja di Dunia Ketiga ini, apalagi sesudah melihat berbagai kesulitan dalam pertumbuhan ekonomi di negara masing-masing: mengapa kita menempuh proses industrialisasi dalam usaha membangun perekonomian, di muka kenyataan yang terpampang jelas bahwa sektor pertanianlah yang paling butuh pembangunan? Lebih alamiah, sebetulnya, dan sesuai pula dengan factor proportion serta national economic endowment mereka, bila sebagian besar negara Dunia Ketiga memulai usaha pembangunan justru dari sektor pertanian. Sektor ini menghiduplah sebagian besar penduduk, yang meliputi masyarakat desa yang merupakan basis, bukan saja daripada sistem ekonomi, politik, sosial, tapi juga—seperti yang ditunjukkan oleh pengalaman kita waktu revolusi—sistem pertahanan. Di Indonesia sejarah cukup menunjukkan, betapa Belanda mulai dari praktek VOC hingga ke Cultuurstelsel dan jauh sesudahnya mendapatkan basis pembangunan negaranya di sektor ini; kemudian Jepang menggunakannya sebagai basis logistik teater perang Pasifik; dan para pedagang Tionghoa Perantauan sudah berabad-abad lamanya memiliki hubungan simbiosis dengan sektor ini.
Belakangan ini para ahli serta peninjau tentang masalah pembangunan serta modernisasi di Dunia Ketiga, lebih mempertajam argumen ini dengan mengemukakan contoh-contoh krisis yang belakangan ini makin tampak berasal pada sektor ini—mulai dari krisis “Revolusi Hijau,” krisis pangan, hingga ke krisis kehidupan lembaga pertanian pada umumnya, termasuk golongan masyarakat petani. Lain kali ini akan kita tinjau lewat kacamata tulisan-tulisan yang terakhir ini bermunculan tentangnya.
Lawrence J. White, seorang ekonom veteran “Harvard Development Advisory Group” di Pakistan di bawah Ayub Khan dan kemudian Pelita I Indonesia, dan penulis buku ini, menunjukkan bahwa industrialisasi di Dunia Ketiga umumnya dikehendaki karena: dalam jangka panjang pertumbuhan di sektor agraria akan membebaskan berbagai faktor produksi, yang sebagai akibatnya harus diserap oleh sektor ekonomi lainnya. Sektor industri manufaktur merupakan calon kuat untuk itu.